Membangun Komunitas Pencinta Buku

CLIKBORNEO.COM – Buku merupakan salah satu sumber informasi dan ilmu pengetahuan. Dengan banyak membaca, wawasan kita jadi kian terbuka. Lewat buku kita dapat menyerap berbagai buah pemikiran para cendekiawan terdahulu maupun sekarang — dan itu akan memperkaya khasanah batin kita.

Begitu pula kalau doyan menyimak biografi tokoh-tokoh ternama dunia, banyak hal yang bisa kita petik dari semangat dan liku-liku perjuangan mereka. Paling tidak, memotivasi kita untuk lebih mengoptimalkan potensi diri. Berarti di sini betapa besar peran buku dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Lihatlah negara-negara maju, Jepang misalnya, masyarakat di sana begitu mencintai buku. Budaya baca-tulis mereka sangat tinggi. Disela-sela kesibukan yang padat mereka masih saja meluangkan waktu buat mengakrabi buku. Pola hidup mereka yang senang belajar (learning society) dan haus terhadap segala informasi (well-informed) itu pada gilirannya memacu mereka untuk berprestasi. Sayangnya, di Indonesia budaya baca-tulis kita masih rendah. Jangankan masyarakat awam, kalangan pelajar dan mahasiswa yang katanya calon intelektual pun minat mereka pada buku terbilang payah. Tak heran jika Taufik Ismail pernah mengeluhkan, bahwa masyarakat kita tengah dihinggapi ‘penyakit’ gagap membaca dan lumpuh menulis.

Menggenggam DuniaJudul buku    : Menggenggam Dunia

Penulis            : Gola Gong

Penerbit          : Dar Mizan

Tebal              : 260 halaman

Rupanya kegelisahan serupa juga dirasakan oleh Gola Gong. Karena itulah ia merasa perlu menulis buku ini, untuk menggugah para orangtua agar mau membikin perpustakaan pribadi di rumah. Kenapa? Itu supaya mereka yakin bahwa mendidik anak dengan menyediakan buku bacaan atau membuat home-library akan menghasilkan generasi baru yang cerdas dan mandiri (hal: 36).

Setelah itu, bila memungkinkan barulah membangun perpustakaan yang bisa dinikmati warga sekitar. Supaya anak-anak muda setempat bangkit dari tidur, menyadari potensinya untuk menciptakan lapangan kerja sendiri. Juga diharapkan mampu berperan sebagai pionir yang membawa kepada perubahan positif bagi lingkungannya.

Mengingat beragam ihwal yang diungkapkan Gola Gong dalam “Menggenggam Dunia, Bukuku Hatiku” ini berangkat dari pengalaman pribadi, justru disitulah letak keunikannya sehingga mengandung daya gugah yang kuat. Artinya, apa yang dipaparkan penulis tidak sebatas teori atau wacana, tapi sudah sampai tahap pembuktian.

Mungkin pembaca sudah tak asing lagi dengan nama Gola Gong. Terutama pada pertengahan 1980-an serial Balada Si Roy sangat digandrungi, malah sempat jadi ikon remaja. Ya, dia memang pengarang produktif. Karyanya meliputi puisi, cerpen, novel, dan catatan perjalanan, bahkan di antaranya diangkat ke layar sinetron. Dari situ suami Tias Tatanka ini membuktikan bahwa profesi penulis dapat dijadikan sumber nafkah.

“Dari royalti novel-novelku aku bisa hidup bergembira dan bahagia. Lihatlah, kata memperlihatkan kekuatannya! Aku juga mempunyai kehidupan yang indah karena kata,” tegasnya antusias.

Kini ia hidup berkecukupan. Dan semua itu berkat buku.

Gola Gong mengakui begitu besar peran buku dalam mengantar kesuksesan dan menyokong karirnya. Apalagi kalau mengingat dirinya yang cacat, hanya punya lengan satu, di masa rezim Orde Baru banyak peraturan yang mendeskreditkan sehingga tidak memungkinkan bagi dia untuk jadi pegawai negeri. Tetapi, karena rajin menyerap petuah-petuah bijak dan semangat perjuangan dari buku, ia pun mampu mengatasi kekurangan fisik itu, tetap percaya diri dan optimis menatap masa depan.

Demikian pula keberanian dia avonturir keliling Nusantara hingga delapan negara Asia lantaran terinspirasi oleh buku-buku Jules Verne, Christopher Columbus, Karl May dan George Orwell. Dan untuk setiap jejak perjalanannya tersebut Gola Gong tak pernah lupa mencatat di buku harian. Dari pengalaman-pengalaman itulah kemudian dia menggali sumber ilham ketika menggarap cerita-cerita karyanya.

Sekarang setelah ekonomi Gola Gong mapan, ia tidak berhasrat untuk menikmati sendiri. Ia ingin berbagi kepada khalayak tentang manfaat membaca buku. Di atas tanah seluas 1.000 meter persegi di belakang rumahnya, bersama istri tercinta sejak 2002 ia merintis Rumah Dunia: sebuah pusat belajar jurnalistik, sastra, senirupa dan teater bagi anak-anak, pelajar dan mahasiswa. Lewat cara itu ia membangun komunitas pencinta buku. Siapapun boleh datang dan menikmati buku-buku yang disediakan, tanpa dipungut bayaran.

Dia sadar bahwa buku adalah investasi jangka panjang. Karena itu dia tak habis pikir dengan sikap pejabat yang minus perhatian terhadap pengadaan buku untuk rakyat.

“Aku masih bisa memaklumi kalau masyarakat Banten belum memikirkan perpustakaan dan buku. Itu karena urusan perut mereka belum teratasi. Tapi, jika para pemimpinnya masih sibuk ngurusi perut — sementara gaji per bulan dan fasilitas lain-lain bikin ngiler rakyat — ketimbang memikirkan perpustakaan dan buku untuk warganya, ini keterlaluan. Ini sudah mengkhianati rakyat yang dipaksa diwakilinya. Atau, jangan-jangan para pemimpin kita tidak ingin melihat anak-cucu kita pintar kelak?” gugat Gola Gong.

Dan, Gola Gong tak sebatas pandai protes. Untuk meningkatkan minat baca masyarakat, ia mendirikan Rumah Dunia dengan biaya sendiri. Ia tak hendak mengajukan proposal bantuan kepada Pemkab setempat.

Lalu, untuk apa dia melakukan semua itu? Tujuannya semata ingin melihat masyarakat, khususnya generasi muda, berpikiran maju, cerdas, dan kritis. Tak terbersit niat untuk menarik keuntungan materi ataupun bentuk pamrih lainnya. Bahkan ia menyatakan tak takut miskin atas pengorbannya itu. Sebab, dia yakin siapa yang berbuat kebajikan untuk kemaslahatan orang banyak, Allah pasti akan memudahkan rejeki.

Demikian langkah konkrit Gola Gong untuk memacu minat dan gairah membaca masyarakat. Atau, barangkali di antara kita ada yang ingin mengikuti jejaknya?  (ali)

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*