Musik Kuriding Terancam Punah

Generasi sekarang barangkali cukup akrab dengan bait lagu Banjar : “Ampat lima ading ai kuriding patah ….” Tapi, seperti apa bentuk kuriding itu sendiri dan bagaimana cara memainkannya, mungkin tak banyak yang tahu. Sebab, jenis musik khas Kalsel tersebut kini memang semakin langka.

netKarena itu, ketika tiga orang pemain kuriding asal Marabahan tampil pada pembukaan Kongres Budaya Banjar beberapa waktu lalu, para penonton pun berjubel menyerbu. Mereka penasaran sekaligus heran menyaksikan atraksi unik itu.

Tangan kiri pemain kuriding tampak memegang tali pendek melingkar yang berfungsi untuk menahan bilah kayu itu. Sementara tangan kanan menarik-narik tali panjang yang diikat pada ujung bilah sebelahnya. Di saat bersamaan terdengarlah bunyi seperti angin menderu-deru ditingkahi irama yang menghentak-hentak.

Di daerah Hulu Sungai, khususnya Barabai dan Tapin, alat musik tradisional ini dinamai kuriding. Bahan baku yang digunakan pelepah enau dan bambu. Sedangkan di daerah Bakumpai (Batola) dikenal dengan sebutan guriding. Bahan bakunya pun sedikit berbeda, yakni terbuat dari kayu Bangaris dan pelepah daun Sirang atau sejenis kelapa yang tumbuh di semak belukar. Meski demikian, dari segi bentuk maupun fungsinya sama saja.

Bentuk kuriding segi empat panjang, dengan kedua ujung sengaja dibikin bundar. Hal itu dimaksudkan, selain buat keindahan dan kenyamanan saat memegang, juga agar tak membahayakan bagi mulut dan bibir ketika membunyikannya. Di tengah kuriding terdapat alat getar yang memanjang berupa ilat (di sebelah kanan) dan butuhnya (di sebelah kiri).

Menurut cerita rakyat yang berkembang di masyarakat, konon dulu alat musik kuriding ini dimiliki oleh macan. Suatu hari, si Macan memerintahkan anaknya untuk membunyikan alat tersebut.  Saking asyik memainkan kuriding, tiba-tiba ilat atau alat getar kuriding itu patah dan menusuk kerongkongan anak macam. Akibatnya fatal, berujung pada kematian. Maka, sejak itu si Macam bersumpah tidak akan lagi menyentuh kuriding. Bahkan sekadar mendengar bunyinya pun tak sudi. Hal itu diamanatkan kepada anak-cucunya.

Karena itu, masyarakat dahulu meyakini bahwa kuriding merupakan alat pengusir macan.  Para petani yang tinggal di sawah atau ladang yang jauh dari pemukiman penduduk sering membunyikan kuriding supaya terhindar dari serangan macan. Di samping itu, lantaran jauh dari kampung kuriding berfungsi sebagai penghibur hati kala dilanda sunyi.

Bahkan dulu sering diadakan acara Baturai Kuriding yang dibawakan oleh beberapa orang. Pagelaran ini tak ubahnya seperti pertunjukkan musik yang sudah diaransemen, sehingga tiap pemain punya tugas masing-masing. Ada yang bertindak sebagai paningkah, panggulung, pamacah dan panggiring.

Sayang, aset kebudayaan masyarakat Banjar yang satu ini sekarang hanya tinggal nostalgia. Semakin hari pemain kuriding semakin langka. Kalaupun masih ada, jumlahnya bisa dihitung dengan jari tangan. Di antara penyebab kelangkaan itu, lantaran cara membunyikan dan melagukannya yang agak sulit. Kalau saat menarik tali kuriding tidak sesuai dengan yang semestinya, maka alat getarnya tidak akan bereaksi sehingga bunyi pun takkan lahir. Begitu pula tinggi rendah nada tidak bisa ditentukan secara pasti. Misalnya, kalau nada do posisi bibir di mana, rongga mulut seberapa luas, dan kedudukan ilat bagaimana, tidak ada aturan bakunya. Semua semata berdasarkan perasaan. Perlu banyak latihan dan kerja keras untuk piawai memainkan kuriding.

Karena itu, bagi kabupaten/kota yang masih memiliki pemain kuriding agar petugas kesenian setempat memberikan perhatian khusus dan pembinaan. Perlu ada upaya pengaderan pemain kuriding kepada generasi muda, sebab yang masih tersisa kini umumnya sudah tua-tua.  Jika tidak, dikhawatirkan kelak kuriding tinggal hanya sebatas nama.[]

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*