Syamsiar Seman

Kecintaan dan keuletan  Syamsiar Seman untuk mengangkat nilai-nilai budaya Banjar yang hampir punah patut dihargai. Apalagi hingga kini jumlah penulis spesialisasi  budaya Banjar relatif masih sedikit, bisa dihitung dengan jari tangan.

Syamsiar Seman Rumah Syamsiar Seman di Jalan Anggrek 2 Kebun Bunga, Banjarmasin, terbilang sederhana. Siapa pun yang berkunjung ke tempat tinggalnya itu bakal melihat sebuah lemari kaca di ruang tamu yang berisi 50-an judul buku karyanya mengenai budaya Banjar.

 “Setiap tahun saya rata-rata membuat satu sampai dua buku terkait budaya Banjar,” kata Drs HM. Syamsiar Seman.

 Karena dedikasinya itu, predikat budayawan Banjar pun melekat pada pria kelahiran Barabai (Hulu Sungai Tengah) 1 April 1936 ini. Bagi mahasiswa, akademisi, peneliti budaya yang berminat hendak mendalami arsitektur, seni ukir, rumah adat, permainan tradisional, cerita rakyat dan makanan khas Banjar, biasanya nama Syamsiar yang jadi rujukan utama.

 Awalnya ia dikenal luas karena menerbitkan dua buku yang khusus membahas rumah adat dan arsitektur Banjar. Kedua buku itu adalah Rumah Adat Banjar terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1982) serta Arsitektur Tradisional Banjar Kalimantan Selatan (2001) yang dibuatnya bersama Ir H Irhamna dari Ikatan Arsitek Kalsel.

 Menurutnya, banyak khasanah kebudayaan Banjar yang terancam punah jika tidak dilestarikan. Apalagi masyarakat Banjar memiliki tradisi lisan yang kuat. Kalau tidak ada yang membukukan semua itu, cepat atau lambat akan hilang

”Saya berusaha menjaga budaya Banjar dengan membuat buku dari tradisi lisan yang diwariskan secara turun-temuran,” ucapnya.

[sws_related_postleft showpost=”4″ title=”PROFIL TOKOH LAINNYA:” bgcolor=”0a59c1″ fontcolor=”ffffff”] [/sws_related_postleft]Untuk cerita rakyat, misalnya, Syamsiar telah menghasilkan lebih dari 12 judul buku. Sedangkan yang terkait dengan pantun dan peribahasa Banjar, ada tiga buku. Selain itu, ia juga membuat beberapa jilid buku Lancar Basa Banjar yang menjadi buku pegangan sekolah dasar di Kalsel. Termasuk, tentang beberapa tokoh semasa Kerajaan Banjar dan saat kemerdekaan, di antaranya Hassan Basry, Bapak Gerilya Kalimantan, yang diterbitkan Lembaga Studi Perjuangan dan Kepahlawanan Kalsel (1999).

Tak heran, jika Syamsiar disebut sebagai penulis lokal yang paling produktif menulis seputar budaya Banjar. Syamsiar sudah menekuni dunia tulis-menulis sejak duduk di bangku kelas II SMP di Barabai, tepatnya tahun 1952. Tulisan-tulisannya tidak hanya dipublikasi di media cetak lokal, juga dimuat di sejumlah suratkabar dan Koran terbitan di Jakarta, Yogyakarta, Bandung, dan Surabaya.

Tahun 1960 ia mulai mengkhususkan diri menulis sejarah dan budaya Banjar. “Karena saya melihat langkanya orang-orang yang mau menulis budaya Banjar, kecuali Anggreini Antemas dan Arthum Artha (alm). Karena itulah saya terpanggil untuk menekuninya demi kemajuan daerah ini,” ujar penerima penghargaan Borneo Award (tahun 2000) ini. []

One Response to Syamsiar Seman

  1. Christian

    Youre so cool! I dont suppose Ive read something like this before. So good to find any individual with some original ideas on this subject. realy thank you for beginning this up. this website is something that is wanted on the web, someone with somewhat originality. useful job for bringing something new to the web!

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*