Menulis Wujud Tanggungjawab Moral Ilmuwan

CLICKBORNEO.COM – Herannya, ketika didesak kenapa para intelektual tadi tidak menulis, beragam dalih pun mereka kemukakan. Dari tidak banyak punya waktu sampai kesulitan menuangkan gagasan dengan tulisan.

Menulis 01

Menurut saya, kaum cerdik pandai tersebut bukannya tidak bisa menulis, melainkan enggan. Bayangkan, menggarap makalah, skripsi, tesis, desertasi yang tingkat kesulitannya jauh lebih tinggi saja mereka mampu. Masak menulis esei, artikel, di media massa yang panjangnya cuma 3‑5 lembar kuarto tidak sanggup? Inti persoalannya justru terletak pada ketiadaan motivasi yang kuat untuk menulis.

Padahal, sebagai cendekiawan mereka punya tanggung jawab moral dan sosial untuk mencerdaskan dan mencerahkan masyarakat. Misalnya di kancah politik, kenapa hari ini orang‑orang yang moralnya bobrok atau pendidikannya tidak memadai, kok bisa lulus masuk lembaga legeslatif? Bukan berita spektakuler lagi  kalau seseorang yang tadinya makelar, tukang ojek, pengangguran luntang‑lantung, bahkan suka main perempuan, ternyata pada pemilu lalu terpilih sebagai anggota DPR/DPRD. Itu bisa terjadi karena  pendidikan politik di negeri ini masih rendah, sehingga masyarakat kurang bisa memilih wakil rakyatnya dengan jeli. Semua itu,  mau diakui atau dipungkiri, sedikit‑banyaknya akibat ‘dosa’ kaum intelektual yang minim dalam memberikan pendidikan politik. Salah satunya lantaran malas berbagi pengetahuan lewat tulisan.

Karena itu, dalam kesempatan ini saya mengajak para pengamat politik, pakar hukum, budayawan, psikolog, sosiolog, antropolog, seksolog, pemerhati lingkungan hidup, dosen, ulama, aktivis LSM, dan lain‑lain, untuk menulis sesuai bidang dan keahliannya masing‑masing. Jangan sampai kita termasuk orang menyembunyikan ilmu, sebab dalam ajaran Islam manusia kategori ini kelak di akhirat akan dilaknat Allah. Sungguh, kita berlindung dari hal demikian!

Sekarang ini beragam problem mendera bangsa kita. Mulai kenakalan remaja hingga kerakusan penguasa. Dari hal yang kelihatannya sepele namun cukup krusial, sampai permasalahan teramat serius. Semua itu, membutuhkan sumbangsih pemikiran siapa saja, terutama dari kaum cerdik pandai. Supaya pemikiran si bersangkutan dapat dicerna oleh banyak orang, bahkan lintas waktu dan generasi, alangkah baiknya menggunakan media tulisan.

Kalau cuma ‘jual’ omong, pedagang obat di pasar kaki lima jauh lebih hebat. Maka, agar tidak disebut gombal, bagaimanapun caranya kalangan intelektual harus terbiasa dan piawai menulis.

Alangkah ruginya kita menuntut ilmu puluhan tahun, berusaha meraih gelar setinggi mungkin; tapi begitu tercapai, ilmu yang dimiliki hanya untuk dinikmati sendiri. Orang lain tak banyak tahu bahwa kita sebenarnya punya sumur pengetahuan ‑- apalagi untuk mengambil manfaat darinya ‑‑ karena salah kita sendiri tidak pernah mengucurkannya lewat tulisan. Begitu ajal tiba, segala ilmu yang kita peroleh dengan susah‑payah juga ikut sirna. Sungguh, betapa naifnya!

Beda kalau ilmu itu kita transfer dan investasikan dalam tulisan, walaupun kita telah meninggal dunia, generasi berikut tetap bisa menikmatinya. Setiap ada yang memetik manfaat darinya, tentu sepanjang itu pahala terus mengalir pada kita.

Jadi, masihkan para ilmuwan, cendekiawan, intelektual, cerdik‑pandai, kaum terpelajar, atau apapun sebutannya, enggan untuk menulis? []

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*