Makna Piduduk Ketika Bapalas Bidan

CLICKBORNEO.COM – Meski perkembangan ilmu kedokteran kini semakin pesat, namun pada keluarga tertentu, khususnya yang bermukim di pedesaan masih saja ada yang meminta bantuan dukun beranak atau bidan kampung dalam proses persalinan. Konse­kuensi berikutnya, setelah bayi lahir ada beberapa upacara yang harus mereka kerjakan.

Piduduk

Seperti penyerahan piduduk kepada bidan yang telah membantu kelahiran itu. Piduduk tersebut terdiri dari beras, kelapa, gula merah, jarum, benang, serta uang bengolan yang ditaruh di dalam bakul atau nampan tembaga.

Sejak bayi lahir dan masih dalam pengasuhan bidan kampung, selama itu pula piduduk diletakkan di dekat lampin ketiduran bayi. Sampai kapan bayi itu dipercayakan dalam perawatan bidan sepenuhnya tergantung kesepakatan pihak keluarga, asal tidak lebih dari 40 hari.

Piduduk itu baru diserahkan kepada bidan bersangkutan, apabila pihak keluarga yang melahirkan benar‑benar merasa siap untuk merawat sendiri momongannya.

Dalam masyarakat Banjar, pemberian piduduk ini bukan sekadar tanda balas jasa, juga mengandung simbol‑simbol tentang suatu pengharapan.

“Beras dimaksudkan agar kelak si anak selalu berkecuku­pan dalam memenuhi kebutuhan pokok, terutama makanan. Kela­pa, karena banyak mengandung lemak diharapkan si bayi akan cepat tumbuh subur. Gula merah, supaya kalau besar omongan si anak mengandung tuah alias berwibawa serta disegani oleh orang‑orang di sekitarnya. Uang bengolan, agar anak yang bersangkutan murah rejeki dan suka berderma. Sedangkan benang (makin panjang makin baik) yang dimasukkan ke lobang jarum, maknanya ialah supaya panjang umur dan punya tujuan hidup yang pasti,” jelas Hj Nur Aisah, warga Anjir Mambulau Tengah.

[sws_related_postleft showpost=”3″ title=”BACA JUGA:” bgcolor=”0a59c1″ fontcolor=”ffffff”] [/sws_related_postleft] Bahkan, menurut ibu dari delapan anak ini, dalam ma­syarakat Dayak rupa‑rupa piduduk itu lebih rumit. Karena musti ditambah lagi dengan rempah‑rempah dan seekor ayam.

Ia sendiri, waktu melahirkan anak pertama, sama sekali awam dalam hal pemberian piduduk. Dikiranya, begitu mela­hirkan, maka selesailah tugas seorang ibu, tinggal mengasuh dan membesarkan si anak. Tidak tahunya, justru mertuanya yang sibuk mengurus masalah piduduk.

Masih satu rangkaian dengan penyerahan piduduk ialah bapalas bidan. Sebelum bayi diserahkan kepada si ibu, bidan melakukan tapung tawar. Banyu tatungkal yang terbuat dari putih telor dan air daun pandan dipercikkan ke seluruh ruangan tempat bayi. Maksudnya, agar si bayi nanti tidak mudah sakit‑sakitan ataupun diganggu makhluk jahat. Sekaligus menandakan bahwa tanggung jawab bidan kampung terhadap bayi telah berakhir detik itu juga.

Setelah itu, baru diselenggarakan akad serah‑terima bayi antara bidan dengan ibu yang melahirkan. []

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*