Tradisi Lelaki Minang Tidur di Surau

CLICKBORNEO.COM – Sumatera Barat, khususnya Minangkabau, sering dijuluki sebagai daerah “sejuta masjid”. Bahkan di sana sejak dulu berkembang tradisi pendidikan surau. Surau menjadi tempat sentral bagi anak laki-laki untuk menuntut ilmu agama, sosial dan adat. Maka, tak heran bagi masyarakat Minangkabau jika surau dianggap sebagai rumah kedua. 

Surau

Bagi anak laki-laki menjelang usia puber, pantang tidur di rumah orangtuanya. Mereka setiap sore hari pergi ke surau untuk shalat berjamaah, mengaji Alquran, mempelajari adat-istiadat setempat, kadang diselingi pula dengan belajar pencak silat.  Figur seorang guru ngaji betul‑betul menjadi panutan yang sangat disegani, seolah layaknya orangtua sendiri.

Fungsi surau dalam masyarakat Minangkabau, memadukan dua hal yakni adat dan agama, yang dikenal dengan semboyan adat basandi syara’ (agama), syara’ basandi kitabullah.

“Memang anak laki-laki tidak diwajibkan bermalam di surau, tapi menurut tradisi Minang kebanyakan mereka akan malu jika tinggal bersama orangtua. Kalau tidak menginap di surau akan diolok-olok belum jantan dan tidak berani mandiri,” papar Hj. Nurhasni.

Selama tinggal di surau, tambahnya, anak laki-laki selain dididik berbagai ilmu agama mereka sejak usia dini diajarkan secara langsung bagaimana bermasyarakat. Juga dilatih berani berbicara dalam sebuah diskusi.

“Dengan tinggal di surau anak laki-laki dikondisikan supaya tidak terlalu bergantung pada orangtua. Mereka disuruh berpikir untuk menentukan langkah-langkah masa depannya sendiri,” ungkap wanita kelahiran Desa Sulit Air, Kabupaten Sodok ini.

Bahkan, ayahnya sendiri sampai usia tua tetap tinggal di surau. Karena dulu kakek Nurhasni punya sebuah surau, kemudian diamanahkan kepada ayahnya untuk melanjutkan mengelolanya.

Hal senada diungkapkan Marwan, menurutnya penduduk Minangkabau mayoritas muslim penganut mazhab Syafi’i. Di sana rumah ibadah lebih populer dengan sebutan surau ketimbang mushala.

Karena di Minangkabau garis keturunan menurut garis ibu, otomatis harta pusaka jatuh ke tangan pihak wanita. Lelaki dengan sendirinya tak punya apa‑apa.

Meski garis keturunan menurut ibu dan harta pusaka dimiliki kaum wanita, tapi kendali adat di tangan laki‑laki. sementara, laki‑laki di rumah gadang tidak memiliki posisi.

Maka, tak heran bila surau menjadi rumah kedua bagi lelaki Minang. Dari remaja hingga orangtua, termasuk para duda tidur di surau.

“Rumah bukan milik laki‑laki, jadi wajar mereka memilih surau.” ujarnya.

Surau berfungsi sebagai tempat berdialog antara mamak (paman) dengan kemenakannya. Di surau pula mamak menuturkan dan mengajarkan ilmu adat kepada kemenakan lelakinya.

Dan, wajar jika di surau dilakukan banyak kegiatan. Surau punya andil besar dalam mendidik lelaki Minang bersilat lidah, terutama di dalam menanamkan jiwa demokratis.

Sudah Memudar

Seperti banyak diungkapkan warga keturunan Minang yang kini merantau di Banjarmasin, ternyata tradisi lelaki tinggal di surau tersebut, belakangan ini mulai memudar.

“Tradisi itu memang ada bahari. Tapi, sekarang ini sudah tidak lagi,” ujar pemilik rumah makan padang Taroko di Jl. Kamboja, Banjarmasin Tengah.

Hal senada juga diungkapkan oleh Hj. Nurhasni.  “Sekarang tradisi lelaki menginap di surau itu kayaknya sudah memudar. Salah satu penyebabnya karena para pemudanya tidak banyak tinggal di kampung. Mereka lebih suka meninggalkan Minang, ikut saudara atau pamannya yang sukses di perantauan. Sedangkan zaman dulu masih sedikit yang merantau,” ungkapnya.

Secara pribadi ia cukup menyayangkan bahwa tradisi ini berangsur menghilang. Karena bagi anak lelaki yang menginap di surau itu, tambahnya, sangatlah baik untuk menumbuhkan kecintaan terhadap rumah peribadatan dan menimba ilmu keagamaan. Sejak usia dini mereka dibiasakan memelihara dan membersihkan surau. Juga tolong-menolong dalam pergaulan. (ali)

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*