Mapala Hilang Ekspedisi Halau-halau 2013 Hoax

Pemandangan dari Puncak Halau-halau

Pemandangan dari Puncak Pegunungan Halau-halau

CLICKBORNEO.COM – Berita hilangnya mapala dalam ekspedisi Halau-halau 2013 akibat bencana longsor bisa dipastikan cuma hoax. Muhamad Sadillah, kru ClickBorneo.com yang turut memantau ekspedisi tersebut hingga ke puncak pegunungan Halau-halau menginformasikan bahwa tidak ada mapala yang hilang seperti yang dikabarkan di beberapa situs berita online maupun jejaring sosial.

Ia menjelaskan memang terjadi simpang siur kabar selama di lapangan. “Saya kaget ketika diberitahu bahwa ada korban dalam ekspedisi Halau-halau. Informasi itu saya dapat ketika salah satu rekan rombongan mendapat sms dari temannya di Banjarmasin yang menanyakan kebenaran berita tersebut. Sesuai hasil pantauan, tidak ada korban sama sekali.” ungkap lelaki yang akrab di sapa dengan panggilan Dillah.

Lebih jauh Dillah menceritakan bahwa dalam ekspedisi pendakian pegunungan Halau-halau 2013 kali ini diikuti banyak peserta di luar rombongan. Secara resmi panitia pelaksana adalah Mapala IMPAS-B FKIP Unlam. Sesuai jadwal, mereka berangkat tanggal 14 Agustus 2013 dari Banjarmasin menuju Kota Barabai. Sampai di sana dilanjutkan ke Batu Ampar dan ke desa Kiyu. Di desa Kiyu para peserta melaksanakan tradisi Aruh sebagai wujud harapan agar selama proses pendakian semua peserta selamat.

Pegunungan-Halau-halau-Kalsel“Dugaan hilangnya Mapala dalam pendakian ini bisa jadi hanya sekadar asumsi belaka. Hal itu mungkin terjadi karena banyak rombongan tidak resmi dan mereka adalah para pecinta alam yang ada di Kalsel. Lebih tepatnya rombongan lain untuk tidak menyebut rombongan tidak resmi. Di antara mereka ada yang sekadar melakukan perjalanan sampai Sungai Karuh dan tidak melanjutkan perjalanan dengan alasan medan yang ditempuh cukup sulit atau sudah sering ke lokasi. Dari situ jelas jumlah peserta yang sampai di puncak menjadi berkurang,” cerita Dillah.

“Soal terjadinya longsor – yang sebenarnya hanya longsoran kecil seperti yang diberitakan Tim Tagana Kabupaten Hulu Sungai Tengah, berkurangnya jumlah bisa saja dikait-kaitkan dengan longsor tadi,” terang Dillah karena dalam proses pendakian antar rombongan tidak harus saling menunggu. Ada yang duluan dan ada yang tertinggal atau sengaja tidak ingin melanjutkan ke puncak. “Jadi kalau berdasarkan jumlah yang tiba di atas puncak, jelas itu tidak bisa menjadi patokan bahwa adanya korban. Kecuali ada yang melihat langsung. Kenyataan di lapangan, apa yang diberitakan tidak terjadi. Hari ini (18 Agustus-Red), semua peserta sudah kembali  ke desa Kiyu. Artinya tidak ada korban.”

Halau-halau merupakan puncak tertinggi dari jejeran pegunungan Meratus dan setiap tahun baik organisasi mahasiswa pecinta alam atau pecinta alam di luar kampus rutin melakukan pendakian untuk mengibarkan bendera merah putih dalam rangka peringatan 17 Agustus.

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*