Urus Hak Cipta Bisa Lewat Internet

CLICKBORNEO.COM – Penghargaan terhadap karya orang lain di Indonesia ternyata masih rendah. Buktinya, kaset-kaset lagu, film, dan buku-buku bajakan marak beredar di mana-mana.

Hak Cipta

Di sinilah pentingnya bagi pelaku yang bergiat di lapangan ilmu pengetahuan dan seni untuk mendaftarkan hak ciptanya ke Ditjen Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

“Tujuannya untuk kepastian hukum atas hak si pencipta atau pemegang lisensi,” jelas Masdari Tasmin, konsultan hak cipta di Kalsel yang ditunjuk Kanwil Hukum dan HAM.

Apabila sudah didaftarkan, maka masyarakat wajib menghormati dan tidak melanggar hak ciptanya. Jika melanggar, mereka bakal berhadapan dengan sanksi perdata dan pidana. Pemerintah juga akan memberikan perlindungan atas hak cipta tersebut.

Sebaliknya jika karya itu tidak didaftarkan ke Ditjen HKI, ketika timbul sengketa pembajakan sulit bagi pencipta untuk mendapatkan haknya.

“Kalau dia menuntut melalui pengadilan, kecil kemungkinan untuk berhasil karena tidak ada bukti pendaftaran hak cipta,” kata Masdari.

Kerugian lain, tambah pengacara senior ini, kalau si pencipta ingin menggandakan dan mengomersilkan karyanya sulit untuk mencari mitra. Padahal, dia juga mengharapkan materi dari ciptaannya itu.

Menurut Masdari Tasmin, kesadaran untuk mendaftarkan hak cipta masih rendah. Ia mencontohkan, dari 13 Kabupaten/Kota di Kalsel yang ditawari agar mendaftarkan logo Pemkab, hanya Tabalong satu-satunya yang berminat.

Terlebih-lebih lagi dari kalangan masyarakat, ia tidak pernah tahu seniman mana saja yang telah mendaftarkan hak cipta mereka. Padahal, banyak lagu-lagu Banjar dan buku-buku sejarah karya urang banua.

“Mungkin anggapan mereka mengurus pendaftaran hak cipta itu rumit, padahal tidak. Asalkan mau datang ke konsultan hak cipta, mudah saja. Bahkan formulir yang harus diisi bisa diunduh lewat internet,” ujar Masdari.

Ahmad Barjie, penulis produktif Kalsel, mengatakan sudah lima kali karyanya dijiplak orang lain. Ia mengaku masih bisa berlapang dada, tidak berniat mengadukan ke jalur hukum atau memalukan si plagiator di media massa. Soalnya, mereka masih penulis pemula yang mungkin bingung tulisannya tidak pernah dimuat. Karena ingin tampil dan dilihat publik, lalu terpikir untuk menjiplak dan memang diterbitkan.

“Sementara ini saya tidak pernah terpikir untuk mendaftarkan hak cipta atas karya saya. Apalagi arahnya lebih kepada pendidikan, bukan komersil,” ujar pria yang aktif menulis sejak tahun 1984 ini.  Menurutnya mendaftarkan hak cipta ke Ditjen HKI memang bagus, tapi ia sendiri belum terpikir ke sana.

“Saya kira penulis maupun seniman lain di Kalsel juga jarang ada yang mendaftarkan hak ciptanya. Mungkin lantaran kurang mengerti prosedur untuk itu,” kata Barjie. (ali)

Prosedur Pendaftaran Hak Cipta

  • Mengisi formulir yang disediakan dalam bahasa Indonesia dan diketik rangkap dua
  • Melampirkan surat kuasa khusus, apabila permohonan diajukan melalui kuasa
  • Menyertakan contoh ciptaan
  • Salinan resmi akta pendirian badan hukum atau fotokopinya yang dilegalisasi notaris, apabila pemohon badan hukum
  • Fotokopi kartu tanda penduduk
  • Bukti pembayaran biaya permohonan Rp 75.000, khusus ciptaan program komputer Rp 150.000

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*