Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari

CLICKBORNEO.COM – Popularitas Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari memang luar biasa. Pengaruh pemikiran beliau tak hanya diakui di Kalimantan, juga di Negara-negara Asia Tenggara, terutama Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam, Fhilipina, Singapura dan Kamboja. Hal itu terbukti dengan meluasnya pemakaian kitab-kitab beliau, terutama karya monumentalnya Sabilal Muhtadien sangat popular di Semenanjung Melayu.

syekhmuhammadarsyadal-banjaMengingat besarnya jasa beliau dalam pengembangan syiar Islam, wajar bila Mohd Shagir Abdullah menjulukinya “Matahari Islam Nusantara”, sedangkan mantan Menteri Agama RI periode 1962-1967, KH Saefuddin Zuhri menyebutnya “Mercusuar Islam Kalimantan”. Syekh Arsyad adalah ulama pertama yang mendirikan lembaga-lembaga Islam dan memperkenalkan gagasan-gagasan keagamaan baru (mujaddid) di Kalsel yang gaungnya kemudian meluas ke berbagai daerah di Nusantara.

Putra dari pasangan Abdullah dan Aminah ini lahir 19 Maret 1710. Melihat bakat  dan perilakunya yang istimewa, Sultan Tahmidullah tertarik mengajak Muhammad Arsyad tinggal di istana. Waktu itu usianya baru sekitar 7 tahun.  Setelah dewasa ia diberangkatkan ke Mekkah untuk memperdalam ilmu agama. Selama di Mekkah, Syekh Arsyad tinggal di rumah khusus yang dibelikan Sultan, terletak di kampung Samiyyah yang kemudian dikenal sebagai Barhat Banjar.
Di Tanah Haramain, beliau berguru kepada sejumlah ulama terkemuka, di antaranya Syekh Muhammad bin Abdul Karim Samman al-Madani, Syekh Muhammad bin Sulaiman Al-Kurdi,  Syekh Athaillah bin Ahmad al-Misri, Ibrahim bin Muhammad al-Rais al Zamzami al-Makki, dan lain-lain.

Setelah belajar selama kurang lebih 30 tahun di Mekkah dan 5 tahun di Madinah, Syekh Arsyad pun kembali ke banua pada Desember 1772 bersama menantu sekaligus sahabatnya Syekh Abdul Wahab Bugis. Waktu itu yang berkuasa di kerajaan Banjar adalah Pangeran Nata Dilaga bin Sultan Tamjidullah (1761-1787).
Di samping mengajar anak, cucu, dan para muridnya, Syekh Arsyad juga berdakwah ke semua lapisan masyarakat, termasuk kalangan bangsawan dan kerajaan. Beliau memadukan dakwah secara lisan, tindakan nyata, dan tulisan. Karya beliau seperti Sabilal Muhtadien, Kanzul Ma’rifah, Tuhfaturraghibin sampai kini relevan untuk dikaji dan dipelajari.

Di bidang sosial kemasyarakatan Syekh Arsyad membuka perkampungan baru Dalam Pagar, membuat irigasi, dan menata pembangunan perumahan yang berwawasan lingkungan. Di sini beliau membangun surau dan tempat tinggal yang sekaligus berfungsi sebagai madrasah. Hal ini menjadi cikal-bakal lahirnya system pendidikan secara kelembagaan di Kalsel. Dari situlah muncul kader-kader dakwah yang handal.

Sementara di bidang kenegaraan, Syekh Arsyad berhasil mempengaruhi Sultan untuk menerapkan hokum Islam. Maka, timbullah lembaga-lembaga keislaman semacam Mahkamah Syar’iyah yakni Mufti dan Qadhi. Hingga akhirnya Syariat Islam diberlakukan sebagai hukum resmi di masa pemerintahan Sultan Adam al-Watsiq Billah (1825-1857).

Pada usia 105 taHun, tepatnya 13 Oktober 1812 Syekh Arsyad Al-Banjari kembali kehadirat Allah SWT. Untuk mengenang jasa beliau, setiap tahun haulnya diperingati.

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*