Pilih Berdebat atau Menulis?

CLICKBORNEO.COM – Tiap-tiap kepala pasti tidak sama isi pikirannya. Anak kembar saja sering berbeda pendapat, apalagi yang samasekali tak punya hubungan darah. Latarbelakang keluarga, pola asuh, pendidikan, pengalaman, lingkungan, turut andil mempengaruhi cara berpikir seseorang. Jadi, wajar bila terjadi perbedaan pendapat. Tinggal bagaimana kita mengelolanya sehingga menjadi rahmat.

Berdebat

Sayang, dalam kenyataan sehari-hari perbedaan sering berujung pada pertentangan bahkan permusuhan. Lihatlah, perdebatan di forum-forum resmi maupun di warung-warung pojok kerap diwarnai dengan sikap emosional. Merasa diri paling benar, dan klaim kesalahan disematkan pada lawan bicara. Mereka bersitegang urat leher. Masing-masing berusaha mempertahankan argumentasinya. Kalau perlu, belum lagi orang selesai ngomong langsung dipotong. Akibatnya, dalam perdebatan itu bukan lagi untuk mencari kebenaran, tetapi siapa yang akan menang.

Jika sudah begitu, jangan harap akan tercapai kesepahaman. Sebab, boleh jadi seseorang jauh di lubuk hatinya mengakui pendapat yang dibentangkan sang rival, tapi karena disaksikan oleh khalayak ia pun berusaha melindungi harga dirinya. Pokoknya, logis atau tidak, yang penting ada sanggahan! Kalau perlu banyaringan pander, tak peduli isi bantahan kurang bermutu.

Umat Islam sendiri sampai hari ini masih sering terjebak pada perdebatan hal-hal khilafiyah, sesuatu yang mungkin tidak akan pernah tuntas untuk dibicarakan.

Pernah kejadian di sebuah kampung warga berdebat mengenai boleh-tidaknya membaca syair maulid disertai tabuhan tarbang di dalam masjid. Kedua kubu bersikeras dengan pendapatnya. Bahkan, hampir saja terjadi bentrokan fisik. Masing-masing sudah ada yang membawa parang, tombak, dan kayu. Siap berduel. Untunglah, aparat segera datang, dan ulama bijak sigap menenangkan. Jika tidak, mungkin akan terjadi pertumpahan darah.

Kasus di atas hanyalah satu contoh dampak dari perdebatan. Jangankan masyarakat awam, mereka yang katanya intelek pun saat berdebat kadang lepas kontrol, mengabaikan etika, dan tak mencerminkan sikap sebagai orang yang berpendidikan. Akibatnya, perdebatan menjadi sesuatu yang kontra-produktif. Bukan cuma memubazirkan energi, juga bisa menggiring pada pertikaian. Entah nanti jika masyarakat kita sudah ‘dewasa’. Tetapi, kapankah itu?

Keunggulan Tulisan

Daripada berdebat lebih baik apa yang jadi bahan polemik diulas dalam sebuah tulisan. Dengan begitu, kita bisa berpikir tenang dan mengumpulkan referensi pendukung sebanyak-banyaknya agar lebih meyakinkan. Kita dapat leluasa mengungkapkan dalil-dalil, hujjah-hujjah, data-data, fakta-fakta, secara sistematis dan komprehensif. Tak perlu khawatir bakal ada yang memotong apa yang hendak kita kemukakan.

Beda dengan ketika berdebat, barangkali belum lagi kita tuntas membeberkan argumentasi sudah keburu dipangkas. Perhatikanlah, kalau Anda nonton debat publik yang hampir tiap malam disiarkan TV swasta, betapa sering paparan narasumber terpotong, baik oleh lawan bicara, moderator, maupun tuntutan iklan yang harus tampil. Belum lagi jika si pemandu acara cenderung memihak, boleh jadi porsi bicara kita sengaja dibatasi. Sebentar-sebentar omongan kita di-cut, sehingga pesan yang mau disampaikan tak pernah utuh. Maka, daripada kecewa mendingan kita menulis.

Kayak apa pendapat dangsanak, akur juakah? []

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*