Memperjuangkan Islam dengan Tulisan

CLICKBORNEO.COM – Kalau mau jujur, sampai hari ini begitu banyak problem yang membelit umat Islam. Dari keterbelakangan, kebodohan, kemiskinan, hingga ketertindasan. Semua itu tentu memerlukan solusi dan perbaikan. Di sinilah peran penulis Muslim untuk memberikan pemikiran dan pencerahan.

Helvy Tiana Rosa

Kesadaran umat perlu digugah dan dibuka lewat tulisan. Misalnya, untuk mencintai ilmu, mendalami teknologi, membangkitkan etos kerja, dan lain-lain, sehingga kita tak terus-terusan terpuruk dalam ketertinggalan. Semua itu bisa diulas dan ditulis menurut perspektif Islam.

Islam sendiri sangat menghargai kedudukan penulis Muslim, sehingga dinyatakan tinta ulama itu senilai darah syuhada. Jadi, untuk memperjuangkan Islam tidak harus terjun ke medan perang. Jihad itu artinya bersungguh-sungguh. Kalau kita bersungguh-sungguh menulis untuk membangkitkan ghirah umat membebaskan diri dari kejumudan juga bagian dari jihad. Karena itu, mari menjadi mujahid dengan bersenjatakan pena.

Termasuk, ketika Islam dilecehkan kita wajib membela melalui tulisan. Sudah teramat sering agama kita dihina lewat kartun, komik, film, video, dan tulisan oleh Barat. Kentara sekali kebencian yang mereka perlihatkan. Di antaranya, Rasulullah kerap dideskripsikan sebagai (maaf) seks maniak lantaran beliau beristri banyak. Biasanya menghadapi penghinaan tersebut umat Islam bereaksi dengan cara demo besar-besaran. Sah-sah saja, tapi apakah langkah tersebut cukup efektif?

Penghinaan itu terlontar boleh jadi karena ketidakpahaman mereka terhadap Islam. Di sinilah seharusnya kita lebih gencar meluruskan kekeliruan persepsi tersebut lewat tulisan. Jelaskan bahwa poligami yang dilakoni Rasulullah justru untuk mengangkat derajat wanita-wanita yang beliau nikahi. Jika dimaksudkan buat mengumbar hawa nafsu, tentu beliau tidak akan memilih para janda. Barangkali memberi penjelasan melalui tulisan inilah yang masih minim kita lakukan.

Apalagi penduduk Eropa, khususnya AS, mereka umumnya adalah orang yang berpendidikan tinggi dan terbiasa berpikir ilmiah. Kalau ingin mendalami sesuatu hal, termasuk Islam, mereka akan mencarinya di literatur-literatur. Jika buku-buku yang tersedia justru ditulis oleh pengarang yang memang antipati terhadap Islam, maka tak heran bila terjadi penyesatan informasi atau opini.

Kita juga patut prihatin, kok buku-buku tentang Islam malah  banyak ditulis oleh para orientalis yang bukan beragama Islam. Pertanyaannya, siapa yang berani menjamin uraian dan ulasan mereka benar-benar netral, tanpa misi terselubung?

Menyikapi kenyataan demikian, kita tak perlu dan memang tak pantas mengecam mereka. Sebab, ketika umat Islam membiarkan suatu celah kosong, maka orang lain yang akan mengisinya.

Karena itu, kalau memang serius ingin melihat umat Islam mengalami kebangkitan di masa mendatang, kita perlu lebih banyak memiliki para penulis Muslim. Dari tangan-tangan mereka inilah diharapkan syiar Islam semakin bergema di berbagai penjuru dunia.

Kayak apa pendapat dangsanak, akur juakah? []

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*