Teater Perang Banjar Ar-Rumi Bergaya Komedi

OLYMPUS DIGITAL CAMERACLICKBORNEO.COM – Sangat menghibur. Begitulah kesan suguhan gaya peperangan di zaman komunis Belanda yang ingin merebut tanah Borneo dibalut kejenakaan para aktor Sanggar Ar-Rumi STAI Darussalam Martapura, Kamis, (13/9), di Aula Kampus STAI Darussalam, kemarin malam.

Teater komedi yang berjudul Haram Manyarah Waja Sampai Ka Puting tersebut sebagai penampilan penutup Masa Orientasi Mahasiswa Baru (Moestawa) tahun 2013 STAI Darussalam.

Teater Komedi tersebut menceritakan perjuangan masyarakat pribumi Banjar yang berperang melawan Komunis Belanda demi kemerdekaan. Dengan peralatan seadaanya tak secanggih komunis Belanda. Namun dengan taktit cerdik dari masyarakat Banjar, seorang Jendral Gerilyawan dari prajurit menyamar sebagai jongos melayani Menir demi membaca taktik musuh yang akan menyerang.

OLYMPUS DIGITAL CAMERANamun ternyata ada kesalahpahaman ketika Markidah –diperankan oleh Amy-ditangkap dijadikan sebagai tawanan, yang tak lain adalah putri dari Gubernur Belanda Menir –diperankan Elmonk Rumi- yang tak terkira kecantikannya. Markidah sebenarnya menentang keinginan ayahnya yang menginginkan kuasa atas tanah-tanah warga. Justru Markidah lebih berkeinginan untuk mengenal kebudayaan serta agama yang dianut masyarakat pribumi, yakni Islam. Sampai salah seorang prajurit dari pribumi, Acam Ucin, menunjukkan kebaikan hati, berperangai mulia, lemah lembut dan rela melepaskannya karena alasan ingin mengenal Islam.

Di akhir sesi, pasukan pribumi yang dipimpin seorang prajurit Komandan Bus Amah bin Udin –Diperankan Mihrab An Nabawi- berhasil menerobos markas dengan panduan oleh Jendral Gerilyawan yang juga merupakan ulama di waktu itu. Lantas komplotan kompeni Belanda menyerahkan diri setelah bertarung dengan tampilan jenaka. Mereka dipersilakan bermukim di tanah Banjar dengan syarat menghormati kebudayaan dan memahami tentang Islam.

“Meskipun penjajah telah berhasil kita usir, tapi sesungguhnya masih ada penjajah lainnya, penjajah akhlak, penjajah iman, dan lainnya. Maka dari itu tuntutlah ilmu setinggi mungkin untuk membasmi para penjajah yang ada di hati masing-masing. Haram Manyarah, Waja Sampai Ka Putting,” ujar Jendral Gerilyawan yang diperankan Zevy di akhir pementasan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERASutradara pementasa Haram Manyarah Waja Sampai Ka Putting Rhajudin yang juga ketua Umum Ar-Rumi kepada clickborneo.com menuturkan, keinginan Sanggar Ar-Rumi berteater komedi tak lain untuk menyampaikan nasihat-nasihat dan cerita yang bernilai budaya dengan gaya yang renyah.

“Semua sengaja kita bungkus dengan kelucuan, kejenakaan, dan kekonyolan yang masih dalam batas wajar. Alhamdulillah, penonton, para dosen, dan semua mahasiswa begitu antusias menyaksikan. Kita juga berharap pementasan ini memberikan kesan kepada publik bahwa Islam memang benar diperjuangkan dengan kedamaian yang penuh kasih sayang, bukan karena kekerasan. Dan mudah-mudahan pementasan ini bisa meraih minat bagi para generasi Sanggar Ar-Rumi STAI Darussalam di masa mendatang,” pungkasnya.

 

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*