Kisah Korban Pencurian Tuyul

CLICKBORNEO.COM –    Di zaman modern dan serba canggih ini, ternyata masih saja ada orang yang ingin cepat kaya dengan cara memelihara tuyul. Makhluk halus yang digambarkan berkepala gundul dan bertubuh seukuran kanak-kanak. Oleh si empunya, tuyul sering diperintah untuk mencuri uang. Akibatnya, banyak warga sekitar yang kehilangan. 

Tuyul

Adalah Drs H Safriansyah, pada tahun 2002 acapkali mengalami uangnya raib tanpa sebab yang jelas. Awalnya, tuduhan dia alamatkan kepada anak-anaknya sendiri. Tapi, meski gencar dimarahi mereka tetap bersikukuh membantah tidak mengambil uang tersebut. Kejadian serupa bukan cuma satu atau dua kali, melainkan berulang-ulang.

“Suatu hari tetangga datang kepada saya ngasih uang lima ribuan dua lembar, minta dibacakan doa selamat. Tidak lama setelah dimasukkan ke dompet, uang itu hilang. Sejak itulah saya curiga jangan-jangan akibat ulah tuyul,” bebernya.

Semula dia kehilangan uang Rp 10 ribu, kemudian merambat Rp 20 ribu, terus Rp 50 ribu, sampai akhirnya lembaran Rp 100 ribu yang jadi sasaran.

“Saya juga heran, uang yang di dalam lemari kok bisa hilang. Padahal kuncinya di tangan istri saya,” ujar PNS IAIN Antasari, ini.

Pernah ia menerima uang sumbangan untuk masjid Rp 2,5 juta. Mengingat jumlahnya yang besar, Safri berinisiatif menyimpan dalam rumah. Tahu-tahunya kemudian hilang Rp 100 ribu. Terpaksa ia harus mengganti. Pernah pula dari masjid menuju rumah, ternyata di perjalanan uangnya sudah ambyar.

“Bahkan di masjid saat uang sumbangan saya letakkan di dekat buku teks khotbah, tidak lama berselang malah raib. Padahal kala itu tidak ada orang lain,” ungkap Safriansyah.

Karena itu, kalau ada sumbangan langsung dia bayarkan kepada pemilik wantelan, sementara barang-barang untuk keperluan pembangunan masjid diambil belakangan. Ini dilakukan Safri semata untuk mensiasati agar tidak menanggung kerugian akibat dicuri tuyul.

Tanpa Bekas

Peristiwa lain lagi, ketika mau berangkat ke Binuang dia membawa tiga lembar uang duapuluh ribuan. Saat dompet dibuka di tengah perjalanan ternyata uang tersebut sudah ludes tak berbekas.

“Pokoknya hal-hal aneh banyak terjadi. Tetangga saya seorang penjahit horden juga sering mengalami tapi dia tidak mau heboh, takut para karyawannya bakal tersinggung,” tegas warga Antasan Segera Kelayan A, kelurahan Murung Raya, ini.

Karena itu, ketika adiknya yang dari Samarinda bertandang ke Banjarmasin, Safriansyah segera mewanti-wanti supaya berhati-hati, karena kuat dugaan di kampungnya terdapat pemelihara tuyul.

Tetapi, si adik malah menantang dan mengaku punya penangkal tuyul. Bahkan, dia bercerita kalau dulu di Samarinda diketahui ada yang memelihara tuyul, setelah warga sepakat menggelar shalat hajat, rumah si pemilik tuyul itu kebakaran. Tapi, tiga bulan berikut sudah bisa membangun rumah yang lebih megah lagi.

Selasa ketika anak-anaknya masuk sekolah dan Safri di kantor, istri adiknya pulang dari pasar, uang sisa belanja diletakkan di samping tas. Ternyata hilang.

“Andai ada anak saya mungkin mereka yang jadi tertuduh. Malam harinya, kembali uang adik saya raib sebesar Rp 120 ribu. Coba, bagaimana tidak sedih,” ujar Safri.

Pernah dalam sehari lima keluarga di kampung itu yang kehilangan. Salah satunya mahasiswa Tarbiyah IAIN yang mau berangkat KKN ke Tanjung. Uang dia ludes tak berbekas sebanyak Rp 60 ribu, padahal dia dari keluarga miskin.

Saking emosinya Safri lalu mengumumkan lewat corong mike masjid, menyinggung si pemilik tuyul agar kalau mau mencuri jangan di kampung lebih baik ke Mekkah.

“Menurut teman saya yang awas melihat hal-hal gaib di kampung saya memang ada orang yang memelihara tuyul, dia mengaji ilmu pesugihan di Jawa,” ungkapnya. []

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*