Sultan Obati Kerinduan Perantau Banjar

Oleh: Ahmad Barjie B

Urang Banjar madam ka tanah seberang

Gawian badagang lawan bahuma

Ulun baharap pian baik-baik dengan semua orang

Supaya hidup sejahtera di tanah Sumatra

 

Labat pinang di tangah kampung

Masak satangkai andak di pati

Sedih hati ulun bapisah dengan  urang sakampung

Mudahan di lain waktu badapat lagi

 

Bukan tikar sembarang tikar

Tikar kami berlapis empat

Bukan Banjar sembarang Banjar

Banjar berbuat negeri bermartabat

Pantun bait pertama diucapkan Sultan Banjar Khairul Saleh dalam mengawali sambutannya, yang mendapatkan respons hangat dan meriah dari warga Banjar. Bait  kedua diucapkan Sultan di akhir sambutannya, sehingga menimbulkan rasa haru yang mendalam, dibarengi kata: amiin, amin, oleh hadirin.

Langkat

Meskipun Khairul Saleh mengaku orang Banjar tidak sepandai orang Melayu dalam berpantun, namun pantun dan sambutan Sultan mendapatkan sambutan luar biasa dari ribuan hadirin.

Bait ketiga adalah pantun balasan dari tuan rumah, Bupati Langkat Haji Ngogesa Sitepu, yang sambil guyon diakuinya disusun selama tiga hari tiga malam. Pantun itu merupakan bentuk penghargaan dan terimakasih terhadap komunitas Banjar di daerahnya yang sudah sekian lama menjadi bagian dari penduduk Langkat. Orang Banjar dinilai sebagai warga yang baik, rukun, menyukai kedamaian, lebih banyak bekerja daripada berbicara. Orang Banjar juga bisa dipegang janji dan kata-katanya, seperti halnya buah manggis, kalau kulit luar seginya enam, maka isinya juga enam, dan seterusnya.

Itulah sekelumit suasana acara pertemuan Sultan Banjar dengan warga Banjar di Provinsi Sumatra Utara, khususnya Kabupaten Langkat. Acara ini dihadiri sejumlah pejabat, di antaranya Plt Gubernur Sumatra Utara Gatot Pujo Nugroho, Bupati Serdang Bedagai Tengku Erry Nuradi, Bupati Langkat Haji Ngogesa Sitepu sebagai tuan rumah, yang mewakili Kesultanan Langkat Tengku Abdul Aziz Tajul Muluk, ketua dan anggota DPRD, Ketua MUI, para awak media dan lainnya. Gatot dan Tengku Erry merupakan pasangan calon gubernur dan wakil gubenrur dalam pilkada Sumut.

Pengobat Rindu

Memang sudah lama masyarakat Banjar di perantauan merindukan kehadiran Sultan Banjar H Khairul Saleh di daerah mereka masing-masing, termasuk yang berdomisili di Kabupaten Langkat, Kabupaten Serdang Bedagai dan sebagainya di Provinsi Sumatra Utara. Sebelumnya Sultan juga sering diminta memenuhi undangan warga Banjar di daerah lain seperti Pontianak, Sambas, Kotawaringin, Menpawah, Buton, Bulungan, Jakarta, Yogyakarta,  Pekanbaru, Tembilahan, dll.

Kerinduan mereka itu disebabkan:  Pertama, datuk nenek mereka memang berasal dari banua Banjar Kalimantan Selatan, yang walaupun sudah merantau puluhan tahun masih terkenang dengan banua asal. Kedua, mereka mendengar cerita tentang banua Banjar dari para leluhurnya, sehingga menimbulkan kerinduan yang mendalam. Ketiga, hanya sebagian kecil dari mereka yang berkesempatan pulang, mudik atau apalah namanya ke banua Banjar, untuk menjenguk danm bersilaturahim dengan sisa-sisa keluarga yang masih ada.

Sebagai perekat dengan tanah leluhur dan pengobat kerinduan akan banua Banjar, komunitas Banjar di perantauan tetap berusaha memegang adat istiadat dan budaya Banjar, baik di segi bahasa, sikap dan tingkah laku, pola dan gaya hidup, kesenian, sikap beragama, jenis makanan, cara berpakaian dan sebagainya.

Namun ternyata semua itu  belumlah cukup untuk mengobati kerinduan. Mereka tetap menginginkan ada tokoh atau pejabat di banua Banjar yang berkenan menjenguk, berkunjung atau mailangi mereka yang hidup di tanah seberang. Itu sebabnya mereka berkali-kali meminta kepada Sultan Banjar H Khairul Saleh untuk berkenan datang.

