Muhammad Bulkini, Novelis Pemenang Aruh Sastra Kalsel ke-X

Bincang Bersama Muhammad Bulkini, Penulis Novel ‘Racun’ Pemenang Aruh Sastra Kalsel ke-10  di Banjarbaru Tahun 2013 

CLICKBORNEO.COM-  Muhammad Bulkini, namanya mulai tercatat dalam ranah perkembangan sastra di Kalimantan Selatan setelah karyanya yang berjudul ‘Racun’ berhasil memenangkan lomba penulisan novel pada gelaran Aruh Sastra Kalsel ke-10 tahun 2013 di Banjarbaru, Oktober kemarin.

RacunPria kelahiran Tambak Danau, Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar ini mengaku saat ini sedang sibuk mengerjakan proyek novelnya yang lain, di samping kewajibannya mengisi halaman religi di Harian Umum Media Kalimantan.

Kepada Media Kalimantan, Muhammad Bulkini membagikan seputar proses kreatif dan pengalamannya dalam menulis novel ‘Racun’. Yang mana menjadi penulis merupakan satu dari sekian banyak hobi dan cita-cita yang dari dulu ingin diwujudkan.

“Alhamdulillah, novel perdana yang saya tulis diikutkan lomba dan akhirnya meraih juara. Sebenarnya menulis saja perlu proses panjang selain tenaga, waktu, dan pikiran. Juga perlu ketetapan hati. Karena setiap penulis pasti dihampiri godaan seperti tak sabar ingin selesai, atau sekadar mendapatkan popularitas semata,” ujar pria kelahiran 22 September 1986.

Alumnus IAIN Antasari Banjarmasin ini mengaku merampungkan novel ‘Racun’ dalam jangka waktu 4 bulan mengangkat tema sejarah dan adat lokal Kalsel terkhusus wilayah kelahirannya, Kecamatan Astambul.

“Kisah dari novel ‘Racun’ terangkat dari isu masyarakat luas yang sampai kini masih menjadi misteri. Memang, pada waktu permulaan belum terpikir akan mengikutkan karya ini pada suatu lomba. Tapi beberapa sahabat di lingkungan penulis menyarankan saya agar diikutkan siapa tahu juara. Jadinya, ya,  sedikit buru-buru juga. Tersebab harus merampungkannya sebelum deadline dari panitia lomba,” paparnya.

Meski demikian, Bulkini tidak mengamini jika cerita dalam novelnya adalah kisah nyata. Ia lebih suka menyebutnya dengan karya fiksi yang menunjukkan banyak fakta.

“Yang jelas manusia tentu tak bisa meninggalkan sejarah begitu saja. Bahkan dalam tiap pribadi kita mempunyai tokoh-tokoh yang tak terlupakan dalam hidup serta peristiwa-peristiwa sebagai media pembelajaran. Ada banyak cerita yang membuat menangis dan tertawa, dan ada banyak sejarah yang kemudian berbuntut panjang, hingga hari ini. Dan fenomena adanya racun adalah salah satunya,” terangnya.

Menurut Bulkini, racun sendiri dalam konteks masyarakat pedalaman, menjadi sejarah yang hingga kini tak menemukan solusi. Sehingga, racun yang dimaksudkan terus-menerus menumbalkan korban.

“Setidaknya keberadaan Novel ini juga menjadi warning kepada masyarakat agar lebih teliti saat makan di luar rumah, di bulan-bulan tertentu pada tahun Hijriyah, semisal Muharram dan Safar. Yang mana kepercayaan masyarakat akan adanya wabah racun dibuang dalam bulan tersebut masih erat tersimpan dalam ingatan,” bebernya.

Ketika ditanyakan kendala dalam proses penulisan novel perdananya itu, Bulkini mengaku mendapati kesulitan dalam riset atau mewawancarai sosok yang benar-benar mewaris ‘Racun’.

“Agak kesulitan memang. Karena tak ada satu orang pun pemiliknya yang bisa diwawancara serta menunjukkan seperti apa botol racun yang digambarkan. Saya terus menggali informasi dari peneliti racun baik dari buku dan artikel. Dan opsi terakhir adalah bertanya dengan orangtua saya. Nah, cerita dari mulut ke mulut itulah yang saya jabarkan dalam novel ‘Racun’,” akunya.

Lantas, apa proyeksi ke depan terhadap ranah sastra di Kalimantan Selatan? Ia mengaku sedang berproses untuk kembali menuliskan novel kedua. “Mungkin kalau tema tak jauh dari ranah sosial, ketuhanan, dan keluarga. Wah, jadi gak rahasia lagi. Saya berharap novel berikut, siapapun penulisnya, apapun tema yang diangkatnya, bisa mengangkat khazanah perbukuan Kalimantan Selatan di Nasional, bahkan di dunia. Lihat saja nanti,” tegasnya dengan senyum optimis.

Sebagaimana intisari pesan cerita dalam novel ‘Racun’, Bulkini mengingatkan agar masyarakat lebih waspada terhadap dunia hitam terlebih seputar persahabatan dengan makhluk gaib yang mana mudharatnya juga pasti ditanggung diri pribadi, keturunan, dan pemerintahan.

“Dan yang paling utama adalah, perhatian pemerintah kepada para pejuang-pejuang kampung yang terkucilkan. Yang bisa menjadi pengingat generasi mendatang akan perjuangan para pahlawan. Novel ini saya persembahkan kepada mendiang kakek sebagai pejuang yang terlibat peperangan melawan penjajahan. Di masa tua ketika wafat, tanpa merah putih di pusara kuburan,” pungkasnya.

One Response to Muhammad Bulkini, Novelis Pemenang Aruh Sastra Kalsel ke-X

  1. riduan

    terus maju saudaraku
    jangan pernah menyerah dengan segala kondisi dan keadaan yang bagaimanapun
    optimis dan keyakinan merupakan modal utama
    selamat berjuang
    sukses

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*