Menguggah Ghirah Cinta Banua

Di zaman serba canggih ini proses persilangan budaya memang cukup deras. Siapa yang menguasai sumber-sumber informasi, dialah yang dominan memberi pengaruh. Bahasa-bahasa iklan yang disemburkan lewat corong media cetak maupun elektronik turut andil menyetir dan membentuk pola pikir serta perilaku masyarakat.

Tak dipungkiri, kuatnya serbuan arus budaya pop dan modernitas telah menggerus banyak hal yang berbau tradisional. Memang kita harus mengikuti dan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, tapi bukan berarti semua yang lama itu mesti ditinggalkan. Tidak sedikit nilai-nilai dan kearifan lokal warisan tetuha bahari yang patut kita pertahankan.

Contoh, tradisi gotong-royong atawa gawi sabumi pada waktu acara pengantinan sangat baik untuk diteruskan. Namun belakangan kebiasaan positif yang satu ini di beberapa daerah mulai ditinggalkan karena penduduknya telah dihinggapi sikap nafsi-nafsi. Dengan dalih kesibukan mereka tak punya waktu lagi untuk membangun karakatan.

Demikianlah, budaya Banjar pun tak luput dari ‘pertarungan’ dalam usaha untuk senantiasa menjaga eksistensinya. Agar khasanah kebudayaan Banjar tetap terpelihara dengan baik tentu si pemilik (komunal) kebudayaan itu sendiri yang harus menjaga dan merawatnya.

Kita seharusnya malu dan merasa ‘tertampar’ ketika posisi Lamut kian terpinggirkan, justru Sainul Hermawan yang tergugah mengadakan penelitian pada kesenian tradisional khas Kalsel tersebut. Setiap kali mendengar nama tokoh Palamutan atau manuskrip cerita Lamut tersimpan di suatu tempat, antusiasmenya bagai tersulut. Ia pun dengan penuh semangat mendatangi lokasi yang disebutkan demi mendapatkan sumber-sumber data seputar Lamut. Tak hanya itu, Sainul juga gencar mensosialisasikan Lamut ke sekolah-sekolah. Padahal, dia bukan urang asli banua. Namun sejak menginjakkan kaki ke Tanah Banjar ini, keinginannya untuk mempelajari budaya lokal begitu tinggi. Dalam berbagai perhelatan kesenian Banjar, ia tak sekedar hadir tapi juga mendokumentasikan dengan kamera atau video.

Jauh sebelumnya, seorang pria berkebangsaan Jerman rela meninggalkan negaranya, bahkan kemudian menetap dan menikah dengan seorang janda di Banua Anyar Banjarmasin – masyarakat setempat memanggilnya Kai Asing – demi melakukan penelitian terhadap beragam jenis perahu atau jukung khas Kalimantan. Aktivitas tersebut terus dilakoninya hingga akhir hayatnya!

Kalau mereka yang tak punya pertalian silsilah dengan Tanah Banjar saja menaruh perhatian sedemikian mendalam pada kekayaan budaya daerah ini, mestinya kecintaan urang-urang asli banua jauh lebih mendarahdaging. Sayang, antara harapan dengan kenyataan tak selalu seiring.

Menumbuhkan Kebanggaan

Keberadaan suatu budaya sangat tergantung pada sikap masyarakat pendukungnya. Jika rasa kebanggaan dan kecintaan mereka tinggi, niscaya budaya tersebut mengakar kuat. Sebaliknya, bila mereka menganggapnya kuno dan ketinggalan zaman, maka cepat atau lambat akan terancam sirna. Entah berapa banyak kesenian tradisional khas Kalsel yang kini cuma tinggal kenangan. Musik kuriding misalnya, sekarang sudah langka dan jarang dipertunjukkan. Nasib serupa juga dialami oleh dundam, andi-andi, wayang sampir, tari gandut, bapapantulan, dan sebagainya.

Sesungguhnya Tanah Banjar memiliki beragam kekayaan budaya dengan segala kekhasan dan keunikannya, baik itu menyangkut adatistiadat, jenis permainan rakyat, fokhlor, kuliner, kesenian tradisional, system kepercayaan, pola hidup, dan sebagainya. Pertanyaan utamanya adalah seberapa besar keinginan kita untuk melestarikan aset kultural yang sangat berharga tersebut?

Memperhatikan kondisi akhir-akhir ini terkait dengan sikap generasi muda kita terhadap sejarah dan kebudayaannya boleh dibilang cukup memprihatinkan. Banyak di antara mereka yang tak kenal sosok dan kiprah perjuangan para pahlawan Tanah Banjar seperti Pangeran Antasari, Tumenggung Jalil, Penghulu Rasyid, Ratu Zaleha, Hasan Basry, Abrani Sulaiman, Aluh Idut, dll. Paling-paling sekadar tahu nama, itupun lantaran diabadikan jadi nama jalan. Padahal presiden RI pertama, Ir Soekarno,jauh-jauh hari telah mengingatkan agar jangan sekali-kali melupakan sejarah (yang terkenal dengan istilah Jasmerah).

