Selamatan Menajak Tiang Rumah

CLICKBORNEO.COM – Masyarakat Banjar tempo dulu jika hendak membangun rumah sangat teliti. Tidak mau sembarangan. Terutama waktu menajak tiang. Di ujung tiang diberi kembang yang harum dan segar. Hakikat hatinya supaya nanti penghuni rumah itu merasakan sejuk.

Rumah Banjar1

Dan waktu menajak tiang itu, kata Humaidi, hendaknya menghadap ke arah matahari terbit. Maksudnya, supaya rumah tersebut dari awal terasa hidup.

Jumlah tiang rumah itu mesti ganjil, lima atau tujuh biji. Begitu pula ukuran tiang tersebut tidak boleh pas sekian meter, harus ada lebih beberapa sentimeter. Maksudnya agar rejeki pemilik rumah itu tidak mandeg, selalu bertambah.

Termasuk antara tiang pintu depan dengan pintu belakang tidak boleh sejajar. Karena secara simbolis kalau satu arah rejeki bisa los, tidak sempat tertahan di rumah

“Satu hal yang sangat perlu diperhatikan, upayakan urat tiang itu yang lurus membujur. Sebab urat tiang yang memusar apalagi sampai berlobang itu dipercaya akan menjadi tempat persemayaman jin-jin atau makhlus halus. Sehingga kelak para penghuni rumah itu jadi sasaran diganggu makhluk-makhlus halus tadi,” jelas Humaidi.

Menurutnya, secara logika berbagai kepercayaan dimaksud memang sulit dianalisis. Tetapi ia tetap meyakini bahwa tiap-tiap rumah punya nuansa tersendiri yang akan berpengaruh pada faktor kejiwaan penghuninya.

“Termasuk suami-istri yang suka bertengkar, mungkin saja karena dipengaruhi rumah si bersangkutan yang panasan,” tandas pria asal Alabio ini.

Demikian pula lokasi tanah agar diperhatikan. Sebab pernah kejadian waktu ingin membangun rumah, orang menghancurkan gundukan galambia. Tidak berapa lama kemudian angsung sakit, tubuhnya seperti dililit-lilit, hingga meninggal dunia.

Itulah maksudnya diadakan shalat hajat, pembacaan Yasin dan doa-doa, yakni untuk mengusir makhluk-makhluk halus yang menghuni tempat tersebut.

Ia sendiri mengaku waktu membangun rumah di daerah sekitar Jl Gator Subroto, Banjarmasin, sebagian tetap mengikuti upacara yang bersifat adat, dengan menonjolkan hal-hal yang islami.

Dalam masyarakat Banjar saat hendak membangun rumah, ternyata orang tidak asal bikin lalu menempatinya begitu saja. Ada kegiatan yang bersifat keagamaan maupun upacara yang merupakan tradisi turun temurun.

“Biasanya kalau mau membangun rumah, di lokasi dimaksud dilakukan shalat Maghrib berjamaah, pembacaan Yasin dan shalawat hingga shalat Isya. Kemudian dilanjutkan dengan shalat hajat. Subuhnya, ada lagi yang dinamakan dengan upacara menajak tihang,” jelas Drs. H. Syamsiar Seman.

Jumlah tiang tersebut yakni lima biji. Menurut Syamsiar harus ganjil, karena demikianlah perhitungan menurut tradisi Banjar. Waktu mendirikannya mesti menghadap kiblat.

“Manajak tihang itu dimulai dari arah Barat, Timur, Selatan, kemudian Utara. Posisi tersebut tidak boleh terbolak-balik. Harus membentuk Lam Jalallah, akronim dari Laa haula wala quwata illa billah. Dengan niat hati bahwa rumah tersebut bisa berdiri semata atas izin Allah, dan mohon keselamatan bagi para penghuninya,” terang budayawan Banjar ini.[]

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*