Silaturahim Kesultanan Banjar Nusantara

Oleh: Ahmad Barjie B

CLICKBORNEO.COM – Silaturahim kesultanan Banjar. Sebelum datangnya penjajah barat, teritorial nusantara sangat luas. Di dalamnya tidak saja mencakup wilayah Indonesia sekarang, tetapi juga Malaysia, Singapura, Thailand Selatan dan Filipina Selatan. Mereka saling berhubungan sesamanya, juga dengan dunia luar, baik dalam hubungan dagang (ekonomi), politik, sosial budaya bahkan agama. Itu sebabnya budaya nusantara meski memiliki nuansa perbedaan namun banyak terdapat unsur kesamaan.

Kesultanan Banjar

Menjelang runtuhnya Kerajaan Majapahit yang menguasai nusantara, agama Islam datang. Maka budaya yang tumbuh sebelumnya segera mengalami islamisasi. Masyarakat saat itu pun dapat menerima Islam, karena kedatangannya banyak menggunakan pendekatan budaya. Islam datang dengan damai dan tidak menggunakan kekuatan senjata dan bahasa politik. Berbagai kota pelabuhan saat itu seperti Malaka, Gresik, Sundakelapa (Jakarta), Makassar, Banjarmasin, dll merupakan kota yang ramai didatangi pedagang.

Di dalam INIS Newsletter (Vol IX l993: l0) diterangkan : In the l5th century, when the Malacca kingdom became a centre of trading activities in Nusantara, it became a hub of merchants. The Straits of Malacca were visited by these traders as they plied back and forth between India and China. The Arab traders were Moslems, who came with to intentions in mind; to become a successful trader and a successful preacher. They were not  interested in political power and they were unarmed.

Artinya pada abad ke-l5, ketika kerajaan Malaka menjadi sebuah pusat kegiatan perdagangan di Nusantara, ia menjadi tempat berkumpulnya para  saudagar. Selat Malaka banyak dikunjungi oleh para pedagang yang pulang pergi menjalankan dagangannya antara India dan Cina. Para pedagang Arab yang beragama Islam, mereka datang dengan dua tujuan, yaitu menjadi pedagang yang sukses dan  juru dakwah yang sukses pula.  Mereka tidak tertarik menggunakan kekuatan politik dan tidak pula kekuatan senjata.

Pendekatan budaya dalam mendakwahkan Islam berakibat agama Islam mudah diterima. Itu sebabnya sebagian besar kerajaan yang tumbuh dan berkembang sebelum era penjajahan adalah kerajaan atau kesultanan Islam. Sebut saja Kesultanan Aceh, Pagarujung, Banten, Demak, Mataram, Kutai, Gowa, Ternate, Tidore dan Banjar semuanya merupakan kerajaan Islam. Mereka pun saat itu telah mampu melaksanakan syariat Islam ala nusantara, yaitu Islam yang bernuansa budaya, atau mengembangkan budaya yang bernuansa Islam.

Sempat Terputus

Sebelum dikuasai penjajah, kerajaan-kerajaan Islam itu saling berhubungan satu dengan lainnya. Mereka saling menjalin koalisi dan kerjasama, baik di bidang ekonomi, politik juga budaya itu sendiri. Sebutlah misalnya antara Kerajaan Demak dan Mataram dengan Kerajaan Banjar, antara Kerajaan Banjar dengan Kerajaan Kutai, Menpawah, Kotawaringin dan sebagainya.  Mereka saling tukar menukar cindera mata sebagai ikatan persaudaraan.

Kehadiran penjajah yang sangat lama berakibat koalisi dan kerjasama itu menjadi terputus. Satu sama lain tidak lagi saling berhubungan karena sengaja diputus oleh penjajah melalui blokade darat dan laut yang ketat, sementara saat itu belum terjalin komunikasi secanggih sekarang.

Meski terputus, namun di kalangan keturunan atau zuriat para raja dan sultan itu kelihatannya masih ada ikatan batin. Mereka merasa senasib sepenangggungan dengan keturunan raja dan sultan di tempat lain.  Apabila mereka bertemu, sering diwarnai rasa haru yang mendalam. Hal ini wajar adanya sebab gara-gara penjajahan berakibat kekuasaan para datuk nenek mereka jadi hilang, banyak istana yang hancur atau dibakar dan yang tersisa hanyalah cerita kejayaan kerajaan/kesultanan itu dari mulut, dan hanya sebagian yang sempat diabadikan dalam dokumen tertulis. (bersambung)

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*