Kontrol Pikiran, Kendalikan Rasa Marah

Risa merasa dirinya memiliki kebiasaan buruk yang sulit diatasi. Risa selalu ingin marah. Apalagi kalau sepulang kerja (terutama saat Risa naik jabatan sehingga pekerjaan semakin banyak dan bertumpuk). Ketika pulang ke rumah, Risa sering marah-marah dengan kelakuan kedua adiknya yang masih duduk di bangku sekolah. Pembantu pun juga kena getahnya. Tidak hanya itu, hubungan Risa dengan pacarnya sering kali diwarnai perdebatan. Risa mudah sekali merasa ada yang tidak beres sehingga dirinya merasa sulit untuk menahan kemarahan dirinya. Jika Risa merasa kepalanya panas membara, berdenyut-denyut maka marah tidak akan terbendung lagi. Risa merasa yakin kalau menumpahkan kemarahan akan lebih baik daripada menimbunnya.

Menyimpan sekantung kemarahan sebenarnya seperti menyimpan sekantung sarang lebah yang siap untuk menyengat kesana-kemari terutama merusak sumber kemarahannya. Marah juga dapat diibaratkan sebagai bom waktu, tinggal menunggu waktu saja maka akan dapat meledak. Namun untuk mengendalikan marah memang merupakan masalah yang tidak mudah. Apa yang sedang melanda Risa dapat dialami oleh siapa saja. Padahal, tidak ada seorang pun yang tahu kalau marah bukan hanya merugikan orang lain namun juga dapat merugikan diri sendiri.

Ketika marah, berbagai hormon dan organ pada tubuh sebenarnya dipaksa untuk bekerja luar biasa beratnya. Bahkan, jika marah telah dikombinasikan dengan kebencian bahkan dapat berakibat pada penyakit jantung. Hal tersebut dikarenakan reaksi emosi yang keras dan kronis dapat merusak pembuluh jantung dan bisa membiakkan penyakit berbahaya lainnya, begitulah yang ditulis oleh Dr. Redford William di buku “berdamai dengan stress”.

Jadi, jika marah apa kah lebih baik “diledakkan” saja? Pertanyaan seperti itu sebenarnya sulit untuk dijawab. Pelampiasan rasa marah yang dinilai sebagai langkah jitu untuk meredakan emosi sebenarnya tidak sepenuhnya efektif. Jika seseorang marah dan melampiaskan tanpa berpikir terlebih dahulu seringkali akibat yang dirasakan adalah perasaan tidak suka sehingga dapat menghapus rasa cinta kasih.

Dr Dyer, seorang pakar kesehatan mental menyatakan bahwa ketika seseorang marah, maka di dalam pikirannya terdapat pertanyaan: “Mengapa sih orang ini tidak paham denganku?” atau “Mengapa sih orang ini tidak seperti aku?” Akibatnya, seseorang yang marah cenderung tidak menyadari bahwa keinginan satu orang dengan yang lainnya itu berbeda-beda. Sehingga tidak mungkin apa yang diinginkan oleh satu orang harus dan pasti terjadi. Bahkan yang lebih banyak terjadi, justru tidak seperti yang diinginkan oleh orangg tertentu saja. Jadi, sebenarnya haruskah kita melampiaskan kemarahan terhadap perbedaan ini?

Terdapat empat hal sederhana yangdibuktikan efektif dan dapat digunakan untuk meredakan rasa marah. Cara tersebut dapat dilakukan agar seseorang merasakan relaksasi dalam pikiran dan tubuh. Cara ini dapat dengan mudah dilatih, yaitu :

  1. Menutup mata.
  2. Menarik napas secara mendalam. Aturlah napas secara teratur dan berulang.
  3. Menenagkan tubuh. Dapat dilakukan dengan duduk atau berbaring lalu rentangkanlah kedua tangan dan kaki dengan nyaman.
  4. Luangkan lah waktu dengan alam, baik dalam kenyataan maupun hanya di dalam imajinasi.

Selain melakukan teknik relaksasi sederhana diatas, ketika sedang diliputi rasa marah cobalah untuk menggunakan cara pengendalian pikiran. Psikolog Leila Ch Budiman mengatakan bahwa ada beberapa kiat pengendalian pikiran yang dapat dilakukan, yaitu :

  1. Mengingat bahwa jika ada orang lain yang konyol, tidak melukai keselamatan diri dan harga diri kita, kenapa kita harus sewot?
  2. Ketika diliputi rasa marah hanya akibat emosi atau pikiran yang sedang kalut, ingatlah kalau kita hidup bersama orang lain. Yang perlu kita lakukan adalah berusaha menempatkan diri kita dalam lingkungan orang lain. Tidak ada orang suka dimarahi tanpa alasan yang jelas lho!
  3.  Jangan merasa benar dengan kebiasaan suka marah. Seseorang yang hidup bersama kita memiliki hak untuk tidak setuju atau tidak sependapat dengan diri kita, jadi tidak perlu naik pitam secepat kilat bukan?
  4. Minta lah orang terdekat dan dapat dipercaya dalam usaha meredakan atau menunda rasa marah. Mintalah dukungan dengan minta diingatkan jika rasa panas sudah naik ke kepala.
  5. Menertawakan diri sendiri. Kok serius betul sih jadi orang? Cobalah berbahagia dengan mentranseder diri sendiri pada tempat dan waktu dimana kita berada. Cobalah gerak kan senyum ketika rasa marah atau kesal menyerang. Gerakan senyum tersebut dapat merangsang serombongan saraf tertentu sehingga tubuh dan pikiran dapat merasa lebih santai. []

Photo: tenkup.com

One Response to Kontrol Pikiran, Kendalikan Rasa Marah

  1. novia dolorosa

    senang bisa membaca tulisan kamu,setidaknya aku yg hampir depresi inimau mencoba berdamai dgn pikiran sndri dan coba tidak ego lg.really tx

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*