Penulis Yakin dengan Potensi Sendiri

CLICKBORNEO.COMIntelegensi bukanlah segala‑galanya. Untuk menjadi penulis tidak harus super cerdas. Asalkan pandai memberdaya­kan nalar, siapa pun “berhak” jadi penulis.

Putu Wijaya

Putu Wijaya  ketika menggarap novel Telegram dilecut oleh semangat untuk membuktikan bahwa orang yang tidak banyak tahu pun layak dan harus diperhitungkan di Indonesia ini (Lihat: Dari Bila Malam Bertambah Malam sampai Nyali dan Gerr” Putu Wijaya dalam Proses Kreatif, Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang, Editor Pamusuk Eneste hal: 151).

Kepercayaan terhadap potensi sendiri, perlu dipupuk. Tanpa kepercayaan diri biasanya orang hanya berjuang seten­gah hati. Para psikolog dibidang pengembangan sumber daya manusia acapkali menasehati bahwa besar‑kecilnya nilai manusia sebanding dengan kapasitas pikirannya. Jika seseor­ang yakin bahwa kelak ia bakal jadi penulis tentu tidak akan berhenti berusaha kendati dihadapkan dengan berbagai kenda­la, hingga cita‑citanya benar‑benar terealisasi. Hukum alam menetapkan siapa yang gigih dialah yang berhak tampil seba­gai pemenang.

Setiap perjuangan tentu saja menuntut pengorbanan. Salah satu modal yang harus dimiliki seorang calon penulis adalah gemar membaca. Dengan sering membaca pembendaharaan kosa kata terus bertambah, pun lambat‑laun akan tahu bagai­mana merangkai kata, menyusun kalimat, membuat paragraf hingga berbentuk karangan utuh.

Kalau kita rajin menyimak sisi kehidupan penulis, rasanya tak ada yang tidak kutu buku. Dari sering menyimak karya orang lain akhirnya tumbuh obsesi untuk menulis karya sendiri yang lebih bermutu.

Hal serupa dialami (Alm) Asmaraman S. Kho Ping Hoo. Karena merasa tidak puas terhadap cerita‑cerita silat yang beredar waktu itu, ia sempat berkomentar bahwa ia pun mampu menulis fiksi yang lebih berbobot. Ternyata ia tidak sekadar jual omong kosong. Terbukti karya‑karyanya begitu digandrun­gi kalangan muda hingga orang dewasa. Sekali lagi, disini faktor kepercayaan diri sangat dominan memegang peranan.

Perlu pula disadari oleh seorang penulis pemula, bahwa bilamana satu‑dua tulisannya berhasil menembus media massa hendaknya ia tidak segera berpuas diri. Sebab begitu seseor­ang dihinggapi rasa puas maka seketika itu pula ia akan stagnasi, bahkan mungkin mengalami kematian kreativitas.

Padahal seorang penulis tidak saja bersaing dengan rekannya sekarang dan para pendahulunya (lihatlah karya‑ karya penulis yang telah wafat hingga kini banyak beredar dan dicetak ulang!) tapi juga penulis di masa depan yang terus bermunculan. Inilah keunikan profesi penulis. Jika tidak memiliki nafas marathon, tentu setelah beberapa kali sempat menghiasi lembaran media massa namanya akan tenggelam  dan dilupakan orang.

Karena itu hasrat untuk menghasilkan karya terbaik dalam berbagai kesempatan perlu terus dipupuk. Seorang penulis sejati baru berhenti jika keadaan sudah benar‑benar tak memungkinkan lagi! []

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*