Rebutlah Peluang Menulis

CLICKBORNEO.COM-  Suatu kali dalam sebuah pameran seni rupa seorang seniman memajang karyanya berwujud manusia tanpa kepala dan di bagian punggung terdapat sepasang sayap. Beberapa pengunjung yang heran melihat itu kemudian menanyakan apa makna di balik simbol-simbol tersebut. Si seniman mengatakan itulah “kesempatan”.

Peluang Menulis

Kenapa tidak berwajah, karena orang-orang yang jeli saja  yang dapat mengenalinya. Sedangkan sepasang sayap kokoh melambangkan betapa cepatnya ia melesat. Karena itu, begitu ia muncul segeralah sergap. Kalau dibiarkan kesempatan bakal keburu kabur, dan tak mungkin kembali lagi.

Dalam kehidupan ini entah berapa banyak orang yang menyia-nyiakan kesempatan. Begitu peluang tersebut hilang, baru mereka menyesal. Dalam dunia penerbitan pun tak sedikit penulis yang abai merebut peluang yang ada di hadapan mereka. Ketika oleh redaktur disediakan rubrik tertentu, tidak dimanfaatkan semaksimal mungkin. Setelah halaman khusus itu ditiadakan, malah protes.

Di Indonesia ini sebenarnya banyak kesempatan untuk mempublikasikan tulisan. Ribuan media massa bertebaran di mana-mana, baik itu suratkabar harian, tabloid, maupun majalah. Pihak pengelola media massa itu pasti memerlukan kiriman tulisan. Apalagi penerbitan baru, sering masih kekurangan tulisan, sehingga tidak terlalu selektif dalam pemuatan.

Tapi  seluas apapun kesempatan yang terbentang, kalau tidak direbut tak akan ada artinya. Apalagi kalau kita ditawari proyek menulis buku, jangan sampai disia-siakan. Soal keterbatasan waktu bisa disiasati, asalkan kita memang punya kemauan kuat.

Tahun 2007 ketika program Good Governance sedang gencar-gencarnya digaungkan pemerintah, seorang kawan mengajak menggarap buku bekerja sama dengan Inspektorat Provinsi Kalsel. Tawaran itu pun langsung saya sanggupi. Di sela-sela kesibukan sebagai jurnalis, saya berusaha mencuri-curi waktu untuk menghimpun pendapat tokoh-tokoh banua tentang Good Governance dan menuangkannya dalam sebuah buku. Alhamdulillah, bisa rampung sesuai target.

Pertengahan 2010 lalu saya dipanggil Pak Ahmad Makkie untuk menuliskan biografi beliau. Walaupun di perusahaan penerbitan tempat saya bekerja waktu itu sudah menerapkan sistem lantai bersama  — satu wartawan diharuskan menangani beberapa media cetak dan online  – sehingga liputan semakin padat, tapi saya tidak ingin melepas peluang tersebut. Sedapat mungkin saya menyisihkan waktu untuk proses wawancara dengan Pak Makkie. Kalau tidak bisa sore, ya malam hari.  Syukurlah, akhirnya buku “Kembali ke Pondok, Refleksi 40 Tahun Membesarkan dan Dibesarkan Golkar” dapat saya selesaikan.

Belakangan ketika pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kalsel mau menerbitkan buku “Ulama Kalsel dari Masa ke Masa” saya kembali ditawari sebagai salah satu tim penyusun. Walaupun batas waktunya relatif sempit, hanya sepuluh hari, saya berusaha memenuhi. Sebab,  nilai kepercayaan itu penting bagi kelanjutan karir kepenulisan di masa depan seseorang.

Intinya, apabila Anda diberi peluang untuk menulis, jangan sia-siakan. Karena kesempatan itu sekali dilepas, ia tak akan datang dua kali.

Kayak apa pendapat dangsanak, akur juakah?[]

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*