Maantar Patalian dan Jujuran

CLICKBORNEO.COM – Sebagai bukti keseriusan pihak laki-laki sekaligus tanda pengikat agar si gadis tak lagi menerima lamaran lain sesuai pembicaraan sewaktu badatang dan bapayuan, maka prosesi berikutnya adalah maantar patalian. Dengan demikian resmilah pertunangan tersebut. Biasanya diikuti oleh para ibu-ibu dari kedua belah pihak, baik tetangga maupun kenalan, supaya orang-orang tahu bahwa mereka sudah punya ikatan pertunangan.

Jujuran

Barang-barang yang diberikan pada waktu maantar patalian, di antaranya seperangkat pakaian seperti baju, rok, tapih, serudung, BH, selop, make up, dan lainnya buat keperluan si gadis yang dilamar. Lazimnya pakaian yang diserahkan itu saraba talu atau masing-masing berjumlah tiga .

Maantar patalian ini bisa satu paket, bisa pula terpisah dengan maantar jujuran. Kalau rentang waktu perkawinan masih lama, biasanya maantar patalian didahulukan sebagai ‘tanda jadi’. Sedangkan jika akad nikah mau secepatnya dilaksanakan, maantar patalian dan jujuran dijadikan satu acara, sehingga lebih efektif.

Maantar Jujuran

Sebelum berangkat bubuhan pengantar jujuran berkumpul di rumah pihak laki-laki. Sebuah talam berhias berisi mangkok berbentuk ayam jantan (hahayaman) wadah menyimpan uang jujuran serta mangkok biasa tempat beras, kunyit, dan bunga rampai, segera disiapkan. Tak ketinggalan pula talam berhias untuk meletakkan bedak beras, beragam alat kosmetik lainnya,  rarampah dapur saraba sadikit, ditambah dengan sebuah baskom berisi beras, kelapa, gula merah, tunas pisang berbalut kain kuning, serta ruas bamban. Termasuk, kopor pakaian tempat menyimpan pangiring.

Setelah para tamu berdatangan dan tidak ada lagi yang ditunggu, maka dibacakanlah doa selamat. Acara diakhiri dengan menyantap hidangan yang disediakan tuan rumah. Selanjutnya, sepuluh orang pria yang bertugas membawa talam-talam tadi pun menuju kediaman si gadis.

Menurut adat Banjar, uang jujuran yang baru diserahkan dimasukkan ke dalam bakul bamban yang sudah dihias. Bakul tersebut kemudian diisi beras kuning dan bunga rampai,lalu diaduk pakai wancuh (sendok besar), sehingga uang jujuran, beras kuning dan bunga rampai tadi jadi satu. Berikutnya, perwakilan dari pihak si gadis mengambil uang jujuran dan menghitung di depan undangan yang hadir. Kalau jumlahnya sesuai kesepakatan semula, maka uang itu dimasukkan kembali ke bakul  dan diserahkan kepada orangtua si gadis. (ali)

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*