Kitorang Basudara, Kisah Kerukunan Banjar – Dayak

Oleh: Ahmad Barjie B

CLICKBORNEO.COM – Ungkapan “kitorang basudara” (kita orang bersaudara) banyak digunakan masyarakat di kawasan Indonesia Timur, khususnya Ambon-Maluku, Papua (Irian) dan sebagian Sulawesi. Selama berabad-abad persaudaraan antaretnis dan agama di kawasan tersebut terpelihara dengan baik. Sayang sekali karena provokasi, persaudaraan tersebut sempat ternodai oleh konflik bernuansa SARA yang sangat berdarah-darah, dan belum sepenuhnya pulih hingga kini.

Dayak Banjar

Sebagai negara yang pluralistik dilihat dari suku, agama, ras, bahasa, adat istiadat dan daerahnya, dan hidup dalam ribuah pulau, sudah pasti antarsuku terjadi interaksi dan korelasi. Secara sosiologis, interaksi tersebut dapat saja mengerucut menjadi persaingan dan konflik karena berbagai faktor, tetapi secara positif juga dapat menimbulkan kooperasi yang konstruktif, sehingga terjadi take and give, saling mengisi dan melengkapi kekurangan dan kelebihan masin-masing.

Terjadinya konflik bernuansa SARA di beberapa daerah tahun-tahun lalu, saya kira selain dipicu provokasi eksternal, juga karena gagalnya membangun hubungan saling menguntungkan antarsuku dan agama di daerah bersangkutan. Agar peristiwa serupa tidak terulang, semua pihak perlu banyak introspeksi dan belajar dari mana saja, sehingga tumbuh sikap-sikap toleran, kooperatif dan konstruktif dalam membangun kehidupan yang rukun, damai dan adil dalam bingkai NKRI.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangan masing-masing etnis, persaudaraan etnis Banjar dengan Dayak yang selama ini terjalin mesra tanpa cacat, patut sekali dijadikan cermin atau referensi. Bung Marko Mahin, dosen STT-GKE Banjarmasin, menulis di BPost edisi Sabtu 24 Desember 2005 berjudul: “Putri Banjar di Tanah Dayak”. Tulisan Marko tersebut sangat menarik dan simpatik, padat dengan informasi masa silam yang jarang diketahui orang masa kini. Termasuk saya yang berasal dari Pasintik-Kelua Tabalong, yang relatif berdekatan dengan perkampungan komunitas Dayak di Pasar Panas, Bagok, Pupuh, Bamban, Jaar, Tamiang Layang dst. Salah satu titik lemah generasi kini adalah terjadinya generation gap dengan generasi masa silam, terutama di segi pengenalan terhadap sejarah klasik, cerita-cerita rakyat (folklor) dan sejenisnya, karena kurangnya dokumen historis tertulis tentang itu. Tulisan Bung Marko sedikit banyaknya menjembatani gap tersebut.

[sws_related_postleft showpost=”7″ title=”BACA JUGA” bgcolor=”0a59c1″ fontcolor=”ffffff”] [/sws_related_postleft] Semangat kebersamaan

Minimal dua benang merah yang dikemukakan Marko berkenaan dengan eratnya persahabatan antara etnis Banjar dengan Dayak, khususnya Dayak Ma’anyan di Kalteng. Pertama, secara historis Putri Mayang Sari yang berkuasa di Jaar-Sangarasi (Sanggar Wasi?), adalah putri dari Raja Banjar Islam pertama (Sultan Suriansyah) dari istri keduanya Norhayati yang berdarah Dayak, cucu Labai Lamiah tokoh Islam Dayak Ma’anyan. Walau Mayang Sari beragama Islam, dalam memimpin sangat kental dengan adat Dayak, senang turun lapangan mengunjungi perkampungan Dayak, dan sangat memperhatikan keadilmakmuran masyarakat Dayak di masanya, sehingga ia sangat dihormati dan makamnya diabadikan dalam Rumah Adat Banjar di Jaar.

Dapat ditambahkan, eratnya persahabatan Banjar-Dayak, juga karena kedua suku ini terlibat persekutuan erat melawan Belanda dalam Perang Banjar. Umum diketahui, setelah terdesak di Banjarmasin dan Martapura,  Pangeran Antasari, pengikut dan keturunannya mengalihkan perlawanan ke daerah-daerah Hulu Sungai dan sepanjang sungai Barito sampai ke hulu Barito, di mana beragam etnis Dayak banyak terlibat di dalamnya. Gigih, dahsyat dan survive-nya Perang Banjar tidak terlepas dari andil para pejuang dan masyarakat Dayak. Wajar bila ada yang mengusulkan Perang Banjar lebih tepat bila dinamai Perang Barito, karena yang terjadi sesungguhnya adalah perang koalisi antara etnis Banjar bersama etnis Dayak di satu pihak versus kolonialis Belanda dan antek-anteknya di pihak lain. Sebagaimana watak peperangan pada umumnya, jauh lebih banyak duka daripada sukanya, karenanya etnis Banjar dan Dayak sudah merasa bersaudara senasib sepenanggungan. Harta benda, jiwa-raga, darah dan airmata kedua suku serumpun ini telah sama-sama tumpah di tengah api perjuangan luhur mengusir penjajah.

Kedua, secara sosiologis-antropologis antara etnis Banjar dengan Dayak diibaratkan sebagai dangsanak tuha dan dangsanak anom (saudara tua dan muda). Urang Banjar yang lebih dahulu menjadi muslim, dan kemudian disusul sebagian etnis Dayak yang bahakey (berislam), saling merasa dan menyebut yang lain sebagai saudara. Mereka tetap memelihara toleransi hingga kini. Tiap ada upacara ijambe, tewah dan sejenisnya, komunitas Dayak selalu menyediakan Balai Hakey, tempat orang muslim dipersilakan menyembelih dan memasak makanannya sendiri yang dihalalkan menurut keyakinan Islam. []

One Response to Kitorang Basudara, Kisah Kerukunan Banjar – Dayak

  1. Dayak dan banjar memang bersaudara. Dan daerah pasar panas menjadi miniatur persaudaraan dayak dan banjar

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*