Faktanya hanya segelintir remaja kita yang menaruh perhatian pada khasanah budaya Banjar. Mereka banyak yang tidak tahu apa makna simbol-simbol pada motif ukiran rumah Banjar, juga falsafah yang terkandung di balik sesaji piduduk. Lihatlah ruang deposit perpustakaan wilayah Pal 6 Banjarmasin yang khusus menyediakan literatur lokalitas Banjar sepi dari pengunjung. Kalaupun ada pelajar atau mahasiswa yang datang umumnya lantaran untuk memenuhi tugas akademik. Atau, agak ramai ketika menjelang pelaksanaan ajang pemilihan Nanang dan Galuh Banjar, karena dalam salah satu tahapan seleksi terdapat tes pengetahuan tentang budaya Banjar. Artinya, mereka baru berminat mempelajari begitu ada kepentingan tertentu yang bersifat temporal atau sesaat. Bukan atas panggilan jiwa.

Memang tidak semua seperti itu, salah satunya adalah Taufik El- Rahman penulis buku ini. Di usianya yang masih muda, guru MAN 2 Banjarmasin ini memperlihatkan perhatiannya yang intens terhadap budaya Banjar. Dari sejarah banua, religiusitas, kuliner, sampai konsep pamali dan kearifan lokal dalam masyarakat Banjar menjadi bahan renungan dan analisisnya. Bahkan secara gamblang Taufik menyatakan kebanggaannya pada banua ini. “Kita boleh saja mengikuti arus pemikiran global yang paling canggih. Kita harus kompetitif dan memainkan peran penting di tingkat lokal atau nasional. Tapi… kita tidak boleh tercabut dari akar. Kita harus bangga menjadi urang Banjar!” ungkapnya dalam Memoar Kebanggaan Urang Banjar.

Mengikuti kemajuan, bukan berarti dengan cara mengabaikan yang lama. Sepanjang warisan budaya itu sarat akan nilai-nilai kebajikan, maka sepatutnya untuk dipertahankan. Kalau perlu dimodifikasi sedemikian rupa agar sesuai dengan perkembangan zaman. Kita boleh saja bangga menggunakan speaking English sebagai bekal buat memasuki pergaulan internasional, tapi bahasa ibu jangan sampai terlupakan. Saya pernah ketemu remaja yang tidak tahu arti kosa kata “bilungka” padahal kedua orangtuanya asli banua. Juga dulu ada seorang isteri pejabat yang ketika memberikan kata sambutan menggunakan bahasa Banjar, ternyata oleh sebagian hadirin malah jadi bahan tertawaan.

Agaknya kita kurang menghargai hal-hal yang bersifat lokalitas, padahal itulah yang menandai etnisitas sekaligus pengukuh identitas kita sebagai urang Banjar. Rupanya keprihatinan terhadap kenyataan semacam itu menghinggapi Taufik El-Rahman, sehingga dari tangannya lahirlah beberapa “Catatan Kegalauan Anak Banua”. Namun ia sadar mengeluh atau menggerundel saja tak akan menyelesaikan masalah, harus ada alternatif solusi yang ditawarkan untuk menumbuhkan rasa kebanggaan terhadap budaya Banjar pada generasi kini dan akan datang. Salah satunya ialah mencetuskan gerakan “Membangun Banjar dengan Buku”.

Keinginan untuk maangkat batang tinggalam tidak cukup hanya menggelar kegiatan-kegiatan seremonial jangka pendek, tapi harus didukung pula dengan penyebaran gagasan lewat buku. Bagaimanapun efek pemikiran yang dituangkan dalam tulisan jauh lebih langgeng dan memiliki daya gugah yang tinggi. Dan, itulah yang dilakukan Taufik El-Rahman dalam bukunya Tanah Banjar: Intelektualisme Tak Pernah Mati ini.

Setelah angkatan Artum Artha, HM Syamsiar Seman, H Suriansyah Ideham, H Adjim Ariadi, Antemas Anggreini, H Syarifuddin R, Kalsel masih belum banyak melahirkan budayawan-budayawan muda yang secara intens dan kontinyu mengkaji tema-tema tentang kebanjaran, kemudian menuangkannya ke dalam buku. Kalaupun ada, jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari tangan.

Di antara yang sedikit itu, semoga karya ini merupakan langkah awal Taufik El Rahman menjejakkan kaki di jalan budaya. Insya Allah …. []

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*