Memelihara Kontinuitas Menulis

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. (QS Alam Nasyrah:7)

 Menulis kontinyuCLICKBORNEO.COM – Apakah Anda kenal dengan penulis musiman? Ketika semangatnya sedang menggebu‑gebu dia begitu produktif menghasilkan beragam tulisan. Hampir setiap minggu tulisannya nongol di media massa. Tak hanya di satu  koran, kadang dalam waktu berbarengan beberapa puisi, cerpen, esei, resensi buku, artikelnya dimuat di media yang berbeda‑beda. Sayangnya, hal itu tidak bertahan panjang. Setelah sempat mendominasi dan merajai, entah karena alasan apa, namanya menghilang seolah tanpa jejak. Raib begitu saja.

Kenapa seorang penulis yang sebenarnya cukup potensial seperti itu justru bernafas pendek? Jawabnya, karena dia tidak pandai memelihara kontinuitas menulis.

Jauh lebih baik menulis sedikit tapi berkesinambungan, daripada sekaligus menghasilkan banyak karya tapi bersifat angin‑anginan. Ketika mood lagi bagus, ia sanggup menulis hampir seharian penuh. Tapi begitu penyakit malasnya komat, tak jarang sampai berbulan‑bulan tidak membuahkan sebiji tulisan pun.

Ajaran Islam mengatakan, bahwa amaliah yang baik itu biar sedikit asal dilakukan secara rutin.  Di sinilah pentingnya belajar mendisiplinkan diri. Setiap hari Anda harus bisa meluangkan waktu untuk menulis. Kalau siang sibuk menangani pekerjaan kantor, sempatkanlah menulis malam sebelum tidur. Atau, setelah salat subuh. Pokoknya, terserah kapan Anda bisa. Soal pengaturan jadwal, tentu Anda yang paling tahu. Yang penting dalam sehari mesti ada waktu buat menulis. Tidak usah berlama‑lama, cukup satu atau dua jam. Tapi kalau bisa lebih dari itu, bagus lagi. Siapa tahu waktu Anda lagi senggang.

 Prof HM Asywadie Syukur Lc (alm), mantan Ketua MUI Kalsel, sudah lama membiasakan diri menulis setiap hari sebanyak dua lembar HVS kuarto. Padahal sebagai mubaligh dan dosen kegiatannya cukup padat. Tapi karena sudah jadi komitmen, sedapat mungkin ia menyisihkan waktu untuk menulis. Kalau kebetulan diundang ke luar daerah jadi pembicara dalam sebuah seminar atau pertemuan nasional, dimana hari itu ia tidak mungkin menulis, maka ketertinggalan tersebut dianggapnya sebagai ‘utang’. Nanti pada kesempatan lain akan dilunasinya. Misalkan, tiga hari Asywadie tidak menulis, berarti hari berikutnya ia mewajibkan dirinya menulis delapan lembar kuarto. Dengan sistem kerja yang demikian, tak heran kalau dia berhasil mengarang banyak buku.

Sekiranya menulis sudah menjadi kebiasaan (habit writer), maka sehari saja Anda tidak menulis serasa ada yang kurang dan mengganjal di hati. Karena itu,  jadikanlah menulis sebagai candu. Canangkan semboyan: Tiada hari tanpa menulis.

Kayak apa pendapat dangsanak, akur juakah? []

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*