Mangangarun, Potret Rutinitas Urang Banjar

Sambungan Tulisan “Urang Banjar Mangangarun”

CLICKBORNEO.COM – Apa yang dilakukan oleh Bi Inah dan Amat adalah kerja rutin sepanjang tahun. Bilamana musim panen tiba, berduyun-duyunlah para penjual jasa pemanen padi berlabuh dari Hulu Sungai. Apalagi jika keaadaan sedang paceklik, tren tersebut semakin meningkat. Tambahan pula berkumpul sesama pemanen padi banyak pula suka dukanya.

panen padi 2

Mereka berkumpul dengan penjual jasa yang sama dari berbagai daerah. Tua muda besar kecil, dari berbagai status. Ada janda ada duda. Ada perawan tingting, perawan tua dan banyak pula  pemuda belia. Mereka yang kebetulan drop out juga tidak sedikit di sini. Ada keragaman status tapi sekaligus  juga keseragaman nasib. Mereka sama-sama berasal dari golongan ekonomi bawah. Ekonomi lemah, yang tak kunjung kuat.

Meskipun bergaul sesama  pemanen cukup ramai dan bisa memungkinkan untuk terus berlanjut, namun Bi Inah dan Amat bekerja lebih serius. Mereka tinggal di satu rumah. Bi Inah yang cukup cepat memainkan ani-ani (ranggaman), per hari bisa beroleh 5 sampai 6 belik. Upah yang ia peroleh lumayan, tidak termasuk makan tiga kali sehari. Tentu saja, sesuai peraturannya, mereka yang memanen dan mereka pula yang ”bairik atau marapai”. Sementara itu Amat  yang gagah dan kekar, memilih memanen dengan pakai arit. Perolehnya bisa lebih banyak, bahkan sampai 10 belik/hari.

Karena bekerja keras tiap hari, tentu saja mereka didera kelelahan. Namun semangat  tinggi untuk mengumpul uang dan membawanya pulang, mampu meredam kelelahan itu. Untungnya Pak Haji tempat mereka ”berjasa” cukup paham. Selain ada hiburan TV  rutin, sesekali Pak Haji juga menyembelih itik/ayam sebagai menu ekstra anak buahnya. Pak Haji ini tidak mau meniru sebagian ”majikan” lain yang terlalu perhitungan: yang tega kasih ikan asin sebagai menu rutin tiap hari. Ditimpali beras  hanyar Unus atau Siam atau Karangdukuh, memang lauk ikan asin pun terasa enak. Cuma kalau ada lauk-pauk selingan tentu lebih enak lagi.

 

Terus berlanjut

   Selang dua bulan lebih, musim panen mulai berlalu. Bi Inah dan Amat, masing-masing bisa mengantongi uang lumayan, ditambah beberapa belik padi. Perolehan ini gabungan dengan pemberian zakat dari Pak Haji, yang tahun itu beruntung karena bisa memanen lebih 1.000 belik dari puluhan hektar sawahnya.

   Sebelum pulang Bi Inah dan Amat sempat istirahat beberapa hari, meluruskan tulang yang bengkok dan menstabilkan urat yang pegal-pegal linu. Dalam waktu seperti ini sebenarnya para pemanen bisa bergembira ria, berkomunikasi ria dan saling kenalan. Bagi yang ada hati bisa melanjutkan affairnya. Tidak jarang momen seperti ini bisa juga jadi arena jodoh. Atau minimal bisa berkontrak surat atau saling berkirim lagu via radio sepulang nantinya. Kala itu belum ada hp untuk berhalo-halo SMS. Telpon rumah saja amat langka. Hanya urang sugih yang punya, itu pun di kota.

Peluang ini tidak menarik bagi Bi Inah. Suaminya dulu juga ia peroleh ketika sama-sama jadi pemanen/pengetam padi. Mereka melanjutkan hubungan cintanya sampai ke pelaminan. Bahkan membuahkan dua anak, Ifah dan Miah yang manis-manis. Sayang suaminya itu kurang bertanggung jawab. Bahtera rumah tangga mereka hancur berantakan di tengah jalan. Mungkin karena kesialan bagi Bi Inah, mungkin pula karena goresan nasibnya yang memang begitu. Tapi Bi Inah tidak menyesalkan semua itu. Ia terima dengan tabah, setabah nurani kewanitaannya yang kenyang dengan asam garam kehidupan.

   Karena itu, hanya Amat yang bisa berhibur bersama kawan-kawan sebayanya. Bi Inah hanya tinggal di rumah, sambil mengemasi barang untuk pulang. Waktu sehari dua, digunakan oleh Amat untuk melihat-lihat kota Banjarmasin. Ia  melihat sejumlah hotel, gedung dan mall yang menjulang melebihi rumah-rumah dan kantor-kantor sekitarnya. Tidak lupa ia jalan-jalan ke beberapa mall untuk cuci mata sekaligus mencari pengalaman agar nanti dapat diceritakan kepada teman se kampung,.

 Ia sempatkan membeli celana blujin dan beberapa potong pakaian/kemeja. Terbayang olehnya, betapa kota Banjarmasin sudah semakin metropolistis. Ia tentu tidak bisa membandingkan dengan Jakarta, dengan gedung-gedung pencakar langit, jalan tol atau jembatan layang yang berseliweran di ibukota dan sekitarnya. Baginya Banjarmasin sudah cukup ”wah”. Ada rasa kagum bercampur bingung. Ada rasa  inferior dalam dirinya. Terbayang nasibnya sebagai pemuda drop out.  Hanya bisa melihat, tanpa bisa menjangkau.

  Akhirnya ia pun pulang, bersama Bi Ina. Beberapa lamanya ia bisa bernafas lega di kampung. Menikmati perolehannya sebagai buruh pengetam padi. Tapi lama-kelamaan uang itu pun makin menyusut. Uang perolehannya memang lumayan bagi mereka, tak seperti orang kota yang hanya menghabiskannya empat lima hari. Bi Inah sempat ”melikitakan” uang membeli kalung mas barang dua tiga gram.

Cuma bagi Amat uangnya ludes tanpa terasa. Terbayang olehnya suka duka di arena panen. Teringat pula ia kesan sewaktu menonton Catatan Si Boy (Cabo I dan II), namaku Joe, Salsa dan sebagainya, yang tak sedikit banyak menguras koceknya. Sebagian uangnya sempat singgah di Presiden dan Banjarmasin Theatre. Tidak seperti tahun sebelumnya ia lebih suka memilih nonton di gedung yang murah meriah, Kamaratih dan Remaja Theatre atau paling banter ke Mujadi Theatre. Ia menganggap bioskop-bioskop itu adalah mesin uang yang tak ada matinya. Ia tak pernah membayangkan suatu saat kelak, bioskop-bioskop itu pun tak ada lagi di Banjarmasin, dan berganti dengan bioskop (TV besar) yang sudah masuk ke rumah-rumah dan kamar-kamar.

 Tidak sampai sebulan kantong Amat pun terserang kanker lagi. Penyakit menahunnya kambuh lagi. Uangnya makin menipis, dan akhirnya habis. Hanya ada satu yang tidak habis dan terus berlanjut. Tahun depan, ia dan Bi Inah akan labuh lagi.

Keadaan akan menghantarkannya terus begitu, sampai tua. Si kecil Ifah dan Minah pun tak mustahil ikut seperti ibunya. Apalagi mengubah nasib memang tidak mudah, meski tidak mustahil. Mengubah nasib memang tidak semudah memakan uang perolehan mengetam. []

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*