PSAA Budi Mulia Jamin Pendidikan Sampai SMTA

CLICKBORNEO.COM – Anak yatim piatu bila tidak ada yang mengasuh dan mengayomi, nasibnya bakal terlunta-lunta. Begitu pula dengan anak-anak terlantar yang orangtuanya bercerai, broken home, atau tidak mampu, jika dibiarkan begitu saja, dikhawatirkan bisa salah langkah. Masa depan mereka jadi suram.

Budi Mulia

Di sinilah pentingnya keberadaan panti sosial asuhan anak (PSAA) yang mau menampung dan memperhatikan pendidikan anak-anak malang tersebut.

Seperti dialami Taufik Bachtiar, begitu tamat SD ia sempat bingung mau melanjutkan sekolah ke mana. Pasalnya, ayahnya yang buruh bangunan tak mampu membiayai pendidikannya. Sedangkan sang ibu sudah lama meninggal dunia, yakni saat Taufik berumur 2 tahun.

“Sejak 2009 saya masuk panti sosial asuhan anak Budi Mulia. Terjadi banyak perubahan. Sebelumnya saya tidak pernah mengaji dan salat, namun selama di sini saya mulai belajar dari nol dasar-dasar agama,” ujar warga Landasan Ulin Timur, Banjarbaru ini.

Budi Mulia 2

Kini, Taufik sudah duduk di bangku kelas dua SMKN 2 Banjarbaru atas biaya pemerintah. Selama di PSAA ia juga belajar kursus menjahit, komputer, dan elektronik. Alasannya, mumpung gratis.

“Harapan saya, selepas dari PSSA ini bisa segera bekerja. Rencana, saya mau memperbaiki rumah yang ada di kampung,” ujar Taufik yang beberapa waktu lalu ayahnya meninggal dunia.

Biasanya di PSAA Budi Mulia Provinsi Kalsel bila ada anak asuh yang lulus, mengundurkan diri, atau berhenti karena alasan tertentu, otomatis daya tampung jadi berkurang. Maka, pihak PSSA langsung menghubungi Dinas Sosial kabupaten/kota untuk mengisi. Di sana terdapat data anak-anak yatim, piatu, atau terlantar.

Nanti tim akan turun langsung ke daerah-daerah untuk menyeleksi. Kita melihat kondisi riil, apakah yang bersangkutan layak atau tidak, jadi anak asuh. Sebab, mereka  memprioritaskan mereka yang benar-benar memerlukan bantuan.

Kondisi rumah dan ekonomi keluarga menjadi bahan pertimbangan. Termasuk wawancara dengan si anak, apakah dia memang bersedia dibina di PSAA. Berdasarkan ketentuan batasan usia anak 7-18 tahun. Namun, kadang mereka tak bisa menolak anak usia di bawah 7 tahun karena kondisi di lapangan memang perlu ditolong.

Contoh, ibunya meninggal dunia. Sedangkan si ayah harus pergi, kerja serabotan. Sementara kedua anaknya tidak ada yang merawat di rumah. Akhirnya, diserahkan ke PSAA.

Untuk pendidikan formal, anak disekolahkan ke luar PSSA. Untuk tingkat dasar biasanya dimasukkan ke Madrasah Ibtidayah karena pelajaran agamanya lebih banyak. Selanjutnya tergantung NIM dan minat anak, di situ akan diarahkan. Tapi, umumnya ke sekolah kejuruan supaya nanti mereka mudah mendapatkan pekerjaan.

Pihaknya juga menyediakan les untuk beberapa mata pelajaran yang di-UN-kan dengan mengundang guru-guru luar.

Biasanya anak asuh pulang sekolah sekitar pukul 14.00 Wita. Setelah istirahat sebentar, setengah jam kemudian mereka mengikuti latihan keterampilan. Seperti menjahit, bordir, komputer, servis kendaraan, dan tata boga. Tergantung minat masing-masing anak.

Dari Maghrib sampai Isya anak-anak tidak boleh keluar, wajib di masjid untuk mengikuti bimbingan keagamaan.

Di sini anak-anak dijamin sampai lulus SMTA. Kalau sudah tamat, harus keluar. Berarti, masa pembinaanya telah habis. (ali)

Syarat Masuk Panti Sosial Asuhan Anak

  • WNI yang berdomisili di wilayah Provinsi Kalsel
  • Anak berusia 7-18 tahun
  • Keterangan dari lurah/kepala desa yang menyatakan anak tersebut benar-benar yatim, piatu, yatim piatu, terlantar dan atau kurang beruntung lainnya
  • Sehat jasmani dan rohani
  • Surat pindah sekolah apabila masih sekolah
  • Akte kelahiran atau surat keterangan lahir (bila ada)
  • Mengisi surat pernyataan
  • Mengisi surat perjanjian
  • Rekomendasi dari kepala Dinas Sosial atau Biro Kesra Kabupaten/Kota.

     Sumber: PSAA Budi Mulia Provinsi Kalsel

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*