Serambi Mekkah, Antara Identitas dan Realitas

Oleh: Taufik El Rahman

CLICKBORNEO.COM – Hampir semua daerah di Indonesia memiliki ciri khas dan karakteristik masing-masing. Demikian pula halnya dengan Kota Martapura, ibukota Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Salah satu identitasnya adalahkentalnya nuansa keagamaan dan maraknya syiar dakwah keislaman yang ditunjukkan dengan kehadiran para alim ulama dan aulia.

Martapura

Kota ini menjadi ikon pusat pendidikan Islam di wilayah Kalimantan. Murid-murid lembaga pendidikan di kota ini, menyebar ke berbagai kawasan di Kalimantan Selatan, Tengah dan Timur, bahkan di pulau Jawa. Mereka inilah yang melaksanakan dakwah dan pembinaan umat. Pusat pendidikan yang amat dikenal dari sisi pendidikan Islam ini adalah Pondok Pesantren Darussalam. Lembaga inilah yang telah mematok pancang dan berkiprah dalam sejarahnya, hingga sebutan Serambi Mekah untuk kota ini jadi pantas dilekatkan. Kalau tidaklah karena itu, mungkin akan panjang perdebatan yang dapat dilakukan menyangkut sebutan yang demikian indah.

Sebagai kota berjuluk Serambi Mekkah, peran ulama sangat menentukan dalam sendi-sendi kehidupan sosial kemasyarakatan. Ia merupakan sosok pembimbing dan pencerah bagi umatnya. Saat ini terdapat tiga peraturan daerah yang menggambarkan hubungan baik

antara pemerintah dan ulama dalam mewujudkan masyarakat yang agamis, yaitu Perda Ramadhan, Perda Jum’at Khusyuk dan Perda Khatam Al-Qur’an.

 Eksistensi ulama setidaknya diperkuat dengan banyaknya tempat peribadatan, majelis ta’lim, pengajian, madrasah, pesantren dan ribuan santri atau jamaah. Ini menjadi nilai lebih bagi perkembangan suatu daerah seperti kabupaten Banjar yang terus membangun. Maka tak heran, posisi ulama menduduki tempat di atas rata-rata, jika dibandingkan dengan daerah lainnya.

Deretan nama ulama besar menghias lembaran sejarah sesuai situasi dan waktu, dilahirkan dari sini, sebutlah nama Syekh Muhammad ArsyadAl-Banjari, yang makamnya di Kelampaian, Astambul, diziarahi ribuan orang setiap hari. Ada pula nama KH Muhammad Samman Mulia (Guru Padang), KH Muhammad Syarwani Abdan (Guru Bangil), KH Abdurrahman Siddiq (Indragiri), KH Kasyful Anwar, KH Anang Sya’rani Arif, Tuan Guru KH Zainal Ilmi, KH Muhammad Husin Qodri, KH Muhammad Salman Jalil, KH Badruddin, KH Muhammad Rosyad dan seterusnya yang walau sudah almarhum tapi namanya tetap harum dan melegenda. Ini belum lagi deretan tokoh ulama besar sejak dulu, yang turut menghiasi dokumen historis Martapura.

Dalam kondisi kekinian, citra Martapura semakin masyhur hingga menembus batas regional dengan sosok (almarhum) KH Muhammad Zaini Abdul Ghani. Ulama yang populer disapa Guru Sekumpul itu bisa diibaratkan sebagai “maestro” Bumi Serambi Mekkah Martapura.

Semasa hidup almarhum, pengajian yang digelar di Kompleks Ar-Raudhah, Sekumpul, selalu dihadiri ribuan jamaah dari pelbagai pelosok Kalimantan. Beliau dikenal sebagai tokoh yang kerap dikunjungi pejabat dan orang penting negeri ini. Sejak pengajian digelar di Sekumpul, sudah tidak terhitung lagi banyaknya tamu yang datang. Mulai dari artis, pejabat Negara, pejabat lokal, petinggi militer hingga para menteri dan presiden beserta wakilnya.

Alhasil, Martapura dikenal sebagai pusat pergerakan pemikiran Islam yang disegani dan basis pendidikan Islam terkemuka di Kalsel. Dengan berlatar pendidikan Islam yang termasyhur itu, Martapura pun dijuluki sebagai Serambi Mekkah.

