Menengok Pusat Kerajinan Anyaman Amuntai

CLICKBORNEO.COM – Matahari belum lagi terbit. Di antara dinginnya udara subuh ratusan perajin sudah berduyun-duyun menuju jalan depan Rumah Sakit Pambalah Batung Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Sebagian berasal dari Desa Palimbangan, Haur Gading, dan Sungai Limas. Begitu tiba di lokasi tujuan, mereka langsung menjejer barang bawaannya di tepi jalan dengan rapi.

pasar kerajinan amtMungkin fenomena ini hanya ada di Amuntai. Sebuah “pameran on the road” yang diselenggarakan rakyat kecil yang berprofesi sebagai perajin. Mereka datang dari segala penjuru, mulai dari darat hingga hulu sungai, tanpa ada yang memberi komando.

Barang bawaan mereka beraneka macam, mulai dari yang benar-benar tradisional hingga yang modern. Mulai dari desain kerajinan yang khas desa hingga sudah tersentuh “desain kota” yang biasanya diperuntukkan bagi ekspor.

Dari “kubu perajin tradisional”, berdatanganlah barang- barang kerajinan fungsional khas desa, seperti alat tangkap ikan tradisional lukah dan tangguk, nyiru, tanggui (caping khas banjar), lanjung (tas khas dayak), dan cupikan (bakul untuk panen).

Kerajinan tikar, topi, kipas, dan anyaman lainnya sudah menjadi pemandangan dominan. Semua barang itu langsung berasal dari perajin utama yang keluar dari desa-desa sekitar Amuntai, sekitar 250 kilometer dari Banjarmasin.

Sedangkan “kubu perajin modernis” membawa kerajinan yang pernah berjaya sebagai primadona ekspor pada tahun 1980-an. Di antaranya didominasi oleh kerajinan berbahan baku rotan, seperti lampit, kotak tisu dari rotan, kursi malas dari rotan, sketsel pintu dari rotan, dan beraneka jenis anyaman rotan lainnya.

“Pokoknya semua jenis anyaman ada di sini dan jika belum ada, bisa dibuatkan. Barangnya seperti apa, silakan ditunjukkan, pasti kami bisa membuatkannya berdasarkan gambar itu,” kata seorang  perajin asal Palimbangan, Kecamatan Amuntai Utara.

Soal harga? Di pasar itu dikenal sebagai pasar murah meriah.

Berbagai bentuk tas dan bakul yang terbuat dari anyaman tradisional rotan di pasar itu hanya ditawarkan antara Rp 15.000 sampai Rp 50.000. Para pedagang mengklaim anyaman mereka sudah sering dikirim ke Bali dan dari Bali diekspor ke mancanegara.

Kegiatan transaksi barang anyaman purun dan rotan hasil karya para pengrajin yang ada di Hulu Sungai Utara ini hanya ada setiap subuh Kamis. Semakin pagi pengunjung membeli, harganya semakin murah. Tapi, kalau sudah beranjak agak siang, harganya sedikit lebih mahal. Soalnya, sebagian barang kerajinan itu sudah berpindah ke tangan pedagang perantara yang mengambil keuntungan dari harga awal. Bahkan ada yang memborong dalam jumlah besar untuk dibawa keluar daerah.

Pada dekade 1980-an Amuntai pernah mengalami tonggak kejayaan kerajinan lampit rotan dengan menembus ekspor ke berbagai negara Asia, terutama Jepang. Namun, memasuki era pertengahan 1990-an masa keemasan itu berangsur memudar. Kendati demikian,  para perajin yang melayani pasar lokal terus bertahan dan lambat laun memasuki tahun 2004 hingga sekarang kerajinan Amuntai bangkit kembali. Desa-desa yang dulu terpuruk mulai menggeluti lagi keterampilan menganyam.

Selain menguasai pasar ekspor melalui kota-kota di luar Jawa, seperti Surabaya dan Bali, kini mereka berhasil ekspansi pasar ke Taiwan dan Korea. Ya, kerajinan anyaman purun dan rotan memang sudah mendarah daging bagi masyarakat Amuntai. []

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*