Rangking Kelas Bukan Segalanya

CLICKBORNEO.COM – Orangtua sering berpendapat ukuran kesuksesan menyekolahkan anak minimal masuk rangking 10 besar. Akibatnya, apabila anak yang terbiasa paling rendah dapat rangking 3, tiba-tiba jatuh di peringkat 5, sang orangtua kontan mencak-mencak.

Juara kelas

“Orangtua menutup mata terhadap permasalahan yang dihadapi anak. Kekecewaannya saja yang dibahas. Anak pun dimarahi,” ujar Ketua Yayasan Al Azhar Banjarmasin, Hj Mahdalena.

Pandangan keliru itu perlu diluruskan. Rangking sekadar predikat sementara, bukan jaminan kesuksesan hidup. Berdasarkan pengalaman, ada anak ketika di SD dari kelas 1 sampai 6 juara terus, begitu masuk SMP nilainya anjlok. Atau sampai SMA selalu rangking, saat kuliah prestasi dia menurun.

Anggapan orangtua mengenai anak yang selalu rangking kelak mendapatkan pekerjaan bagus, belum tentu benar. Kalau tidak dilengkapi dengan kecerdasan inter dan intra personal, seperti kepercayaan diri dan cara menjalin hubungan dengan orang lain, anak akan mengalami kendala dalam kehidupan.

“Kemampuan menghadapi problem hidup sebenarnya itu yang paling penting. Jadi, IQ bukan segala-galanya,” tegas Mahdalena.

Karena itu, orangtua harus memahami potensi yang dimiliki anak. Kemudian memberi perhatian dan dukungan supaya potensi yang dimaksud bisa muncul ke permukaan.

Orangtua, tambahnya, jangan terpaku pada rangking saja, lalu menutup terhadap kemampuan anak yang lain di luar sekolah. Tak jarang lantaran rangking jadi acuan, orangtua tidak jeli melihat perubahan anak. Misalnya, dia bisa berpikir lebih dewasa atau berprilaku baik pada temannya, tidak dianggap sebagai kecerdasan.

“Karena tidak melihat bidang-bidang lain, lalu anak dicap bodoh,” kritik Mahdalena.

Kadang karena ambisi pribadi, anak diikutkan les habis-habisan, tidak peduli anak sudah capek di sekolah. Bahkan, sebenarnya minat anak bukan di situ, tetap saja dipaksakan. Umpama, anak berminat pada musik, justru dimasukkan les bahasa Inggris.

Orangtua tidak mau membayangkan di posisi anak, bagaimana dulu dirinya saat dipaksa, pasti tidak nyaman.

“Kita harus memperhatikan kondisi kejiwaan anak, sebaiknya dalam menjalani pendidikan dia bisa bahagia, tidak ada perasaan tertekan dan tegang,” imbuhnya. (ali)

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*