Menjadi Sempurna, Itu Tidak Mungkin

no body perfectCLICKBORNEO.COM – Eva merasa dirinya dapat menguasai segala hal, mulai dari masalah pelajaran, olah raga, kesenian bahkan kerajingan tangan. Tidak heran, karena Eva selalu menempati urutan pertama dari sekolah dasar hingga sekolah menengah. Namun, sejak memasuki sekolah menengah atas, Eva  merasa ternyata apa yang dimilikinya tidak sebanding dengan apa yang dimiliki temannya. Di kelas dan ekstrakurikuler, Eva merasa dirinya tidak lagi menjadi pusat perhatian. Alhasil, Eva  sering menggunakan segala cara untuk menjadikan dirinya merasakan posisi  yang terbaik, baik itu merupakan cara yang baik atau buruk. Menurut teman-teman Eva, dirinya juga berubah.  Eva lebih sensitif dan  sering mengeluh mengenai kemampuan dirinya.

Dalam hati, setiap orang selalu percaya bahwa dirinya harus memperjuangkan segala sesuatu agar jadi  yang terbaik. Tidak ada orang yang tidak berpikir bahwa seharusnya dirinya mendapat nilai lebih tinggi, popular diantara teman-teman dan berhasil dalam segala hal. Bahkan budaya tempat kita tinggal juga secara langsung mengajarkan demikian, contohnya saat orang tua bertanya pada anaknya “Mengapa kamu tidak seperti kakakmu?”. Bahkan kerap diajarkan melalui budaya  kepada kita bahwa jawaban yang salah akan selalu mengarah pada nilai buruk, hilangnya harga diri dan kekhawatiran terhadap masa depan yang terancam.

[sws_related_postleft showpost=”6″ title=”BACA JUGA:” bgcolor=”0a59c1″ fontcolor=”ffffff”] [/sws_related_postleft] Ada banyak hal dan cara yang dapat dilakukan untuk menjadi yang terbaik, namun memperjuangkan kesempurnaan sebenarnya akan berakhir menjadi resep ketidakbahagiaan. Konselor Krumboltz dan Psikolog Levin lewat bukunya “Luck is not Accident” mengatakan bahwa seseorang yang memperjuangkan kesempurnaan akan dijamin gagal karena tidak ada satu pun manusia yang sempurna. Lebih lanjut ternyata seseorang yang menginginkan kesempurnaan akan cenderung memiliki sikap takut untuk membuat kesalahan.

Tidak ada alasan untuk mengharapkan kesempurnaan dalam segala hal. Tidak ada pemain bola yang dapat mencetak gol terbaik tanpa latihan.  Ketakutan membuat kesalahan hanya akan dapat menjadi penghalang seseorang untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya mereka inginkan. Secara alami, setiap orang ingin melakukan yang terbaik yang dapat dijuangkan. Namun, untuk memperjuangkan keunggulan, tetap kesempurnaan adalah standar yang tidak mungkin.

Dilansir dari Psikolog Allensen Corner dari bukunya “Theraphy in mind”. Dinyatakan  bahwa seseorang yang menuntut kesempurnaan cenderung memiliki sikap tidak memaafkan diri sendiri, cenderung memiliki perasaan bersalah terhadap diri sendiri, rendah diri  bahkan dapat berujung menyakiti orang lain.  Sebaliknya, mencoba banyak hal untuk mencapai kemajuan dapat menjadi sarana untuk memanfaatkan kesalahan agar menjadi pelajaran yang penting. Pikirkanlah, seperti orang lain kita juga pernah melakukan kesalahan yang bodoh. Kesalahan karena kita belajar adalah hal biasa, normal dan mengandung pelajaran. Tidak perlu merasa bersalah atau mencaci diri sendiri. Sebaliknya terus lah berpikir positif dan kembangkan karakter yang baik. Hingga akhirnya kita dapat memberikan penghargaan pada diri sendiri bahwa setidaknya kita telah memulai untuk lebih maju dan lebih baik.  []

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*