Tradisi Mahambur Beras Kuning

CLICKBORNEO.COM – Sudah menjadi pemandangan lazim, bahwa hampir di setiap acara perkawinan masyarakat Banjar disertai dengan mahambur beras kuning. Terutama pada waktu baantar jujuran atau ketika mempelai laki‑laki tiba di depan rumah mempelai perempuan, biasanya disambut dengan taburan beras kuning dan diiringi pembacaan shalawat.

Tebar Beras Kuning

Beras yang sudah diberi warna kuning dengan kunyit itu juga disertai uang recehan. Alhasil, warga yang mengikuti acara tersebut pun beramai‑ramai memperebutkan uang ricihan tersebut. Sebagian kemudian ada yang menjadikannya sebagai pipikat penglaris dagang, dan ada pula yang meyakini kalau menyimpan uang yang didapat dari bahambur baras kuning itu maka jodohnya akan enteng, tidak berapa lama akan menyu­sul naik pelaminan.

Noorsehat, seorang mubalighah yang juga sering diper­caya warga sekitarnya untuk mewakili baantar jujuran, menga­kui kalau tradisi ini masih cukup kental di masyarakat Banjar. Diperkirakan sekitar 90 persen masih memakai kebia­saan warisan leluhur tempo dulu ini. Beras kuning itu, tam­bahnya, bukan cuma dihambur, tapi juga ditaruh di sekeliling pelaminan. Jika acara baantar jujuran selesai, langsung diperebutkan untuk dibuat sebagai bahan bedak.

“Menurut kepercayaan masyarakat Banjar, dengan mahambur baras kuning diharapkan kehidupan kedua mempelai kelak senantiasa dikarunia berkah, murah rejeki dan mau membagi‑ bagikannya kepada orang‑orang di sekitar,” jelas Noorsehat.

Namun, ia pribadi mengaku hal itu sebenarnya tidak perlu, apalagi kalau sampai mahambur beras kuning itu dengan porsi yang banyak, sampai berliter‑liter. Sangat terkesan mubazir.

Karena itu ia sering memberi pengertian kepada masyara­kat, kalau kebiasaan mahambur beras kuning itu ditinggalkan, tidaklah mengapa. Bahkan ia mengusulkan supaya diganti dengan daun pudak, bukan beras yang sangat diperlukan oleh setiap orang.

Dan sekarang, menurut Noorsehat, sudah ada yang meng­gantinya dengan bahan lain, yakni dengan butiran‑butiran gabus yang berwarna‑warni.

 “Bahkan setahu saya banyak masyarakat yang menghambur beras kuning dalam acara perkawinan itu sama sekali nggak ngerti maknanya. Mereka sekadar mengikuti tradisi turun‑ temurun,” tandas Noorsehat.

Ternyata, kebiasaan mahambur beras kuning ini bukan cuma bagian dari prosesi dalam rangkaian acara perkawinan, tapi juga sering digunakan menyambut tamu‑tamu yang datang, yang dianggap dihormati atau dituakan.

Malah, di daerah‑daerah Hulu Sungai, pada waktu mau mengantar atau menyambut orang datang berhaji, biasanya diiringi dengan mahambur beras kuning yang disertai mengu­mandangkan shalawat.

H. Syamsiar Seman, budayawan Kalsel, menjelaskan bahwa tradisi mahambur beras kuning ini sudah ada ratusan tahun silam, sebelum datangnya Islam. Sesudah Islam menjadi agama anutan masyarakat, barulah mahambur beras kuning itu dicam­pur dengan shalawat. Yang dimaksudkan sebagai restu atau doa.

 “Islam menerima budaya ini sepanjang tidak mengganggu aqidah. Kalau pun ditinggalkan, juga tak apa. Dan mengapa digunakan beras kuning, bukan warna lain, karena sesuai kepercayaan masyarakat Banjar, kuning itu mengandung penger­tian mulia,” jelas Syamsiar Seman. []

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*