Nasi Arwah Bikin Penyakit Kambuh?

CLICKBORNEO.COM – Ternyata, nasi arwah bukan cuma pantangan bagi mereka yang mengidap gangguan saraf saja. Mereka yang pernah sakit parah, juga banyak yang tidak mau makan nasi arwah.

Nasi Haul

 “Dulu saya sempat muntah darah. Sampai‑sampai anak‑ istri saya menyangka saya bakal mati. Alhamdulillah, saya masih berumur panjang. Tapi, oleh handai‑taulan saya disar­ankan untuk tidak makan nasi arwah. Beberapa kali saya pernah melanggar, ternyata terbukti tubuh saya rasanya pegal‑pegal dan kepala sakitnya bukan main. Kemudian daripa­da menanggung sakit, lebih baik saya berpantang untuk tidak makan nasi arwah,” ujar H. Darmi.

Ketika didesak bagaimana mungkin nasi untuk selamatan bagi arwah bisa mempengaruhi penyakit seseorang Darmi tidak bisa menjelaskan. Ia sekadar mengikuti apa yang menja­di kebiasaan sebagian masyarakat di lingkungannya.

“Mungkin sama hal seperti kenapa seorang anak dilarang ikut ziarah ke kubur, karena khawatir mereka bisa sakit akibat kapidaraan (kemayat‑mayatan),” ungkap H. Darmi.

Tapi, dia mengaku tetap saja berhadir jika diundang untuk selamatan haul. Agar hubungan silaturahmi dengan tetangga tetap terjalin. Namun, apabila hidangan disuguhkan ia tidak berani ikut menikmati. Biasanya tuan rumah sudah maklum, tidak bakal tersinggung. Hal ini bukan cuma diala­minya seorang, teman‑teman lain pun banyak yang tidak mau makan nasi arwah. Jadi, ia tidak merasa rikuh dengan kea­daannya itu.

“Tapi, ada juga orang yang karena dirinya berpantang makan nasi arwah, setiap di undang dia tidak berhadir. Ini kan namanya memutus silaturahmi. Padahal selamatan bukan semata‑mata untuk makan‑makan, tujuan utamanya ialah membaca doa keselamatan bagi sang arwah,” tandasnya.

Jadi, tambahnya, alangkah bijak kalau diundang tetangga supaya kita tetap datang. Kalau orang‑orang sedang menikmati suguhan, kita bisa saja membawa pulang untuk anak‑istri di rumah. Tanpa harus melanggar pantangan.

“Daripada berisiko lebih baik baarit liur (menahan selera). Tuh tidak makan nasi sepiring juga tidak rugi,” katanya tetap bersikokoh untuk tidak mau melanggar pantangan.

Pengaruh Sugesti

Drs H Ariansyah mengaku sering menemui orang yang berpantang untuk makan nasi arwah. Karena adanya kepercayaan yang sedemikian kuatnya tertanam, bahwa apabila makan nasi arwah maka penya­kit yang dulu pernah dideritanya akan kambuh.

“Di kampung saya ada sekitar empat atau lima orang warga yang tidak mau makan nasi arwah. Menurut pengakuan mereka, apabila makan nasi arwah maka seluruh anggota badan mereka terasa ngilu‑ngilu,” jelasnya.

Dan mereka yang punya pantangan semacam itu, bukan cuma orang Banjar, yang berasal dari Sunda dan Jawa pun ada yang menolak makan nasi arwah karena tidak ingin penyakitnya komat. Padahal dalam keseharian mereka terlihat sehat‑sehat saja.

“Yang jelas itu hanya kepercayaan pribadi. Mungkin karena terlanjur tersugesti, akibatnya begitu dilanggar kontan berpengaruh pada fisik individu bersangkutan. Ibarat kita pernah mengalami kejadian menyakitkan di suatu tempat, sehingga setiap melalui tempat yang sama, ada perasaan trauma,” imbuhnya.

Kadang Ariansyah menganjurkan mereka yang berpantang makan nasi arwah untuk seseka­li mencoba, siapa tahu tidak berdampak apa‑apa. “Tapi umumnya mereka tidak berani. Itulah kebiasaan sebagian masyarakat kita,” tandasnya. (ali)

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*