Syair Gagah untuk Seniman di Banyiur

Oleh: Tajuddin Noor Ganie MPd

CLICKBORNEO.COM – Berkenaan dengan kegiatan Aruh Sastra Kalsel IX Banjarmasin 2012, Agustus lalu diselenggarakan Lomba Tulis Puisi Tingkat Nasional. Keluar sebagai pemenang puisi Aliansyah Jumbawuya berjudul “ Kisah Tak Sudah tentang Juriat yang Setia Menimang Adat”.

tari-topeng-banjar

Aliansyah Jumbawuya (AJ), bukanlah orang baru di jagat sastra Indonesia di Kalsel. Ia sudah mulai dikenal sebagai penulis puisi, cerpen, dan esei sastra sejak 1990-an. Tahun lalu, ia berhasil mengukir prestasi sebagai harapan 1 dalam Lomba Menulis Puisi Aruh Sastra Kalsel VIII Barabai 2011.

AJ lahir di Desa Jumba, Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalsel, 4 Juni 1973. Nama aslinya Aliansyah. Sarjana S.1 Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat di Banjarmasin. Pernah bekerja cukup lama sebagai wartawan Tabloid Serambi UmmaH.

Berikut penggalan puisi yang berjudul Kisah tak Sudah (KTS) tentang Juriat yang Setia Menimang Adat.

Berpaut harapan keselamatan dan kemakmuran/ juriat Panupingan Banyiur menyulam kata sepakat/ selagi Muharam tancap ritual di malam keramat (meruwat kearifan urang bahari, warisan turun-temurun)/ sepiring beras, setangkup gula merah/ sebatok kelapa sekupung mayang/ segulung benang/ plus tapung tawar lengkaplah sudah sarat piduduk di hamparan tikar/ pertanda prosesi sakral segera bermula.

Lapis Bunyi

Lapis bunyi merujuk kepada hasil olah kata yang dilakukan penyair. Kosa-kata yang dipilih untuk menghasilkan lapis bunyi adalah kosa-kata yang sesuai dengan pola persajakan yang sudah ada dalam tradisi penulisan puisi modern di tanah air yakni a/a/a/a, a/a/b/b, a/b/a/b, dan a/b/b/a. Lapis bunyi puisi KTS ini dijalin penyairnya dengan cara menerapkan semua pola persajakan yang ada dalam teori.

Lapis arti puisi KTS di atas dijalin penyairnya dengan memanfaatkan kosa kata Bahasa Indonesia dan Bahasa Banjar yang bersifat denotatis dan konotatis sesuai dengan kepentingan pemaknaan (lapis satuan arti) yang diinginkannya (makna muatan dan makna ikutan).

Di dalam puisi KTS ini ditemukan setidak-tidaknya tiga paduan diksi unik yang digunakan penyairnya untuk menciptakan makna ikutan, yakni pohon kariwaya, angin yang berkesiur-kesiur, dan babarasih tuping (membersihkan topeng)

Pohon kariwaya (beringin) digunakan sebagai lambang sikap pribadi tokoh protogonis dalam puisi ini, yakni para seniman tari topeng (panupingan) yang tetap tegar dan setia menekuni profesinya demi tetap terjaganya eksistensi kesenian topeng di kampung Banyiur, Banjarmasin.

Mereka tetap setia menekuninya tanpa pamrih, meskipun untuk kesetiaannya itu mereka sama sekali tidak memperoleh keuntungan material (finansial) apa-apa.

Penyair menggambarkan mereka sebagai kelompok yang tegar dalam perjuangannya mempertahankan eksistensi topeng Banjar. Ketegaran mereka dipuji penyair sebagai ketegaran yang sama dengan ketegaran sebatang pohon kariwaya tua yang berdiri kokoh di ujung kampung sana.

Ketuaan usia (uzur) tak menghalangi tekadnya untuk tetap setia memperkokoh (mencengkeram akar) keberadaannya (nya=topeng Banjar) supaya tidak rubuh dikunyah-kunyah zaman edan.

Babarasih tuping adalah istilah endemic yang merujuk kepada upacara ritual memanggil ruh para arwah dari alam gaib yang diyakini sebagai cikal-bakal kesenian topeng Banjar. Mereka diundang untuk dimintai restunya dan dukungan spritualnya supaya para panupingan dapat dengan mudah mnelestarikan keberadaan topeng Banjar.

Lapis satuan arti puisi KTS merujuk kepada tema lainnya, yakni cinta kepada budaya local warisan nenek moyang. Secara eksplisit diceritakan bahwa di kampung Banyiur, Banjarmasin, ada sekelompok seniman topeng Banjar (panupingan) yang dengan gigihnya berusaha mempertahankan eksistensi kesenian topeng Banjar yang mereka warisi dari nenek moyang mereka.

Momentum yang mereka pilih untuk kepentingan itu adalah menyelenggarakan upacara ritual babarasih tuping (membersihkan topeng). Tidak mudah bagi mereka untuk menggelar upacara ritual dimaksud, karena para agamawan dari golongan garis keras (kaum fundamentalis) cenderung menolaknya karena dianggap sebagai seni budaya purba pra-Islam yang bernuansa syirik, mengundang ruh nenek moyang.

Namun, dalam puisi ini AJ dengan gagah berani menyemangati para panupingan agar tak usah menghiraukan gangguan angin yang berkesiur-kesiur di sisi kirti dan kanan mereka. Inilah amanat yang diselipkan oleh penyair dalam puisi ini. Seolah-olah AJ berkata agar para panupingan jangan ragu. Gelar saja, tokh tidak digelar setiap hari, cuma digelar setahun sekali. Anggaplah sebagai suguhan hiburan biasa yang tidak akan berdampak apa-apa terhadap sendi-sendi teologia Islami masyarakat Banjar.

Sungguh, sendi-sendi teologia Islami itu tidak akan runtuh hanya karena ada sekelompok orang menggelar ritual babarasih tuping. Fakta menunjukkan, sendi-sendi teologia Islami dimaksud sudah begitu kokohnya di Kalsel.

Lapis Dunia

Lapis dunia puisi KTS merujuk kepada perasaan dan nada. Perasaan merujuk kepada sikap penyair terhadap tema atau pokok pikiran yang dikemukakannya. Nada merujuk kepada sikap penyair terhadap pembaca puisinya.

Pada lapis dunia inilah penyair memaparkan informasi implisit menyangkut pelaku, latar, objek yang dikemukakan, dan dunia pengarang. Lapis dunia tidak lain adalah realitas yang dilihat dari sudut pandang tertentu.

Lapis dunia puisi KTS menggambarkan sikap pribadi penyairnya yang menaruh simpati kepada para seniman topeng Banjar yang dengan sekuat tenaga berusaha mempertahankan identitas kesenimanannya di tengah-tengah serbuan budaya asing yang datang tanpa dapat dicegah sama sekali, seperti serbuan budaya pop Korea (K-Pop) misalnya.

Lapis metafisis puisi KTS merujuk kepada pengalaman imajiner penyair yang ingin ikut serta merasakan aura mistis di balik kehadiran ruh para arwah nenek moyang yang tidak kasat mata pada saat digelarnya upacara ritual babarasih tuping (membersihkan topeng) di kampung Banyiur, Banjarmasin. []

Penulis, dosen Mata Kuliah Kajian Puisi di STKIP PGRI Banjarmasin. 

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*