Pamali Jum’at, Agar Fokus Beribadah

CLICKBORNEO.COMDalam masyarakat Banjar cukup banyak pantangan yang tidak boleh dilakukan pada hari Jum’at. Biasanya larangan itu berbungkus dengan ungkapan pamali. Bahkan ada semacam ‘wanti-wanti’ yang apabila dilanggar bakal rawan kena musibah.

Shalat Jumat

Sebelum lebih jauh membicarakan seputar pamali Jum’at, agar tidak disalah-pahami oleh segelintir orang, ada baiknya terlebih dahulu mengungkapkan keutamaan Jum’at.  Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Jum’at itu penghulu dari segala hari. Dan sesungguhnya Jum’at itu hari yang mulia di sisi Allah (HR. Imam Hambali dan Ibnu Majah).

Kenapa demikian, karena pada waktu itulah Allah pertama kali menciptakan organ Nabi Adam ra, menghidupkan jasadnya, menurunkan ke bumi, dan mewafatkan beliau setelah berusia 1.250 tahun.

Dalam hadis lain disebutkan bahwa di antara malam dan siang Jum’at itu ada suatu saat doa yang sangat mustajab, tiada seorang hamba bermunajat melainkan permohonannya dikabulkan, selama dia tidak meminta sesuatu yang diharamkan Allah. Dan, pada hari Jum’at pula akan terjadi kiamat qubra.

Nah, untuk menghormati hari mulia itulah, muncul tradisi pamali Jum’at.

Misalnya, tidak boleh bepergian jauh di hari Jumat. Atau jangan keluar rumah malam Jum’at, terutama bagi anak gadis. Termasuk pantangan bekerja ke kebun atau pahumaan. Sampai-sampai tukang bangunan rumah minta libur di hari itu.

Sarat Makna

Orang-orang dulu acapkali memperingatkan anak-anak mereka bahwa pamali bermain-main pisau atau berkejar-kejaran di hari Jum’at. Dikatakan, kalau luka bakal keluar masjid.  Padahal maksudnya cuma untuk menakut-nakuti. Dan terbukti larangan itu cukup efektif dipatuhi.

Ini satu bentuk pendidikan kepada anak-anak untuk menjauhkan mereka dari senjata tajam. Sebab kalau luka orangtua terpaksa membawanya ke rumah sakit, sehingga tidak bisa ikut shalat Jum’at ke masjid. Karena kala itu manteri atau dokter masih sedikit,  rumah sakit adanya pun cuma di kotamadya, maka musti antre dan butuh waktu panjang untuk berobat.

Begitu pula dengan pamali berpergian jauh di hari Jum’at, lantaran dikhawatirkan akan ketinggalan shalat Jum’at. Sebab, waktu itu alat transportasi tidak secanggih seperti sekarang. Orang bahari kalau berpergian naik perahu, kapal, atau sepeda, enam sampai sepuluh jam baru tiba ke tujuan.

Itulah sebabnya dikatakan pamali bepergian jauh di hari Jum’at. Efeknya supaya shalat Jum’at tidak ketinggalan. Sebab bagi laki-laki yang tiga kali tidak shalat Jum’at maka malaikat akan mencap tanda di dahinya sebagai munafik.

Bahkan saking besarnya penghormatan orang-orang dulu terhadap Jum’at, ada yang menyatakan pamali mencari nafkah di hari itu, hasilnya tidak akan membawa berkah. Makanya, jarang yang pergi ke sawah atau ke kebun. Tukang bangunan pun minta libur, sebab kalau dia bekerja di hari Jum’at akan dianggap masyarakat buntat.

Dalam fiqh para ulama mengatakan, kalau ada orang yang bekerja sampai adzan Jum’at yang pertama maka hasil usahanya hari itu jauh dari keberkahan.

Makanya, orang dulu hari Jum’at tidak mau bekerja. Karena sebelum mau berangkat ke masjid perlu persiapan mandi dan bersih-bersih  badan.

Pantangan menyadap gula atau naik pohon di hari Jum’at, juga terkait dengan kekhawatiran bakal ketinggalan shalat Jum’at itu. Lagi pula, kalau sampai terjatuh dari pohon tidak akan ada yang tahu dan menolong, sebab orang-orang sedang pergi shalat Jum’at, sehingga akibatnya bisa fatal. Makanya, disarankan hari lain saja. (ali)

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*