Optimalisasi Peran Muslimah dalam Kegiatan Publik

    Oleh: Maimunah Zarkasyi

CLICKBORNEO.COM – Pembicaraan yang selalu menarik untuk di simak adalah pandangan di masyarakat tentang hakekat perempuan. Seperti akhir-akhir ini gencar di sosialisasikan oleh kaum Liberal adalah program pemberdayaan perempuan, kesetaraan gender atau penyamaan hak lelaki perempuan.

Muslimah

Menurut mereka, perempuan yang berdaya apabila ia dapat berperan di sektor public pada segala bidang. Kaum feminin memandang peran dan posisi ibu rumah tangga dianggap rendah.  Mereka tidak mau dianggap pelengkap tetapi ia harus berperan dan bersaing dengan lelaki.

Ternyata pandangan dan gerakan kaum Liberal ini harus terlepas dari pandangan agama apapun. Perlu diwaspadai bahwa pandangan itu justru mengorbankan peran dan hak-hak perempuan.

Lalu, apa peran Muslimah dalam kegiatannya sebagai insan public dan bagaimana cara mengoptimalkan perannya tanpa meninggalkan koridor agama? Hal ini harus di fahami bersama terutama oleh kaum perempuan sendiri.   Selagi belum memahami hakekat  dan peran Muslimah maka akan terus muncul pertanyaan-pertanyaan yang sukar untuk di jawab. Pertanyaan yang menggelitik  adalah; Jika Kuota perempuan 30 % (persen) dalam kiprahnya di dunia publik terpenuhi, apa peran Muslimah terwujud secara optimal? Kuota itu sebetulnya harus difahami secara kwalitas bukan secara kwantitas. Oleh karena konteks apa dan bagaimana peran perempuan sebagai Muslimah dapat mensejahterakan semua pihak  tanpa ada yang harus dirugikan? Hal ini harus didiskusikan.

Ketika Islam menempatkan lelaki sebagai pemimpin dalam rumah tangga dan perempuan sebagai pengurus domestik, sama sekali tidak bermaksud untuk merendahkan martabat perempuan. Makna falsafah kepemimpinan tersebut dalam Islam tidak di maksud sebagai kemulyaan dan kerendahan, tetapi kepemimpinan adalah tugas yang berat yang harus dipertanggung jawabkan kaum lelaki di hadapan Allah. Dalam Islam  perempuan dan lelaki ada porsi  sesuai fitrahnya.  Agar tidak salah persepsi hakekat muslimah harus difahami dalam konsep Islam secara tekstual dan secara kontekstual.

Dalam pandangan Islam semua manusia laki laki dan perempuan  punya tugas yang sama untuk menjadi Khalifah (pemimpin, penguasa, wakil Allah) di Bumi, demikian al-Qur’an menjelaskan   (lihat,  S. Al- An’am 6: 165).   Maknanya, setiap orang harus menjadi wakil untuk menjalankan sistem Allah di bumi ini agar dapat menjadi “Abdillah (hamba  Allah) yang menjadi tujuann hidup setiap muslim.

Arti Khalifah  bukan hanya  pemimpin atau pejabat atau penguasa di masyarakat saja tetapi ia menjadi wakil Allah di bumi dimana ia berada. Tugas khalifah itu ia harus dapat memimpin diri sendiri, keluarga, orang lain dan  masyarakat.  Ia harus dapat menjadikan dari suatu yang tidak manfaat menjadikan manfaat, harus dapat merubah dari keadaan yang jelek menjadi terbaik. Khalifah harus dapat memelihara dan melestarika alam agar tetap keseimbangan, dan ia harus dapat menyelamatkan dari sesuatu yang berbahaya. Allah memerankan manusia sebagai khalifah dalam rangka ia menjalani tugasnya sebagai ‘Abdillah (hamba Allah), kedua kata Khalifah dan Abdillah) adalah seperti sisi uang yang harus diperankan bersamaan. Konsep Islam telah jelas menyamakan hak dan kewajiban antara lelaki dan perempuan sebagai Khalifah dan ‘Abdillah, dan kedua peran ini harus difahami maknanya secara benar.

Lantas, bagaimana konstruksi sosial  keberadaan perempuan sebagai gender yang dimaksud  oleh kaum Liberal? Mereka memandang perempuan berdaya adalah yang berperan pada sektor publik dibidang ekonomi dan politik dll. Peran ibu RT dianggap rendah tak memiliki status sosial  dan ia tidak menghasilkan uang.   Jika perempuan beristimasi seperti itu kemudian dengan emosi berusaha bersaing dengan lelaki, ini sangat keliru.

Kemudian bagaimana konteks Islam tentang muslimah?  Dalam Islam    perempuan sebagai pasangan (bukan pesaing) lelaki yang saling melengkapi.  Perempuan harus mengoptimalkan peran Muslimah dimanapun ia berada, ia  ditakdirkan menjadi ibu (UMI), tugasnya pengatur rumah tangga, mendidik anak itu suatu aktivitas yang sangat mulia. Yang tak dapat dipungkiri adalah  kwalitas SDM dan terwujudnya anak shalih hanya dapat diwujudkan oleh ibu yang shalihah, itulah sebabnya Rasul mengeluarkan statmen ; “Sebaik baik perhiasan di dunia ini adalah wanita yang Shalihah”. Dan tidak dapat disangkal pernyataan bahwa; “Surga itu ada di bawah telapak kaki seorang Ibu”. Berarti  seorang ibu akan menentukan  surga atau neraka seseorang yang diasuhnya. Seorang presiden, para mentri, gubernur, dan pemimpin di masyarakat adalah seorang anak yang hasil didikan seorang ibu, jika ada pejabat yang koropsi, atau bertindak kejahatan, tentunya peran ibu sangat menentukan. Para ulama, orang `alim    itupun tidak lepas dari peran seorang ibu.

Kemudian bagaimana perempuan yang berperan di masyarakat ? Islam adalah agama yang universal yang dapat menyesuaikan zaman.  Di Abad modern ini Jika perempuan berperan di masyarakat termasuk di dunia publik,  ia harus bisa memilih peran sebagaimana fitrah ibu yang muslimah, dan ia tetap sebagai pasangan lelaki dan pelengkap yang saling mengisi. Perempuan harus cerdas memilih peran di masyarakat.   Yang lebih penting lagi muslimah harus memahami bahwa apapun kegiatannya di masyarakat, ia tetap harus berada dalam koridor agama Islam dan diniatkan sebagai khalifah dan ‘Abdillah.

Kesuksesan (goal) seorang perempuan bukan diukur dari perannya di masyarakat dan di dunia saja, tetapi kesuksesan (ultimate goal) adalah bagaimana mengoptimalkan dirinya sebagai Muslimah.   Seorang  muslimah memahami tugas dan tanggung jawab yang sesuai ketentuan Allah dan Rasul-Nya, akan memberi kontribusi sangat besar bagi kemajuan Islam dalam meraih kejayaan kembali. []

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*