Menulis Sarana Berbagi Ilmu

CLICKBORNEO.COM – Dalam konsep Islam, apabila kita ikhlas berbuat sesuatu, cepat atau lambat akan mendapat ganjaran dari sumber yang tak disangka-sangka. Ini janji Allah, lho! Karena itu, pasti berlaku.

Writing keyboard

Begitu pula, jika menulis didasari niat tulus untuk memberi pencerahan, mengajak pada kebajikan, memotivasi publik agar tergugah meningkatkan kualitas hidup, membangun kesadaran bersama, tunggulah ‘efek samping’ bakal menyertai Anda.

Kalau sampeyan seorang dosen, berkat sering menulis di media massa, mungkin saja tawaran untuk jadi pembicara semakin gencar. Kalau antum ustadz muda, karena kerap menulis boleh jadi pamor ikut meningkat, sehingga undangan sebagai khatib, penceramah, terus berdatangan. Kalau ente seorang guru, siapa tahu suatu hari nanti memudahkan untuk mendapatkan sertifikasi. Bahkan kalau Anda cuma orang biasa, kemudian berminat menjadi caleg, maka tak perlu lagi banyak mengeluarkan dana untuk mengiklankan diri, sebab nama Anda sudah dikenal luas. Semua itu hanyalah sebagian kecil dari berkah menulis.

Cukup banyak contoh orang yang ikhlas menulis akhirnya mendapatkan ‘bonus’ tak terduga.

Kini, siapa yang tak kenal Andrea Hirata. Padahal, dulu ia sama sekali tak pernah berniat untuk menjadi orang yang ngetop. Semua itu ia peroleh berkat ikhlas menulis. Ceritanya, Andrea menggarap novel Laskar Pelangi untuk dipersembahkan kepada Bu Muslimah yang kian beranjak tua. Ketika tulisan itu jatuh ke tangan sahabatnya, tanpa sepengetahuan Andrea, kemudian dikirim ke penerbit. Tak diduga sambutan publik begitu luar biasa. Dalam waktu relatif singkat mengalami belasan kali cetak ulang. Royalti pun mengalir deras ke saku Andrea Hirata. Apalagi setelah diangkat ke layar lebar. Konon semilyar lebih penghasilannya.

Padahal, waktu menulis novel fenomenal tersebut ia tidak pernah berharap atau memasang target yang muluk-muluk. Ikhlas semata untuk mengenang dedikasi dan pengabdian gurunya tersebut. Nyatanya, popularitas dan kekayaan berpihak pada Andrea.

Begitu pula yang terjadi dengan EWA, setiap hari ia menulis di blog untuk memotivasi pembaca. Kalau ada media cetak mau memuat tulisannya, ia pun mempersilakan tanpa menuntut soal honor. Niatnya semata untuk berbagi ilmu. Alhasil, ketika ia hendak menerbitkan buku, bantuan pun mengalir dari sahabat-sahabatnya. Belum lagi rezeki lain yang sifatnya non-material, seperti kepuasan batin, punya kenalan di mana-mana, dsbnya.

Suhadi, seorang guru di Danau Panggang (HSU), rajin menulis seputar masalah pendidikan. Ia ikhlas menulis dan terus menulis. Lalu, apa imbalan yang didapatkannya? Satu hal yang dirasakan Suhadi, kini kalau ke kantor Diknas setempat sambutan pegawai di sana kepadanya lebih hormat. Dan, penghargaan semacam itu tidak bisa dinilai dengan uang.

Jadi, kalau Anda ikhlas menulis, meskipun luput mendapatkan imbalan finansial, setidaknya Anda akan memperoleh pahala berbagi ilmu.

Kayak apa pendapat dangsanak, akur juakah? []

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*