Tetap Akrab dengan Anak Setelah Bercerai

CLICKBORNEO.COM – Bagaimanapun hubungan darah antara anak dengan orangtuanya tidak bisa dipungkuri. Karena itu, meski bercerai pihak manapun tidak boleh menghalang-halangi keakraban mereka.

cerai   Walau agama setengah melarang dan memvonis perceraian sebagai perbuatan yang dibenci Allah, menurut Ahmad Barjie, ada kalanya keputusan tersebut merupakan jalan keluar dari masalah yang dihadapi suami-isteri. Kalau tidak bercerai barangkali masalah yang membelit akan semakin parah, sehingga membahayakan fisik dan mental pasangan itu.

“Yang penting, soal pengasuhan anak tidak terabaikan setelah perceraian,” tegas Barjie.

Hukum Islam, lanjutnya, mengatur masalah ini secara khusus dalam subbab hadhanah atau pengasuhan anak kecil yang orangtuanya bercerai.

Islam mengatur anak yang masih kecil (mumayyiz) itu jadi kewajiban ibu untuk mengasuhnya selama ibu tersebut belum kawin dengan pria lain. Apabila si ibu kawin lagi, maka hak asuh beralih kepada neneknya (orangtua ibu) atau keluarga dekat lain yang layak dan sangguh mengasuh anak.

Artinya, orang tersebut beragama Islam, berakal, berbudi pekerti yang baik, dan kasih sayang pada anak. Sedangkan biaya pengasuhan tetap jadi tanggung jawab si ayah sesuai kemampuan.

“Pada dasarnya siapapun yang mengasuh, ibu atau ayahnya bebas menemui, tidak boleh dihalang-halangi atau dipersulit, baik sekadar bertamu untuk melampiaskan rindu dan kasih sayang maupun memberi uang nafkah,” imbuh pemerhati masalah sosial keagamaan ini.

Dengan begitu,  hubungan baik antara anak dengan kedua orangtuanya tidak terganggu. Pihak ketiga sama sekali tidak boleh membujuk dan memprovokasi anak agar membenci atau menjauhi salah satu dari orangtuanya. Sebab, hal itu akan berdampak negatif terhadap anak maupun orangtua sendiri.

“Hubungan darah anak dengan orangtua lebih kuat dibanding ikatan perkawinan antara ayah dan ibunya,” kata Barjie.

Kesalahan yang sering terjadi, sambungnya, begitu bercerai si ibu menyerahkan anak pada ayahnya agar dia bisa bebas untuk bekerja atau kawin lagi. Sebaliknya, ada pula ayah yang begitu bercerai tidak tahu-menahu dengan anaknya, sehingga beban si ibu jadi bertambah: mengasuh sekaligus mencari nafkah.

“Semua itu terjadi lantaran tidak tahu hukum agama dicampur dengan dendam untuk membalas sakit hati. Padahal, kedua sikap tersebut tidak baik, karena tanpa disadari telah mengorbankan anak,” kritiknya.

Karena itu, komunikasi antara orangtua yang bercerai seyogianya tetap terjalin, baik ketemu langsung maupun lewat telpon. Salah satu pihak harus percaya anaknya diasuh oleh pasangan yang telah dicerai.

“Setelah anak dewasa baru diberi tawaran, apakah tetap bersama ibunya atau ikut ayahnya. Salah satu pihak tidak boleh melarang atau menghalangi pilihan anaknya, walaupun sangat sayang dan tak ingin berpisah,” imbuhnya. (ali)

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*