Urang Banjar Mangangarun

Oleh: Ahmad Barjie B

CLICKBORNEO.COM – Bi Inah tinggal di sebuah kampung di hulu sungai. Pekerjaannya sebagai petani dan penyadap karet. Kali ini Bu Inah harus menyisakan uang perolehannya menyadap karet. Ia menabung untuk bekal berlabuh ke daerah Banjar, sebagai pengambil upah memanen padi. Urang Banjar biasa menyebutnya ”mangangarun”.

panen padi

Ini merupakan pekerjaan rutinnya setiap tahun, sejak janda dengan dua anak ini ditinggal suaminya, yang menceraikannya secara tidak resmi. Dalam arti tidak lagi memberikan nafkah lahir dan batin, namun tidak pula memastikannya dengan sebuah surat talak.

 Terpaksalah Bi Inah menguras keringatnya tiap hari untuk menghidupi kedua anaknya. Sebab orang tua tempatnya bergantung tidak pula bisa membantunya. Memasuki usia senja mereka lebih banyak bersiap untuk mati. Sebagai janda kembang yang memiliki paras lumayan, sebenarnya Bi Inah masih laku, tak terlalu sukar mencari suami. Tetapi ia sudah memilih pasrah. Ia tak mau membebani suami baru dengan kedua anaknya itu. Sebab itulah ia lebih memilih hidup sendiri dan mandiri. Apa yang dikira wajar dan halal ia kerjakan untuk  memperoleh uang. Masa remajanya sebagai kembang desa yang dipingit dan dimanja sudah hampir ia lupakan. Ia kini lebih realistis dalam menatap hidup.

   Untuk menemaninya, Bi Inah mengajak keluarganya Amat, seorang pemuda tanggung yang tinggal bersebelahan dengan desanya. Amat patuh saja dengan ajakan bibinya itu. Sebab tinggal di kampung juga tidak ada  kerjaan pasti. Musim panen di kampung sudah lama lewat dan musim tanam pun belum tiba.

   Sebenarnya si Amat sudah menjual tiga ekor ayam jantan kesayangannya untuk biaya labuh kali ini. Namun karena beberapa kali niat labuh tertunda, karena mobil taksi yang selalu penuh, maka uang itu pun hampir separoh terpakai. Di tengah pikirannya yang gamang, ia sempatkan pula membeli kupon SDSB beberapa lembar. Nyaris habislah uangnya  jadinya. Sekali lagi ia harus menjual si manuk, ayam betina kepunyaan adiknya yang lagi menggeram. Telur eramannya dipindahkan ke ayam lain.

Selebihnya Amat minta  uang dengan ayahnya, sisa berjualan pisang yang sejak beberapa tahun terakhir ini tak kunjung naik-naik harganya, karena harus dijual lewat perantara (pembelantik). Akhirnya, biaya untuk berlabuh ke ”Banjar” terpenuhi.

Ketika sampai di tempat tujuan uang itu pun ludes, sebab ia tak lupa makan di Pulau Pinang Binuang, beli dodol dan rempe.  Di dalam perjalanan Bi Inah dan Amat sempat bingung, mengenai tempat tujuan kali ini. Apakah ke Gambut, Jambu Burung, Handil Mangguruh, Paharangan, Bunipah, Simpang Pipih, Anjir, Tamban atau Balawang. Sebab di semua tempat tersebut mereka punya kenalan, maklum setiap tahun mereka pergi ke tempat-tempat tersebut, secara bergiliran.

Tapi akhrinya mereka mantap memilih Gambut, daerah pertanian yang lebih dikenal  dengan sebutan ”Kindai Limpuar”. Pemilihan tempat ini dirasa tepat, sebab padi tahun itu di sini  lumayan baik. Tambahan pula kenalan mereka di sini, ada kaitan keluarga. Jadi lebih leluasa dalam bersikap, sebab masih ada semangat kekeluargaan. Apalagi Bi Inah juga membawa kedua anaknya  yang masih kecil. Sedikit banyaknya tentu merepotkan, dan ini memerlukan toleransi yang tinggi dari tuan rumah. (Baca lanjutannya Mangarun Potret Realitas Urang Banjar)

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*