Menulis Buku Tebal dengan Cara Menyicil

CLICKBORNEO.COM – Mungkin Anda pernah membaca buku ESQ dan ESQ Power karangan Ary Ginanjar Agustian. Bukan hanya kemampuannya menemukan metode baru pencerahan jiwa yang patut mendapat acungan jepol, juga ketekunannya menggarap buku yang relatif tebal tersebut begitu mengagumkan. Hebatnya lagi,  karyanya itu menjadi masterpeace, mengalami cetak ulang belasan kali dalam waktu singkat.

Buku tebal

Atau, ada lagi yang lebih tebal yaitu cerita silat Senopati Pamungkas karangan Arsewendo Atmowiloto. Ketebalan buku ini hampir sama dengan Harry Potter‑nya JK Rowling.

Melihat buku‑buku dimaksud, boleh jadi dalam hati Anda bukan sekadar memuji, juga menggumam: “Kira‑kira saya sanggup nggak menulis seperti itu?” Lha, kalau orang lain bisa kenapa Anda tidak? Demikian  kalimat motivasi yang sering kita dengar dari orang‑orang tua dahulu.

Para penulis tersebut bisa menggarap buku setebal itu karena mempunyai metode khusus, yaitu mencicilnya setiap hari. Sedikit demi sedikit, tapi kontinyu. Tidak bisa sekaligus, begitu tancap langsung selesai. Sebagaimana ungkapan bijak mengatakan, setiap perjalanan panjang tentu dimulai dari langkah‑langkah kecil.

Memang, maunya sih dalam menulis kalau bisa sebanyak mungkin dalam waktu sesingkat mungkin. Tapi, kemampuan manusia terbatas. Tidak setiap saat Anda punya tenaga yang fit, pikiran yang jernih, dan waktu yang lapang. Ada hal‑hal lain yang kadang mendesak menuntut perhatian Anda. Misalnya, apa Anda tega menolak ketika anak Anda minta diantar berobat ke dokter? Apa Anda bisa cuek terus menulis, sementara para tetangga di kompleks bergotong‑royong? Apa Anda sampai hati tidak menghadiri undangan selamatan atau perkawinan kerabat Anda? Bagaimanapun Anda harus pandai dan cerdas membagi waktu. Jangan sampai karena ambisi tertentu, tanpa sadar Anda terjebak menjadi orang yang egois.

Sekali lagi, kalau Anda memang orang sibuk, tak perlu ngoyo dalam menulis. Kalau sehari bisanya hanya satu jam, tidak mengapa. Yang penting berkesinambungan dan patuh dengan target yang Anda tetapkan sendiri.

Jika sekadar menulis puisi, cerpen, atau kolom untuk dimuat di koran, mungkin sekali duduk bisa langsung menuntaskan satu naskah. Tapi, jika menggarap novel atau buku yang berjumlah ratusan halaman, Anda tidak bisa begitu. Harus melakukannya setahap demi setahap. Dengan begitu, pekerjaan pun terasa ringan. Enteng. Tanpa beban. Sebaliknya, manakala Anda berniat hendak menyelesaikannya sekaligus atau dalam waktu singkat, pasti Anda bakal kelabakan. Selain itu, membayangkannya saja sudah terasa berat. Bisa membuat semangat Anda kendor. Mandeg di tengah jalan. Dan, tidak menutup kemungkinan menyebabkan Anda mengurungkannya sama sekali.

Barangkali Anda pernah mempunyai teman semasa kuliah yang skripsinya tak kunjung kelar hingga bertahun‑tahun. Rekan‑rekan seangkatannya sudah jadi sarjana, dia masih saja berkutat dengan tugas akhir. Padahal dia tidak kelewat sibuk, malah banyak santai dan bermainnya. Jika tidak didesak oleh dosen pembimbingnya, mungkin dia akan menyandang predikat mahasiswa abadi. Sayangnya, sistem seperti itu sudah tidak ada, kalau dalam waktu tujuh tahun tidak juga menyelesaikan studinya terpaksa di‑drop out.

Kenapa rencana skripsi dia selalu tertunda‑tunda? Karena dia tidak mau mencicilnya sedikit demi sedikit. Penginnya menulis sekali banyak, sehingga timbul perasaan berat dan malas. Lain ceritanya andai dia melakukan setahap demi setahap, pasti akan rampung juga.

 Sama halnya manakala keuangan Anda terbatas, tentu tidak bisa membeli kontan rumah mewah dengan harga ratusan juta rupiah. Kalau sadar begitu, tak ada salahnya membeli rumah sederhana secara kredit. Tiap bulan Anda menyicil ke bank, menyisihkan sebagian dari gaji. Sekiranya dapat kelebihan rejeki, bisa menambah ruang kamar, memperluas bagian dapur, atau mempercantik teras. Nanti cepat atau lambat rumah Anda jadi semakin bagus. Dan, tanpa terasa kreditan Anda akhirnya lunas juga lantaran dibayar terus‑menerus secara rutin.

Jika tidak berpikir dan bertindak seperti itu, mungkin sampai tua Anda tidak akan punya rumah sendiri, selamanya ngontrak atau numpang dengan mertua. Apa tidak jadi beban hidup model begitu, heh?!

Demikian pula dalam menulis, kalau sudah tahu kemampuan terbatas, alangkah baiknya dilakukan bertahap. Yang penting, sekali lagi: kontinyu. Jadi, selamat memelihara kesinambungan menulis. Teruslah berkarya dan berkarya.

Kayak apa pendapat dangsanak, akur juakah? []

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*