Meluruskan Kekeliruan dengan Tulisan

CLICKBORNEO.COM – Beberapa tahun lalu pengamat politik Eep Saefullah Fatah pernah mengungkapkan 10 butir kelemahan umat Islam di Indonesia. Salah satunya adalah, lebih suka bereaksi ketimbang melakukan aksi.  

kang-abik

Kalau kita renungkan dengan legowo dan hati jernih, pendapat tersebut ada benarnya juga. Lihatlah, dalam beberapa tahun terakhir umat Islam sering difitnah Barat, dikatakan biang teroris, doyan kekerasan, barbar, dan sejenisnya. Bahkan tak jarang dilecehkan, baik lewat tulisan, karikatur, maupun film. Menghadapi hal‑hal semacam itu, lalu apa tindakan umat Islam?

Kebanyakan bereaksi dengan keras, demo besar‑besaran mendatangi markas kedutaan negara yang menghina Islam tersebut. Ada yang membakar ban, menggelar spanduk berisi hujatan, teriak‑teriak, mencaci‑maki dengan bringas, sampai melemparkan telor busuk. Malah tak jarang terjadi huru‑hara, para pendemo bentrok dengan aparat kepolisian Indonesia. Lalu, dalam hal ini siapa yang rugi? Bangsa lain yang jadi pemicu, malah kita berantem dengan sesama sendiri.

Dan kejadian itu tak luput dari sorotan para pemburu berita, baik media cetak maupun elektronik, termasuk wartawan asing. Reaksi penuh emosional itu pun di‑shot dan ditayangkan berulang‑ulang di televisi. Alhasil, sebagian  warga negara asing yang menonton adegan‑adegan tersebut dibuat terpengarah, bahkan boleh jadi bergidik. Akibatnya, imej Islam di mata mereka semakin keliru, seolah menegaskan memang betul identik dengan kekerasan. Padahal jelas tidak demikian, justru Islam itu mengajarkan kasih‑sayang, hadir sebagai pembawa rahmatan lil alamin. Sayangnya, karena respon yang kurang taktis tadi citra Islam jadi kurang baik.

Seharusnya kalau Islam dipojokkan, didiskreditkan, difitnah lewat tulisan, kita ‘balas’ dengan cara serupa. Argumentasi kita lawan dengan argumentasi. Misalnya, ketika Amerika Serikat seenaknya menuding Islam teroris, kita beberkan berbagai fakta dan data kebobrokan negeri adikuasa tersebut, di antaranya yang secara terang‑terangan membombardir Irak; bukan hanya tentara pendukung Saddam Husien yang tewas, ribuan wanita dan anak‑anak tak berdosa juga ikut jadi korban. Padahal, tuduhan bahwa negeri 1001 malam itu mengembangkan senjata kimia pemusnah massal sampai kini tidak pernah terbukti. Hanya akal‑akalan AS untuk melegalkan ambisi mereka mencaplok negara lain. Jadi, dalam hal ini siapa yang sebenarnya teroris dan biadab?

Seandainya para cendekiawan Muslim gencar melakukan pelurusan fakta melalui tulisan, insya Allah cepat atau lambat prasangka dan kekeliruan terhadap Islam dapat diminimalisir. Bahkan tidak tertutup kemungkinan mereka yang tadinya antipati terhadap Islam berbalik menjadi pengikut ajaran yang dibawa Muhammad SAW ini.

Contoh langkah strategis untuk menjernihkan Islam dari stigma negatif begitu elok dilakukan oleh Abdurrahman El‑Shirazy. Dalam novelnya yang sangat fenomenal berjudul Ayat‑Ayat Cinta, ia menyisipkan dialog antara tokoh wartawati asing (maaf, saya lupa namanya) dengan  tokoh utama Fahri seputar beberapa anggapan buruk Barat terhadap Islam. Dengan porsi yang cukup panjang Kang Abik mencoba meluruskan kesalahpahaman‑kesalahanpahaman itu lewat karya fiksinya.  Sayang, ketika novel AAC ini difilmkan oleh sutradara Hanung Bramanto dialog‑dialog tersebut terpotong karena dipastikan bakal memakan banyak durasi.

Saya pikir, kiat yang dilakukan oleh Kang Abik untuk meluruskan kekeliruan orang‑orang terhadap Islam itu jauh lebih efektif dan berdaya gugah tinggi ketimbang menggelar orasi atau unjuk rasa.

Kayak apa pendapat dangsanak, akur juakah? []

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*