Komitmen Perjuangan Urang Banjar Era Hassan Basry

Oleh: Ahmad Barjie B

CLICKBORNEO.COM –  Masyarakat Banjar Kalimantan khususnya Kalsel patut berbangga, karena salah seorang putra terbaiknya Brigjen (Purn) H. Hassan Basry, melalui Keputusan Presiden  RI Nomor 110/TK/2001 tanggal 3 November 2001 telah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

Hassan Basry yang menurut catatan Syamsiar Seman lahir di Padang Batung Kandangan 17 Juni 1923 dan wafat di Jakarta 15 Juli 1984, juga digelari Bapak Gerilya Kalimantan, diabadikan menjadi nama salah satu kapal perang  (KRI), nama sejumlah jalan atau lainnya.

Ziarahrah

Belakangan mantan Ketua MUI KH Hasan Basri yang juga berdarah Banjar dan Kalteng, ikut mengharumkan nama daerah di pentas nasional karena juga dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Tidak sedikit orangtua memberi nama anaknya Hasan (Hassan) Basry (Basri) dengan harapan figure ketokohan dan keulamaan keduanya menetes kepada anak-anak mereka.

Walau beberapa buku dan tulisan pernah disusun mengenai perjuangan urang Banjar melawan penjajah, kesannya masih kalah heroik dibandingkan perjuangan di tanah Jawa. Para pelajar, mahasiswa, pemuda dan kita semua selama ini lebih sering disuguhi bahwa perjuangan besar melawan penjajah (Belanda dan Jepang) lebih banyak terjadi Jawa, misalnya peristiwa Arek-arek Suroboyo 10 November, Palagan Ambarawa, Bandung Lautan Api, Serangan Enam Jam di Yogya dan sebagainya. Buku sejarah memang sangat sentralistik kejawaan dan banyak disusun penulis Jawa, sehingga banyak peristiwa heroik di luar Jawa kurang terkover, atau hanya terliput sedikit.

Kedahsyatan pertempuran-pertempuran di Jawa memang tidak kita sangsikan, misalnya dalam peristiwa 10 November, tentara Sekutu yang menang perang Pasifik melawan Jepang justru terpaksa mengakui kegigihan pejuang kita, sampai-sampai seorang komandannya, Jendral Mallaby tewas, suatu hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Tetapi kegigihan pejuang di tanah Banjar tidak pula kurang dahsyatnya, dan mampu membuat Belanda pusing tujuh keliling. Belanda sempat berencana melakukan pembersihan dan pembantaian urang Banjar dengan mendatangkan Raymond Westerling yang sukses melakukan hal sama di Sulawesi melalui peristiwa “Korban Empat Puluh Ribu’. Kalau tidak terdesak oleh pengakuan kedaulatan pasca Konferensi Meja Bundar, tidak mustahil banyak uang Banjar yang dibantai.

Sebenarnya Belanda kewalahan, sehingga mengusulkan cease fire (genjatan senjata), dan meminta pusat menjadi mediator dengan pejuang Kalimantan, padahal secara de facto Belanda tidak mengakuinya sebagai bagian NKRI. Genjata senjata di Munggu Raya Kandangan 2 September 1949 dihadiri banyak delegasi, yaitu pihak Belanda (Residen AG Deelman cs), Komisi Tiga Negara (Kolonel Neals dari Australian Army), Jenderal Mayor Suharjo Harjowardoyo cs dari pemerintah pusat, Letkol Hassan Basry cs dari ALRI Divisi IV (A) Pertahanan Kalimantan, para wartawan, dll. Jadi keinginan genjata senjata bukan dari kita, tetapi dari Belanda yang tidak sanggup lagi menghadapi gigihnya perlawanan rakyat Banjar.

Blokade hebat

 Beratnya perjuangan rakyat Banjar khususnya ketika era revolusi fisik 1945-1949, terutama disebabkan sulitnya komunikasi dengan Jawa. Hassan Basry yang pernah mengetuai Pemuda Republik Indonesia Kalimantan (PRIK) di Jawa Timur, sebab saat muda sekolah di Gontor, ketika berjuang di Kalimantan lebih memfokuskan berkoordinasi sesama pemimpin pejuang lokal. Komunikasi ke luar sangat sulit, sebab dalam Perjanjian Linggarjati dan Renville, Belanda secara de facto hanya mengakui NKRI atas Jawa dan Madura, sedangkan Kalimantan ingin dipisah. Pembentukan ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan oleh Hasan Basry cs dibangun di atas keyakinan untuk ikut mengawal dan mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945 yang berada dalam bahaya, serta memastikan Kalimantan tetap menjadi bagian integral NKRI.

Sejalan seretnya komunikasi, transportasi laut untuk kepentingan perjuangan juga sangat sulit. Hassan Basry cs kesulitan mendatangkan bantuan persenjataan dari Jawa, karena ketatnya blokade laut. Pernah pula diupayakan lewat Balikpapan, juga tidak berhasil. Ini karena pulau Kalimantan terletak di tengah, dikelilingi laut. Beda dengan Sulawesi penyelundupan senjata masih bisa ditembus lewat Utara (Filipina) atau dari kawasan Timur yang relatif longgar. Jawa walau ketat, tetapi suplai senjata dari luar masih berjalan. Bahkan satu pesawat dari India berisi penuh senjata berhasil diselundupkan.

Langkanya persenjataan pejuang, sementara tentara Belanda yang dihadapi lebih unggul di segi jumlah personel dan persenjataan, maka pejuang kita hanya mengandalkan senjata yang sangat sedikit, senjata hasil rampasan, dan selebihnya berinisiatif sendiri membuat senjata rakitan. Kebetulan Negara (Daha Utara dan Selatan sekarang) telah lama terampil merekayasa besi untuk berbagai peralatan. Maka di era perjuangan fisik ini selain dibuat senjata tajam parang, badik, keris, tombak, serapang, pedang, mandau, kelewang dan sejenisnya, juga dibuat senjata api rakitan cukup mematikan yang disuplai untuk pejuang. Itu sebabnya Belanda sangat marah dengan urang Negara dan mencapnya sebagai biang kerok perlawanan. Pedagang Negara yang cukup makmur ikut pula memasok dana dan logistik. Lambran Ladjim, seorang saksi sejarah sempat menyaksikan Mr Van der Plas utusan NICA Belanda menghadap KH Jakfar di Pandak Daun Negara membujuknya dengan iming-iming jabatan Qadhi, hadiah mobil dan gaji besar agar dapat mengerem perlawanan Rakyat, namun KH Jakfar menolak. Terjadinya Palagan Negara 2 Januari 1949 juga terkait dengan kekesalan Belanda tersebut, dengan harapan suplay senjata, logistik dan perlawanan terhenti. []

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*