Menulis, Upaya Melanggengkan Ilmu

CLICKBORNEO.COM – Beruntunglah orang-orang yang dikaruniai kemampuan menghafal yang luar biasa. Dalam waktu relatif singkat sukses menyerap ilmu yang diberikan dan terpelihara rapi di pusat memori. Meski memiliki otak brilian, tetap saja kita perlu mengikatnya dengan tulisan. Sebab, kalau dibiarkan sekadar bersemayam di batok kepala berarti cuma si empunya diri yang bisa menikmati ilmu tersebut. Apabila habis umur, otomatis ilmu yang dimiliki pun ikut sirna. Sebaliknya, manakala sudah dituangkan dalam tulisan, insya Allah ilmu itu bakal langgeng sepanjang masa.

Tulis Ilmu

Karena itulah ulama-ulama dahulu meski rata-rata mempunyai daya hafal yang kuat, mereka tidak mau sepenuhnya mempercayakan ilmunya pada ingatan. Imam Syafi’i misalnya, dalam beberapa riwayat terkenal sangat jenius. Pada usia 13 tahun ia telah hafal Alquran dan banyak hadis. Suatu hari, ia mengikuti majelis akbar Imam Malik. Ketika jamaah lain bubar, Syafi’i tidak beranjak dari tempat duduknya. Imam Malik ibn Anas pun heran, lalu mendekati. Untuk menguji keseriusan anak muda itu menuntut ilmu, ia menanyakan sebuah hadis yang disampaikan dalam pengajian tadi. Ternyata bukan cuma satu, semua hadis yang baru didengar mampu dihafal oleh Syafi’i. Bahkan jauh sebelum pertemuan itu ia sudah hafal kitab Muwatta yang berisi ribuan hadis. Imam Malik pun terkesan, dan sejak itu mengangkatnya menjadi murid.

Walaupun memiliki daya hafal kuat, nyatanya Syafi’i tak abai untuk menuliskan ilmunya. Sebab, ia sadar mungkin saja sewaktu-waktu bisa lupa. Bagaimana pun tidak ada manusia yang sempurna, pasti punya keterbatasan.

Dalam buku Aadab Asy-Syafi’i wa Manaqibuhu karangan Ibnu Abi Hatim diceritakan, seorang sahabat bernama Al Humaidi ketika keluar tengah malam ia mendapati lampu rumah Syafi’i menyala. Ia pun mampir dan melihat di dekat cendekiawan Muslim itu terdapat secarik kertas dan pena. Ketika ditanya, Syafi’i menjawab bahwa ia tengah memikirkan makna sebuah hadis berkaitan dengan masalah fiqih, karena takut keburu raib maka ia segera menyalakan lampu dan menuliskannya.

Begitu pula dengan Imam Bukhari, dalam semalam ia bisa bangun sebanyak 18 kali untuk menuliskan sesuatu yang terlintas dalam ingatannya.

mam Nawawi pernah mengingatkan, “Janganlah seseorang meremehkan suatu faedah dalam bidang apapun yang didengar atau dilihatnya, tetapi hendaklah ia segera menuliskannya.

Bayangkan, mereka yang dianugerahi kecerdasan tinggi sekalipun tidak mau menggantungkan ilmunya semata pada hafalan; apalagi bagi yang merasa punya daya ingat pas-pasan seharusnya justru lebih gencar dan telaten untuk menggoreskan pena. Jangan sampai karena abai mengikatnya dengan tulisan, ilmu yang didapat raib begitu saja.

Kayak apa pendapat dangsanak, akur juakah? []

One Response to Menulis, Upaya Melanggengkan Ilmu

  1. Akur bnr. Karena manfaat dr menulis inilah, sy terus berusaha menuliskan sesuatu. Bukan hanya dpt mengikat ilmu, menulis juga jd sarana mengabadikan kenangan yg brgkali tak ingin kita lupakan. Sehingga suatu hari nanti saat kerapuhan usia menggerogoti kemampuan diri, plg tidak kita punya ‘sesuatu’ yg ditinggalkan. Kelak, anak cucu dpt mengenangnya, lewat tulisan2 kita.

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*