Menaruh Foto di Padang Arafah

CLICKBORNEO.COM – Di musim haji, tak sedikit orang yang belum punya kemampuan untuk melaksanakan rukun Islam kelima itu kemudian menitipkan fotonya supaya ditaruh di tempat-tempat tertentu yang terdapat di tanah suci Mekkah. Dengan anggapan mampu mangariyau (memanggil) yang bersangkutan sehingga di tahun-tahun mendatang ia juga akan berpeluang untuk berhaji.

Padang Arafah

Seperti pengakuan Ny. Maskanah, dulu ketika bibinya berangkat haji ia tak lupa menyerahkan foto dirinya untuk diletakkan di padang Arafah, seraya minta didoakan agar ia dimurahkan rejeki dan punya ‘ciri’ menapakkan kaki ke Tanah Suci.

“Menurut yang pernah saya dengar, kalau foto kita sudah ada di Mekkah, kemungkinan besar kita bakal berhaji karena diyakini foto itu memanggil-manggil si empunya diri. Buktinya, tetangga saya dulunya juga pernah menitip foto, dan kini sudah menunaikan ibadah haji. Entah itu faktor kebetulan, tapi apa salahnya orang berikhtiar,” ujar warga Kelayan B, Banjarmasin ini.

Berbeda dengan Ny. Hj. Nurjannah yang sempat bermukim di Saudi Arabia dari tahun 1984 sampai 1987, dalam penuturannya bahwa ketika ia akan berangkat haji memang banyak yang ingin menitipkan foto, namun semua ditolaknya. Kepada mereka Hj. Nurjannah menjelaskan bahwa itu tidak ada diperintahkan dalam ajaran Islam.

“Malah nantinya akan terinjak-injak orang,” ungkap Nurjannah yang dididik secara ketat di lingkungan Muhammadiyah ini.

Kendati demikian, tambah Nurjannah, ia juga menemui teman-teman serombongan, khususnya yang berasal dari Hulu Sungai, yang membawa foto titipan.

“Kebanyakan yang tidak ngerti, karena terkait dengan tingkat pendidikan mereka,” tandasnya.

Dan sejauh pengamatannya, ia tidak pernah melihat muslim Pakistan, India, maupun Sudan yang melakukan hal serupa. Tradisi ini, ujar Nurjannah, mungkin cuma dilakukan oleh urang Banjar.

Kebiasaan menitip foto untuk diletakkan di Padang Arafah tersebut memang sempat dilakoni oleh urang banua. H. Ariansyah masih ingat ketika ia berhaji tahun 2000, ia masih menemukan itu.

“Dari rombongan saya sebagian kecil masih ada, tapi jumlahnya tidak terlalu banyak. Mereka membawa foto dan meletakkannya di Jabar Rahmah. Kalau orang Arab kebetulan melihat, langsung dibilang haram. Apalagi jika menulis nama di tembok, laskar Arab paling marah,” tandasnya. []

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*