Madihin, Kocok Perut Penonton

Banyak kesenian tradisional Banjar yang terancam punah, bahkan sekarang cuma tinggal nama. Hanya sedikit yang mampu bertahan, di antaranya adalah seni madihin. Meski tidak sesering dulu, madihin kadang masih ditampilkan pada acara-acara tertentu.

 MadihinAda yang mengatakan madihin itu berasal dari kata madah, yaitu jenis puisi lama atau syair yang kalimat akhirnya memiliki persamaan bunyi. Buktinya, ciri utama tersebut juga melekat erat pada seni madihin. Bedanya, kalau syair sekadar disenandungkan, sementara madihin diiringi dengan tabuhan rebana atau tarbang.

Sebagian lagi menyebutkan, istilah madihin berasal dari “madahi” alias menasihati.  Pendapat ini pun bisa diterima, karena isi madihin sarat dengan berbagai petuah.

Untuk menggelar madihin, pihak penyelenggara tidak perlu repot. Cukup menyediakan panggung sederhana, kursi, dan mikropon. Sedangkan alat tarbang dibawa sendiri oleh si pamadihinan. Pertunjukkan madihin umumnya digelar di lapangan terbuka, di halaman rumah, atau di depan kantor. Belakangan, bisa pula di dalam gedung. Perihal tempat, fleksibel saja – yang penting mampu menampung banyak penonton. Begitu pula soal waktu, tergantung permintaan panitia.

Awalnya madihin untuk menghibur raja dan pejabat istana. Dalam perkembangan berikut, madihin menjadi hiburan (karasmin) masyarakat. Misalnya, untuk memeriahkan acara pengantinan, baramian setelah panen, memperingati hari besar daerah dan nasional. Madihin sering pula digelar karena tuan rumah punya nazar atau hajat tertentu, seperti khitanan anak. Madihin juga dapat berfungsi sebagai media informasi. Lewat madihin pemerintah mensosialisasikan program-program pembangunan kepada masyarakat luas.

Karena itu, sebelum tampil si pamadihin terlebih dulu harus tahu tema apa yang dikehendaki oleh pihak pengundang. Dengan begitu dia bisa menyusun larik-larik sesuai yang diharapkan.

Seorang pamadihin di samping hafal syair di luar kepala, juga piawai  berimprovisasi. Sehingga, ia mampu menghidupkan suasana dengan melontarkan puji-pujian dan lelucon yang dialamatkan secara khusus kepada beberapa penonton yang dia kenal. Makanya, rata-rata masyarakat Banjar menyukai madihin. Mereka merasa terhibur dan tidak mudah suntuk menyaksikan madihin. Bahkan, ada yang sampai tertawa terpingkal-pingkal. Sebab, pemadihin pandai menarik perhatian penonton dengan humor-humor segar.

Madihin sendiri bisa dibawakan secara tunggal  maupun duet. Kalau tunggal, maka si pemadihin dituntut agar pandai mengubah suaranya, seolah ada dua karakter yang berbeda. Sedangkan kalau berpasangan, bakal lebih heboh lagi. Soalnya, mereka bisa bersahutan, saling sindir dan ejek-mengejek. Satu sama lain berusaha untuk mengalahkan, beradu kehebatan lewat syair yang dibawakan.

Selain pandai merangkai syair, memiliki suara yang lantang dan merdu, si pamadihin juga dituntut terampil memukul tarbang. Ia harus menguasai pukulan berbagai jenis irama. Sebab, dalam madihin ada bagian pembuka, bagian memecah bunga, bagian menyampaikan isi pesan, dan penutup. Masing-masing itu punya ciri pukulan yang berbeda-beda.

Di Banjarmasin pamadihinan yang terkenal adalah H John Tralala dan putranya Hendra. Mereka sering diundang tidak hanya di Kalimantan, juga di tingkat nasional. Bahkan dulu presiden Soeharto merasa terhibur dan terkesan dengan madihin yang mereka bawakan, sehingga orang nomor satu di zaman Orde Baru itu menghadiahi keduanya tiket gratis berhaji. []

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*