Menulis, Cara Cerdas Mengikat Ilmu

Ikatlah ilmu dengan menuliskannya. (Ali bin Abi Thalib)

Tulis, bro

CLICKBORNEO.COM – Setiap saat kita punya peluang untuk memperoleh ilmu. Tidak harus melalui pendidikan formal. Justru dalam pergaulan sehari-hari banyak kita temukan ilmu tentang kehidupan yang jarang didapat di bangku sekolah atau kuliah. Tinggal bagaimana kita mengelola ilmu tersebut, sehingga tidak mudah lupa.

Agar ilmu yang telah kita serap tidak meruap digerus waktu, maka cara cerdas untuk mengikatnya ialah dengan menuliskannya. Kalau sudah ditulis dan dipublikasikan, berarti kita sekaligus berbagi ilmu kepada khalayak. Berbeda dengan harta yang apabila dibagi-bagikan akan berkurang, ilmu begitu didistribusikan malah semakin bertambah. Melekat kuat dalam ingatan, dan manfaatnya bisa dipetik oleh siapapun.

Banyak cara yang bisa ditempuh untuk mendapatkan ilmu. Misalnya, dengan menghadiri majelis taklim. Setiap kali mengikuti pengajian pasti ada ilmu baru yang kita petik dan bawa pulang. Supaya tidak mudah hilang, alangkah bagus bila dituliskan.

Ingat, tulisan saya tentang sikap iklas yang dicontohkan pemancing ikan pada edisi lalu (baca: Ikhlas Menulis Membawa Berkah) dicomot dari isi pengajian ustadz Ahmad Bayani. Andai tidak segera saya tulis, mungkin beberapa bulan kemudian jadi lupa. Tapi, karena sudah diikat dengan tulisan, insya Allah sepuluh tahun akan datang tetap ingat. Yang pasti ilmu tersebut tak lagi hanya dinikmati jamaah pengajian dengan jumlah terbatas; begitu ditulis dan dimuat di media massa otomatis warga yang berada di pelosok Amuntai, Barabai, Juai sekalipun, bahkan seantero Indonesia yang semula tidak tahu — karena juga diposting di blog — kini bisa turut mencernanya. Demikianlah salah satu kekuatan dari tulisan.

Ilmu juga bisa didapat dari menyimak pembicaraan, perdebatan, diskusi, seminar, lokakarya, dsbnya. Di sinilah pentingnya nilai filosofi kenapa kita diciptakan dua telinga agar banyak mendengar, dan satu mulut supaya sedikit bicara. Biarlah orang lain bakancangan urat gulu, kita cukup mengambil manfaat darinya. Jangan biarkan ilmu yang bertebaran di sekitar kita bersileweran begitu saja, cepat tangkap dan ikat dengan cara menuliskannya.

Termasuk bagi yang suka mencermati keadaan di sekeliling bisa memperoleh pelajaran berharga dari prilaku sesama. Bahkan dari hewan dan tetumbuhan pun kita bisa menuai ilmu. Umpamanya, perhatikanlah pohon yang batangnya dipotong (ditamsilkan dengan sedekah), tak lama kemudian bermunculan banyak ranting, lebih rimbun dari sebelumnya. Artinya, tanpa membaca buku-buku karangan ustadz Mansyur yang menekankan kalau kita rajin bersedekah maka rezeki akan bertambah — jauh sebelumnya fenomena alam telah mengajarkan itu. Hasil renungan semacam ini, jangan biarkan datang sesaat untuk kemudian pergi tanpa jejak. Caranya? Ya, cepat-cepat ditulis!

Membaca adalah metode yang praktis untuk menjaring ilmu. Dalam satu jam saja kita bisa menimba berbagai ilmu dari buku. Apabila ada kalimat yang berkesan, segera tulis. Kalau perlu jadikan kegiatan membaca sebagai pemantik untuk menulis. Dengan begitu, kita menempatkan diri tidak sekadar sebagai pengonsumsi buku, juga produsen tulisan.

Hal inilah yang dilakukan KH Adnani Iskandar, mantan Ketua Komisi Fatwa MUI Provinsi Kalsel. Setiap kali menemukan bahan bacaan yang dinilai penting, ulama sepuh ini mencatatnya. Hampir semua persoalan aktual di masyarakat, terutama yang bersifat lokal, tak luput dari perhatiannya. Kalau ada wartawan datang untuk mewawancarai, beliau tinggal mengambil cacatan sebagai rujukan.

Alhasil, di usia yang uzur sang kiai tetap eksis dan konsisten berbagi ilmu. Daya ingat dan penglihatan beliau masih tajam. Boleh jadi ini berkat kebiasaan sidin yang gemar membaca dan menulis.

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*