Sastra Sebagai Sarana Dakwah

    Oleh: Jumiadi Khairi Fitri

CLICKBORNEO.COM – Seiring perkembangan zaman, media dan strategi berdakwah juga mengalami perkembangan. Berdakwah di era sekarang tidak melulu dengan cara menggurui apalagi mendoktrin secara paksa. Dakwah mulai merambah ke berbagai aspek dan bidang kehidupan, karena itu media dan sarananya pun beragam.

Sastra dakwah

Seorang dai tidak hanya berdiri di atas mimbar kemudian berpidato atau berkhutbah. Banyak cara lain yang bisa dijadikan alternatif, tergantung objek dakwahnya. Anak muda yang suka musik, tentu akan lebih mudah didekati dengan syair-syair lagu yang indah dan menyentuh. Para ilmuwan akan tergetar hatinya dengan pendekatan mikro terhadap alam ciptaan-Nya. Para ekonom dan akuntan akan terpesona dengan penjelasan rinci “hitung-hitungan” yang ada dalam Alquran; tentang kenapa riba diharamkan kemudian jualbeli dihalalkan dan sedekah dianjurkan. Apapun media, sarana dan strategi yang dipilih oleh para dai atau dai’yah tetap berpedoman pada dalil berikut: “Serulah (manusia) pada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” (An-Nahl 125).

Di antara sekian banyak pilihan sarana dakwah, salah satu yang mulai diperhitungkan adalah melalui sastra. Sebenarnya berdakwah secara tidak langsung melalui sastra sudah pernah dilakukan oleh orang-orang terdahulu. Berbagai didikan dan ajaran yang diajarkan orangtua dahulu melalui cerita lisan sampai saat ini sangat membekas dalam benak kita. Cerita Si Kancil dan Buaya merupakan salah satu cerita yang sangat sederhana. Di balik cerita ada ribuan makna yang bisa dipetik mengenai kecerdikan dan kemahiran untuk menggunakan pikiran. Cerita Nabi Nuh dan anaknya memberikan keteladanan tentang kasih sayang orangtua kepada anaknya dan kedurharkaan seorang anak.

Lihatlah mereka yang berdakwah di balik kreativitasnya. Rhoma Irama dengan senandung lagu-lagu  dangdutnya; Taufik Ismail dengan puisi-puisinya yang kemudian disenandungkan oleh Bimbo; Ustaz Yusuf Mansyur, Arifin Ilham dan Jefry Al-Bukhari dengan tausiah-tausiahnya, Snada dengan  nasyid-nasyidnya; Opick dengan untaian syair-syair islaminya; Habiburrahman El-Syirazy, Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Izzatul Jannah, dan anggota Forum Lingkar Pena (FLP) lain dengan novel dan antologi cerpen-cerpennya. Mereka merupakan bagian dari sejumlah insan yang  berdakwah melalui sastra dan seni.

Berhasilkah dakwah melalui sastra? Setidaknya adakah yang tertarik terhadap agama (Islam) setelah para penyastra itu memilih jalur sastranya untuk menyampaikan kebenaran? Lagu-lagu Bimbo yang sebagian besar liriknya merupakan puisi Taufik Ismail sarat dengan petuah islam yang indah. Puisi Sajadah Panjang yang dilagukan dengan indah secara sederhana selalu mengingatkan tentang “ayo salat sebelum disalatkan.” Cerpen Ketika Mas Gagah Pergi karangan Helvy Tiana Rosa merupakan salah satu contoh betapa dakwah melalui sastra adalah sesuatu yang “bisa” diambil sebagai pilihan. Cerpen tersebut mendapat banyak tanggapan dari pembaca majalah Annida sebagai cerpen yang mampu membuat pembacanya insyaf, tobat dan hijrah ke jalan Islam yang sesungguhnya.

Kemudian beberapa tahun terakhir, novel fenomenal Ayat-Ayat Cinta (AAC) karangan Habiburrahman ElShirazy mampu membuka wawasan dan khasanah masyarakat tentang Islam yang sesungguhnya. Novel itu menggunakan bahasa tulisan sebagai alat untuk berdakwah. Bagi seorang penggemar novel disadari atau tidak kondisi psikisnya mudah sekali dipengaruhi oleh dahsyatnya buaian bahasa yang ditulis oleh novelis. Akhirnya novel pembangun jiwa  ini mampu memberikan makna yang mendalam dan menitipkan pesan-pesan moral yang halus di dalam isi ceritanya. Seperti yang diungkapkan Hadi Susanto, AAC adalah novel sastra yang berhasil memadukan dakwah, tema cinta, etika (adab) dan latar belakang budaya yang sangat berbeda.  (bersambung)

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*