Akhirnya kesempatan itu pun tiba. Khairul Saleh yang mereka sebut Tuanku Baginda Khairul Saleh al-Mu’tashim Billah didampingi Drs H Abd Ghani Fauzi MM (Kabid Budaya Dinas Pariwisata Banjar) dan Masrur Auf Ja’far SH MH (Intan Banjar) memenuhi undangan Paduan Masyarakat Kulawarga Kalimantan (PMKK) Kabupaten Langkat akhir Februari lalu,. Sultan diundang untuk meresmikan Rumah Adat Banjar ”Lampau Banua” yang terletak di Kompleks Perkantoran Bupati Langkat di ibukota Stabat, Langkat. Undangan sekaligus untuk peletakan batu pertama pembangunan Gedung Sekretariat PMKK Langkat.

Tak ayal kesempatan itu digunakan oleh warga Banjar untuk melepas kerinduan. Mereka merasa sangat bahagia dan berebutan menyalami dan merubung Sultan. Setiap kata dan kalimat dalam sambutan Sultan yang dipadukan dengan bahasa Banjar sebagai bahasa sehari-hari warga Banjar di perantauan, didengar dengan seksama dan penuh perhatian.  Sekejap mereka seolah sedang berada di banua Banjar.

Terlebih ketika Sultan menceritakan kronologi Perang Banjar melawan Belanda dalam kurun 1859-1906 yang notabene merupakan perang terlama melawan penjajah di Nusantara, berikut keberanian para pejuang Banjar, hadirin terkesima dan bangga akan leluhurnya. Mereka juga mendukung kebangkitan kembali Kesultanan Banjar dalam ranah budaya.

Membangun Solidaritas

Rumah Adat Banjar Lampau Banua dibangun oleh Pemkab Langkat bersama komunitas Banjar setempat. Keberadaan bangunan ini sebagai penghargaan terhadap keberadaan masyarakat Banjar yang ikut membangun daerah dalam suka dan duka. Gedung juga dimaksudkan sebagai wadah berkumpul dan fasilitasi kegiatan agama dan budaya, khususnya bagi masyarakat Banjar setempat, yang berjumlah puluhan ribu orang.

Menurut Effendi Sadli, tokoh Banjar yang juga beprofesi sebagai dai, penduduk Banjar di Provinsi Sumatra Utara mendekati 500 ribu orang. Beberapa yang terbanyak adalah di Kabupaten Langkat dan Serdang Bedagai. Masyarakat Banjar tetap memelihara identitas kebanjarannya, namun juga terbuka dalam bergaul lintas etnis, ujar Yamigha Urba Yusra (Pupoy)., tokoh pemuda Medan asal Aceh yang menyambut dan mendampingi Sultan selama di Medan dan Langkat. Hal ini diamini oleh HM Rusli, HM Bahrun Jamil,  HM Husin, HM Effendi Sadli, H Maulana Rawi al-Banjari dan Zainuddin, tokoh dan ulama Banjar setempat.

Zainuddin yang berjuluk Zainuddin Martapura bersama 70 orang dipimpin Bupati Serdang Bedagai Tengku Erry Nuradi (adik kandung Tengku Rizal Nurdin, mantan Pangdam Bukit Barisan dan Gubernur Sumatra Utara yang tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat), merasa beruntung pernah sekali berkunjung ke Banjar, bertemu Sultan Banjar di Martapura dan mengikuti ceramah Ketum PB-NU Prof Dr KH Said Aqil Siraj dan KH Bahran Jamil di kediaman Pengusaha H Abidin HH di Banjarmasin, 2010 lalu. Mereka sangat ingin jika kesempatan itu terulang lagi di kemudian hari.

Selama ini mereka tidak memiliki wadah berkumpul, kecuali di rumah para tetuha Banjar. Maka dengan adanya rumah adat ini, intensitas dan kualitas perkumpulan warga Banjar akan makin ditingkatkan. Sehingga terbangun solidaritas dan soliditas antarwarga Banjar.  Sebagaimana peribahasa, ”di mana duduk taampar di situ kukulaaan tabina”.

Tanpa bermaksud menggurui, Sultan pun kembali menekankan perlunya warga Banjar di perantauan untuk saling menolong antarsesama, tetap menjaga kerukunan, dan pandai beradaptasi,  sebagaimana peribahasa, ”di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung”. Dengan begitu, warga Banjar di perantauan tidak menjadi beban atau pembuat konflik sosial, melainkan terus memberikan nilai tambah yang bermanfaat untuk sama-sama membangun daerah secara bermartabat. []

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*