Persoalannya kini, masih relevankah kota itu disebut Serambi Mekah? Benarkah kota ini mengukuhkan posisinya sebagai pusat pendidikan? Tepatkah orang-orang untuk berinvestasi di sektor peningkatan sumber daya manusia dan ulama itu saat ini? Beragam pertanyaan tentu masih bisa diutarakan, namun untuk menjawabnya, diperlukan cermatan dan amatan realitas di lapangan. Bila tidak demikian, jawaban yang akan dihasilkan justru dikhawatirkan hanya akan sampai pada sisi pelipur lara semata.

Tak jauh beda dengan kota-kota lainnya di Indonesia, Martapura tumbuh dan berkembang di tengah beratnya tantangan bu-daya. Kuatnya serbuan budaya global yang cenderung merubuhkan sendi-sendi keberagamaan umat, membuat banyak hal yang berubah dalam keseharian warga kota Serambi Mekkah itu. Kita tidak usah muluk-muluk membayangkan nuansa Islami akan terasa kental di Martapura. Itu hanyalah bayangan yang bisa membuat kita kecewa bila melihat realitasnya.

Anak-anak sekolah yang putri dan mahasiswi, memang benar, tampil Islami dengan busana muslimah mereka. Tapi itu hanya pada jam-jam belajar. Di luar itu, sama saja dengan perempuan-perempuan di kota lain. Katanya, mereka berbusana Islami, tetapi hakikatnya adalah jauh dari kesan Islam. Betapa takkan menghina, jilbabnya yang terpasang anggun di kepala, tetapi busana yang dipakai, minta ampun tidak Islaminya. Manalah berbaju ketat, bercelana jeans sempit pula. Tidak ada satu pun dari deretan lekuk tubuhnya yang tidak kelihatan.

Demikian juga halnya dengan mengabaikan panggilan azan. Tak beda dengan kota-kota lain, di Martapura setiap waktu salat akan masuk, azan dikumandangkan. Akan tetapi, orang yang datang ke masjid tidak seberapa. Kalau pun ada satu dua shaf, biasanya hanyalah jemaah yang itu ke itu saja, sudah tua-tua dan uzur. Yang namanya anak muda dan mayoritas warga kota, tetap saja hilir mudik, bergaya di keramaian kota, tak peduli mereka dengan seruan “kemenangan” itu. Yang saya khawatirkan dalam konteks ini adalah, bahwa Martapura Kota Serambi Mekah kini hanya tinggal sebutan saja. Ia tidak lagi memiliki makna sebagai slogan yang merefleksikan realitas sesungguhnya. Slogan “Serambi Mekkah” hanya menjadi sekedar kata-kata, sekedar slogan, sekedar tulisan, tanpa makna yang sesungguhnya. Hanya istilah yang melekat untuk tetap enak didengar.

Realitasnya, kota ini sudah jauh berubah. Ketika Martapura kian meninggalkan identitas itu, ketika masyarakatnya sendiri meningggalkan identitas itu, Martapura tak ada istimewanya —dari sudut pandang Islami— dengan kota-kota lain di Indonesia: hiruk pikuk, asap knalpot, terminal taksi liar, pengemis dan pedagang kaki lima, udara yang panas, ekologi kota tak terpelihara, dan seterusnya. Dan siapakah yang akan mau meluangkan waktu mengunjungi kota semacam itu?

Urang Banjar sabarataan, Semoga pian-pian tidak tersinggung dengan tulisan ini. Tak lebih yang saya kemukakan murni keinginan sebagai wargaTanah Banjar yang menantikan kota Martapura menjadi daerah yang terkemuka. Pastinya dalam lubuk hati, Pian ingin juga melihat Banjar menjadi daerah yang terkenal religius dan agamis di Indonesia, bukan?

Keadaan suatu kaum tak akan berubah kecuali kaum itu sendiri yang mengubahnya. Jadi, kalau bukan Urang Banjar sendiri siapa lagi yang akan menggaungkan nama Banjar “Kota Serambi Mekkah”?

Sudah saatnya Urang Banjar berbenah dan bersiap! Bersama Kita Menuju Kabupaten Banjar yang Baiman, Beruntung dan Batuah.[]

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*