Trend Memajang Foto Ulama

CLICKBORNEO.COMAdalah kebanggaan tersendiri bagi seseorang kalau bisa akrab dengan ulama tertentu. Kadang untuk membuktikan kede­katan person tersebut ditunjukkan dengan foto bersama dengan ulama dimaksud; kemudian dipajang di ruang tamu supaya disorot banyak orang.

Foto Ulama

Namun, tidak setiap orang punya kesempatan berpose bareng dengan ulama. Atau bisa jadi ulama yang dikaguminya itu hidup di zaman yang berbeda.

Sebagai alternatif, sekarang ini di pasaran banyak beredar foto‑foto ulama ternama seperti: Imam Ghazali, Syekh Abdul Qadir Jailani, Syekh Samman Madani, Sayidina Ali Bin Abi Thalib, Wali Songo, Syekh Arsyad Al‑Banjari, KH. Zaini Abdul Ghani (Guru Sekumpul), dll.

Malah ada poster yang khusus menghimpun 140 ulama dari berbagai kurun waktu dan wilayah. Dalam poster tersebut memuat 3 ulama asal Kalsel, yakni Syekh Arsyad al‑Banjari (urutan 10), Habib Abdurrahman al‑Habsy, dan KH. Zaini Ghani (urutan 135).

Berdasarkan pengakuan Husin pemilik percetakan figura “Herlina” di Gang Penatu, minimal 10 lembar laku setiap harinya. Harganya pun terjangkau oleh kantong semua lapisan masyarakat.

Seperti yang dijanjikan Allah SWT, ulama sebagai pe­waris risalah Nabi, akan selalu menjadi panutan dan dicintai umatnya sepanjang masa. Meski ulama tersebut telah wafat, tapi sosoknya akan senantiasa dikenang. Hal ini, dibuktikan dengan besarnya minat masyarakat muslim untuk memajang potret ulama‑ulama di ruang tamu rumah mereka, kendati motivasi yang melatarbelakangi bisa berbeda‑berbeda.

Amir, warga Ratu Juleha Gang IX mengaku memasang potret beberapa ulama sejak pertama kali (1998) menempati rumahnya. Dengan harapan rumah‑tangganya menjadi rukun dan tentram.

Sebagaimana diyakini para tetuha tempo dulu, ungkap Amir, bahwa setiap rumah itu mengandung aura tertentu yang dapat mempengaruhi emosi para penghuninya. Kadang, keluarga yang tadinya adem‑ayem tapi begitu menempati rumah baru mereka jadi mudah brangasan dan sering cekcok.

“Untuk menghindari suasana kisruh dalam rumah tangga kita dianjurkan untuk membentengi diri dengan membiasakan tadarus Alquran. Juga agar hawa rumah terasa sejuk di batin, alangkah baiknya dipajang kaligrafi, gambar Baitullah atau foto‑foto ulama. Saya sendiri telah membuktikannya, setiap kali memandangi potret ulama‑ulama yang saya pasang di dinding, saya memperoleh ketenangan,” aku mantan atlet petinju ini.

“Daripada memasang potret artis‑artis yang cuma jual tampang atau pamer kemolekan tubuh, malaikat malah enggan bertandang ke rumah kita,” ujarnya.

Sedangkan dengan manjanaki potret ulama, sedikit‑banyak, tambahnya, akan mendorong kita untuk mencontoh sikap‑laku keagamaan mereka.

Lain lagi dengan Irwanoor, warga Pangeran ini percaya kalau potret ulama yang dipasang di dalam rumah dapat meno­lak bala seperti kebakaran.

Tapi, menurutnya ada juga yang menyalah‑gunakan potret ulama itu untuk mengecoh masyarakat.

“Saya punya kenalan yang sampai kini buka praktek batatamba dan berlagak seperti orang alim yang kasab. Pada­hal setahu saya shalat Jum’at saja kadang ditinggalkannya. Mungkin karena di dinding rumahnya banyak di pajang foto‑ foto ulama besar, pasiennya jadi percaya begitu saja dan menganggapnya punya kemampuan istemewa,” tutur Irwanoor.

Yang rada unik lagi ialah apa yang dilakukan H. Kasta­lani, warga kuin ini memasang berjejer puluhan potret ulama‑ulama besar, kemudian di urutan terakhir ditaruh potret dirinya yang mengenakan sorban dan selempang sajadah di bahu.

Menurutnya, ini dilakukan semata untuk memotivasi diri sendiri agar ia bisa mencapai maqam seperti para ulama tersebut. Sehingga setiap memandang potret tersebut, ayah dari dua anak ini merasa tergugah buat memperbanyak amal ibadah serta memperbaiki akhlak.

“Bukan sekadar menjadi hiasan semata. Citra atau imej Islami dari pemasangan potret ulama‑ulama itu hendaknya ditindak‑lanjuti dengan perbaikan perilaku dari si pemilik rumah, ” imbuhnya.[]

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*