Waspadai Rekayasa Bertemu Lailatul Qadar

CLICKBORNEO.COM- Mulai sekarang masyarakat harus kritis menanggapi kalau ada orang yang mengaku dirinya bertemu Lailatul Qadar. Soalnya boleh jadi itu sekadar akal-akalan atau rekayasa dia, supaya namanya cepat populer dan kaya mendadak. 

lailatul-qadar

Apalagi, soal betul atau tidaknya seseorang mengalami peristiwa sakral itu sulit untuk dilacak, semua terpulang pada keyakinan masing-masing individu yang menerima kabar tersebut.

Dari pengalaman beberapa tahun terakhir  lalu, setiap mendengar seseorang bertemu Lailatul Qadar masyarakat Kalimantan spontan berduyun-duyun datang ingin melihatnya. Mereka ramai-ramai membawa air botol minta didoakan sambil menyelipkan amplop.

Anehnya lagi, heboh Lailatul Qadar ini hanya terjadi di Kalsel, hampir rutin setiap tahun, sedangkan di daerah lain jarang terdengar. Bahkan, di belahan negara lain seperti Timur Tengah, tidak pernah diekspos. Sisi mudharatnya, apapun benda yang berhubungan dengan orang yang katanya dapat Lailatul Qadar itu, tiba-tiba dikeramatkan oleh warga.

Berdasarkan pemantauan penulis pada waktu Ulak Awan digegerkan bertemu Lailatul Qadar, kayu dinding gubuknya habis dicopoti pengunjung. Banyak yang memperebutkannya untuk dijadikan syarat penglaris dagang. Bahkan ada yang bilang, atap rumbia gubuk itu kalau diasahkan ke lidah, maka orang itu akan cepat fasih membaca Alquran. Begitu pula sumur tempat biasanya Ulak Awan menimba air dikeramatkan, pengunjung antri mencuci muka di situ, juga ada yang memandikan anaknya supaya tidak rewel lagi. Sekadar kilas balik, berikut contoh mereka yang katanya pernah mendapat Lailatul Qadar.

Tahun 1990 tersiar kabar, Aminuddin, pemuda berusia 14 tahun bertemu Lailatul Qadar. Awalnya dia bercerita kepada ayahnya bahwa suatu malam ketika ia ingin mengambil air wudhu di sungai dalam penglihatannya  mendadak langit terbuka, mengeluarkan cahaya benderang. Diiringi gemuruh takbir, tasbih dan tahmiz. Air sungai yang tadinya mengalir mendadak berhenti. Pohon‑pohon pun sujud merunduk.

Bahkan menurut Aminuddin, ia sempat berdialog dengan sosok berjubah putih yang berbau sangat harum. Saat itu sosok tersebut hendak bersujud kepadanya, namun segera dice­gahnya.

Mendengar penuturan anaknya itu, ayah Aminuddin lalu menghadap Ketua MUI HSU waktu itu, KH DJanawi. Dari situlah kemudian cerita berkembang luas, hingga masyarakat dari berbagai penjuru berdatangan.

Sampai kini pun Aminuddin sering melayani tamu yang  membawa air dalam botol untuk minta didoakan kepadanya, sesuai hajat mereka. Bahkan hampir setiap bulan ia diundang ke Kaltim.

Dari sumber yang kami himpun, kadang Aminuddin oleh segelintir pemuda yang mengajaknya ke Balikpapan dibawa masuk Bingo untuk menebak angka yang bakal keluar. Dan, Aminuddin yang dasar pembawanya polos, katanya, tidak menolak.

Berikutnya adalah Darmawan (60) warga Desa Sungai Durian Cempaka Putih RT 6 No 40, Kecamatan Banua Lawas, Tabalong.

Pria tunanetra yang akrab dipanggil Ulak Awan ini dikabarkan bertemu Lailatul Qadar pada malam ke 23 Ramadhan. Konon setelah mengerjakan shalat tobat, ia sempat tertidur di atas sajadah. Lima belas menit berikut seolah ada tangan gaib yang menuntun wajahnya untuk tengadah. Saat itulah ia melihat di sekelilingnya terang-benderang.

Ia lalu beranjak mengambil air wudhu untuk beriba­dah, saat itulah ia mendengar langkah‑langkah banyak orang mengikutinya. Bahkan ia kemudian diminta mengimami shalat Tasbih. Setiap selesai melakukan rangkaian shalat itulah ia mendengar suara gemuruh orang membaca tasbih.

Ulak Awan  sendiri tidak tahu siapa yang menjadi makmum dalam shalat berjamaah tersebut. Namun saat bersalaman dirasakannya tangan mereka amat halus, seperti tepung. Konon kemudian, mereka ini ditengarai adalah malaikat yang turun ke bumi bersamaan dengan turunnya Lailatul Qadar.

Cerita ini dituturkan Ulak Awan kepada sepupunya Milawati, kemudian bersambung ke H Asyikin, seorang pengusaha asal Tabalong. Hari pertama Idul Fitri itu juga Asyikin beserta rombongan mengunjungi Ulak Awan. Dan, malam berikutnya disusul rombongan dari Banua Rantau. Melihat banyaknya orang yang berkunjung, karuan saja warga sekitar jadi bertanya‑tanya. Hingga kemudian cerita Ulak Awan memperoleh Lailatul Qadar tersebut menyebar luas dari mulut ke mulut.

Belakangan setelah hampir setahun kejadian itu, berdasarkan informasi yang dituturkan para tetangganya, Ulak Awan sempat tidak mau bertegur-sapa dengan bibi yang lama memeliharanya, karena khawatir uang hasil pemberian warga ditilep. Bahkan, sikap Ulak Awan mulai berubah. Dia yang semula rajin shalat berjamaah di langgar, kemudian lebih suka shalat sendiri di rumah. (ali)

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*