Tanglong Banjarbaru: Ketika Petasan dan Kembang Api Tak Lagi Indah

CLICKBORNEO.COMTanglong Kota Banjarbaru 2013 baru saja usai. Lautan pengunjung sudah tak lagi di sana, mengombak di lapangan Dr. Murjani. Namun ada jeda dimana pelaksanaan Tanglong Kota Banjarbaru masih selalu dibicarakan dalam beberapa hari terakhir ini. Itu pertanda ada sesuatu yang berkesan di benak mereka. Perkara positif atau negatif, itulah kenyataan yang harus dihadapi Pemko Banjarbaru.

Saya termasuk warga Banjarbaru yang tidak ingin tertinggal menyaksikan eksotisme Banjarbaru di malam hari ketika puluhan mobil penuh hiasan disertai lampu warna-warni, juga alat-alat musik tradisional yang saling berebut aksi dalam acara Tanglong dan Bagarakan Sahur Kota Banjarbaru. Ditambah lagi, saya kira hampir semua pengunjung juga menunggu detik-detik kembang api diluncurkan di puncak gedung balaikota Banjarbaru. Indah sekali melihat kembang api di malam hari, meluncur ke atas sana.

Tapi sayang, keindahan itu tak berlangsung lama ketika para pengunjung tanglong justru menganggap malam itu, menjadi malam peperangan. Kembang api dan petasan mereka arahkan ke pengunjung lain yang juga bermain kembang api dan petasan. Sialnya, para pengunjung lain yang datang untuk tanglong akhirnya terganggu. Kenyamanan mereka terusik. Ada yang berteriak histeris. Ada yang terluka akibat percikan api dan lain-lain.

Meski sulit mencari kaitan antara tanglong dan ramadhan, itu masih bisa ditoleransi. Meski tak ada unsur ibadah sesuai ajaran Islam di dalamnya, paling tidak ada keindahan hasil kreatiafitas manusia yang bisa dinikmati. Bukankah menikmati sebuah keindahan semacam itu juga akan membuat bathin kita merasa nyaman? Namun ketika ada orang-orang yang bersenang-senang di atas penderitaan orang lain dengan cara saling serang kembang api, di malam ramadhan, itu sungguh mengkhawatirkan bagi saya.

Banyak sudah korban akibat petasan setiap kali pelaksanaan tanglong. Seharusnya Pemko Banjarbaru sudah mengambil tindakan agar tanglong berasa sejuk dan nyaman. Bukan saja hanya berharap, tapi juga menyiapkan strategi keamanan di lapangan. Karena bagaimanapun, lambat laun orang akan berpikir, seindah apapun pelaksanaan tanglong, tapi jika ada bahaya besar yang mengancam diri mereka, lebih baik mereka tadarus di masjid, nonton TV, atau tidur sekalian. Jika tidak tahun kemarin, tahun ini, bisa jadi tahun depan, anda, saudara anda, kerabat anda yang akan menjadi korban luka bakar. Entah di mata, kaki, tangan, kepala atau di bagian tubuh lainnya. Semua itu bisa terjadi selama pelaksanaan tanglong masih seperti sekarang ini.

Sulitkah melarang orang untuk menyalakan petasan atau kembang api di areal pelaksanaan tanglong? Jawabnya pastilah sulit. Karena sudah terlanjur adanya pembiaran demi pembiaran. Jika demikian, apakah Tanglong dan Bagarakan Sahur Kota Banjarbaru sebaiknya ditiadakan? Itu keputusan yang terlalu cepat. Pertanyaan sesungguhnya, adakah upaya SKPD terkait, aparat kepolisian, DPRD Kota Banjarbaru dan para petinggi Kota Banjarbaru serius memikirkan masalah keamanan pengunjung yang ingin menikmati suasana tanglong?

Jika soal keselamatan bukan menjadi prioritas, lucu rasanya menjadikan tanglong sebagai event nasional. Saya kira syarat menjadi event nasional yang di sampaikan Ibu Tridiana, Direktur Jenderal Ekonomi Kreatif Kementerian Pariwisata masih kurang lengkap. Harusnya ditambahkan keamanan lingkungan. Bagaimana mungkin mengajak orang untuk berdatangan ke sebuah event yang keamanannya diragukan.

Saya kira tak perlu berpanjang lebar. Saya telah menyiapkan video dokumentasi untuk bisa menjadi bahan evaluasi bersama tentang apa maksud dalam tulisan pendek ini. Selamat menyaksikan! [harie insani putra]

One Response to Tanglong Banjarbaru: Ketika Petasan dan Kembang Api Tak Lagi Indah

  1. Astahfirullah. . .
    Ini yg selalu menghantui sy setiap mau ke acara tanglong. Pertama dan terakhir kalix pergi adlh ketika dgn anak prtama beberapa tahun yg lalu. Sekarang sdh punya 2, tak berani lg pergi, takut anak2 kenapa2.

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*