Potensi Dahsyat Ulama Kita Andai Mau Menulis

CLICKBORNEO.COM – Dalih yang paling sering dikemukakan kenapa ulama kita tidak sempat lagi menulis, karena mereka disibukkan oleh mengisi undangan ceramah di mana‑mana. Tak dipungkiri, bahwa memberi ceramah itu memang penting dan kontribusinya bagi umat cukup besar. Namun, alangkah baiknya jika dibarengi pula dengan menulis. Sebab, ulama‑ulama dulu pun tak kalah sibuknya, toh mereka masih bisa meluangkan waktu berdakwah menggunakan goresan pena.

Kitab Ulama

Imam Malik setiap hari membuka majelis ilmu. Muridnya ribuan orang dari berbagai penjuru. Saking banyak yang belajar padanya, untuk memudahkan maka tiap hari dibagi beberapa sesi, sesuai dengan bidang kajian yang hendak diperdalam. Berarti jadwalnya memberi pengajian sangat padat. Kendati demikian, nyatanya Imam Malik masih sempat menulis. Padahal waktu itu fasilitas serba terbatas, belum ada listrik apalagi komputer dan laptop. Buktinya, beliau mampu produktif menulis.

Dalam buku Seratus Muslim Terkemuka karya Jamil Ahmad disebutkan rata‑rata ulama dahulu tak hanya fasih berceramah, juga piawai menulis. Bahkan, saking tingginya dedikasi mereka untuk mewariskan ilmu kepada generasi berikut, di antaranya ada yang menulis sambil menunggang kuda. Bandingkan dengan kita sekarang, punya waktu luang saja sering disia‑siakan.

Saya sering membayangkan, di Kalsel ini kita punya masjid sekitar 3.000 buah. Berarti tiap Jumat ada 3.000 khatib yang naik mimbar, dan tentu membawa teks khotbah. Andai tiap 30 buah tulisan dikumpulkan, kemudian dicetak, hitungannya dalam seminggu kita menghasilkan 100 buku. Kali 48 minggu, berarti 4.800 jilid dalam setahun. Wooww!!! Betapa dahsyatnya potensi ilmu yang dimiliki umat Islam jika benar‑benar diberdayakan. Itu baru dari teks khotbah, belum lagi yang lain.

Tapi, persoalannya seberapa banyak ulama kita yang rajin menulis, walau seminggu sekadar menghasilkan satu tulisan? Apalagi yang mau mengangkat topik tulisan sesuai dengan aktualitas yang tengah berkembang di masyarakat, sehingga bisa jadi penyejuk atas kegelisahan umat. Belum lagi kalau bicara tentang kualitas tulisan.

Saya pernah ngobrol dengan seorang mubaligh, dia bilang kalau diminta ceramah mendadak di depan jamaah, tiga jam pun sanggup menguraikan materi keagamaan. Tapi kalau diminta menulis tiga halaman kuarto saja, katanya, susah bukan main.

Padahal semua orang memiliki potensi besar untuk menjadi penulis. Karena menulis itu sekadar mentransfer pikiran ke dalam bentuk tulisan. Terlebih bagi ulama, yang kita tahu adalah gudangnya ilmu. Jadi, sebenarnya tidak ada alasan untuk ‘pelit’ menulis.

Seorang Yahudi pernah bilang: “Kami tidak akan pernah takut pada umat Islam selama mereka masih tak suka membaca dan menulis.”

Nah, apa tidak panas kuping. Mestinya mendengar pernyataan tersebut kita terlecut untuk menghidupkan kembali tradisi baca-tulis di kalangan Islam. Ingat, kita hanya akan bisa mencapai kebangkitan apabila dimulai dengan revolusi mental. Salah satu caranya ialah tumbuhkan kecintaan masyarakat pada ilmu — dan itu harus didukung oleh budaya membaca dan menulis.

Sekali lagi, agaknya ini patut jadi renungan kita bersama. []

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*